Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
"Boleh aku tanya, sejak kapan kamu suka sama aku ?" Denise dapat meraba kegugupan Ferry dari tawanya yang samar-samar di ujung telepon.
"Sebelumnya sih, sudah sempat memperhatikan kamu. Tapi sejak kamu melemparku dengan kotak pensil, aku jadi benar-benar tidak bisa melupakanmu."
"Lho, kok bisa?"
"Ya..hmm...aku belum pernah ketemu cewek seberani kamu."
"Oh..."Denise tersenyum kecil. Ada rasa bangga di hatinya
"Jadi, apa kamu sudah punya jawaban untukku?"
"Hm..ya.."
"Apa?"
"Itu jawabannya, iya."
"Bener?"
"Ya, bener."
"Wah, makasih. Aku senang sekali."
Denise tersenyum simpul. Ia tidak sabar ingin ke sekolah besok, tidak sabar ingin semua anak di sekolah tahu dia punya pacar, tidak sabar ingin menikmati popularitasnya. Mulai besok, ialah yang akan menjadi bahan gossip, ia yang akan dibicarakan seantero sekolah.
Ia tidak pernah memberitahu siapa pun, hanya Dinda. Denise juga tidak bisa membayangkan kalau Dinda bergosip dan menyebarkan kabar tentang dirinya. Dinda bukan orang seperti itu. Mungkin ada beberapa orang yang melihatnya naik mobil Ferry sepulang sekolah. Sudah beberapa kali dia pulang sekolah diantar Ferry dan supirnya. Telepon dari Karen-lah yang membuatnya sadar kalau berita tentang dirinya sudah menyebar.
Karen mengajaknya keluar, nongkrong di Mal Taman Anggrek. Ia pun mengajak Dinda untuk ikut pergi dengannya.
"Nggak deh, Nis, kamu saja yang pergi. Aku nggak ikut."
"Lho, kenapa ?!" Denise terkejut. Baru sekali ini Dinda menolak untuk bepergian dengannya. Mereka makan siang berdua, pulang sekolah berdua. Kadang-kadang ia bahkan meminta Ferry untuk mengantar Dinda pulang juga
"'Kan Karen ngajak kamu, bukan aku."
"Iya, tapi 'kan aku ngajak kamu. Rita dan Novi juga pasti ikut."
"Ya, mereka 'kan memang selalu sama-sama."
"Lho, kita juga selalu pergi sama-sama. Ayolah....nggak apa-apa kok. 'Kan Karen teman Gereja kamu, Din."
"Nggak Nis, aku nggak ikut."
"Ayolaaahhh Diiin..kenapa siih kamu ini...Aku juga nggak terlalu suka sama Karen dan gank-nya...tapi sekali-sekali nongkrong sama mereka 'kan nggak apa-apa...Temani aku dooongg..." rajuk Denise. Ia sebenarnya malas kalau pergi hanya untuk bertemu dengan Karen dan teman-temannya. Tapi kalau pergi dengan Dinda, mereka bisa pergi dan pulang berdua naik taksi, bisa nongkrong lagi sesudahnya.
"Denise...mereka itu ingin berteman dengan kamu, bukan aku."
Denise kaget mendengar ucapan Dinda yang tegas.
"Mereka nggak mengharapkan aku datang. Percaya deh."
"Din...kamu kok bisa ngomong seperti itu ?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Denise, aku nggak bodoh. Kamu juga seharusnya sudah merasakan itu dari semula. Mereka ingin berteman dengan kamu yang berani melempar cowok dengan kotak pensil, dengan anaknya yang punya koper Prime, Denise yang pacaran sama Ferry....Kalau kamu tiap kali ngajak-ngajak aku...aku jadi merasa nggak enak. Bukan aku yang mereka inginkan Nis."
"Dinda..." Selama ini ia berusaha menutup mata. Ia ingin selalu berbagi dengan Dinda. Ia bahkan lebih menikmati acara membahas kencannya dengan Dinda, lebih dari kencan itu sendiri. Denise tidak tahu kalau itu semua menjadi beban untuk Dinda.
"Aku juga sebenarnya risih setiap kali kamu ngajak aku pulang sama Ferry. 'Kan dia jadi harus ngantar aku juga.
"Dinda....aku...aku nggak bermaksud.." Denise tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Dinda selalu menuruti ajakan dan permintannya, mendengar keluh kesahnya, menertawakan ketololannya. Selama ini persahabatannya dengan Dinda adalah hubungan satu arah. Ia yang terus menerus menikmati perhatian Dinda, tapi ia tidak pernah memikirkan perasaan Dinda.
"Aku tahu kamu nggak pernah bermaksud membuatku merasa tidak enak. Tapi yah...begitulah kenyataannya. Kamu nggak mau aku bohong ke kamu 'kan?"
"Nggak, Din. Nggak. Aku senang kamu jujur." Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.
"Ada satu lagi alasanku nggak mau ikut pergi sama Karen, Nis."
"Iya?"
"Aku nggak seperti kalian. Uang jajanku pas-pasan."
"Dinda..." Hati Denise tertusuk. Jauh di dalam sanubarinya ia sudah tahu. Denise selalu berusaha menjaga harga diri Dinda, ia selalu membagi makan siangnya dengan Dinda, ia berbohong bahwa baju barunya adalah pinjaman dari Ci Felice, tapi sekarang...sekarang dia lupa. Ia begitu ingin masuk dan diakui kalangan jet set di sekolah dan lupa akan sahabatnya yang paling setia.
"Dinda...aku nggak bermaksud...aku..." Suaranya terhenti Kalau ia menghembuskan nafasnya sekarang, pasti air matanya ikut keluar.
"Denise...kamu nggak usah merasa tidak enak. Aku nggak apa-apa kok. Kalau kamu mau pergi, ya pergi saja. Kita tetap teman kok."
"Iya.." Denise menjawab lirih. Hatinya trenyuh mendengar Dinda yang begitu berbesar hati.
"Nanti kamu ceritain ke aku Karen tanya apa saja ke kamu, OK? " Dinda menepuk bahu Denise dengan lembut.
"Ya.." Denise tertawa lega.Setidaknya ia bisa melibatkan Dinda dengan cara lain
Gambar True Friend diambil dari http://msmoem.com/wp-content/uploads/2014/06/true-friend-accepts-you-just-as-you-are-quote.jpg
Gambar dua orang berbicara diambil dari http://img.aws.livestrongcdn.com/ls-article-image-400/cme/cme_public_images/www_livestrong_com/photos.demandstudios.com/getty/article/15/250/200221301-001_XS.jpg