Tukang Pijat Pribadi

1.3K 65 12
                                        

"Masuk!" Denise berteriak dari atas kasurnya. Ia tidak bisa bangkit untuk membukakan pintu. Pasti Vina datang menjenguknya.

"Hai."

"Hai" Denise agak terkejut. Bukan Vina yang berdiri di depannya.

"Udah baikan?" Tanyanya dengan wajah cool.

"Ya...nggak tahu juga sih...masih sakit. Terima kasih ya, kemarin ini...aku berat 'kan?"

"Tidak apa-apa. Gue yang ngajak pergi. Gue yang harus bertanggung jawab atas keselamatan kalian." 

Denise beringsut ke arah tembok ketika Panjul duduk di kasurnya. Mau apa ini orang? Bukankah ia bisa duduk di kursi meja belajar, atau di kasur Ashley?

Denise tidak sempat bereaksi ketika Panjul tiba-tiba meraih kakinya dan meletakkannya di atas pangkuannya. Ia kemudian menggosokkan minyak berbau seperti arak dari botol kecil yang dibawanya dan mulai memijat.

"AAAUUU!!"

"Kalau mau sembuh harus diurut. Otot-otot kaki lu terpelintir. Harus diluruskan." Ia mengunci mata kaki Denise dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam betis kanan dan menggosoknya ke atas. Tangannya berhenti di lutut sebelum kembali ke mata kaki lagi.

"Ahh..sakiit..sakiitt.." Denise mencengkeram bantalnya, "Memangnya kamu mengerti soal beginian? Bagaimana kalau salah urut? Bisa-bisa kakiku tambah parah."

"Gue udah sering ngurut teman-teman kalau mereka terkilir main basket. Semuanya sembuh kok." Jawab Panjul tanpa menghentikan pijatannya sama sekali.

"Semuanya? Berapa orang?"

"Tiga." Jawab Panjul acuh. 

Baru tiga orang?!

"ARRGHHH!!" Denise menjerit lagi. Ingin rasanya ia memaki Panjul yang sok tahu.

"Apa tidak sebaiknya kamu antar aku ke dokter saja?" Tanyanya sambil meringis.

"Kalau ke dokter, paling-paling kaki di-gibs. Itu butuh waktu lebih lama untuk sembuh daripada diurut. Bisa seminggu lebih."

"Kalau diurut, dalam tiga hari juga sembuh." Sambungnya.

"Tiga hari?" Memangnya Panjul mau mengurutnya terus?

"Ya. Gue bisa datang dua kali sehari. Supaya lebih cepat sembuh." Denise menatap Panjul dengan tidak percaya. Apa yang ada di pikiran pemuda sableng ini? Denise tidak terlalu mengenalnya, tapi ia bersedia untuk datang ke kamarnya dan memijatnya selama tiga hari berturut-turut, dua kali dalam sehari?

"Ahh.." Tangan Panjul kembali bekerja. Denise tidak sanggup berbicara lagi dan memusatkan pikiran untuk menahan sakit.

Sesuai janjinya, Panjul datang dua kali setiap hari. Pagi-pagi begitu ia bangun dan malam-malam sebelum tidur. Ia tidak pernah berlama-lama di kamar Denise. Lima belas menit penuh untuk memijat, ditambah lima belas menit lagi untuk mengobrol sambil menonton televisi. Panjul juga tidak pernah membawakan apa-apa untuknya. Hanya minyak gosok berbau tajam. Tapi kedatangan Panjul justru yang paling ditunggunya.

 Tapi kedatangan Panjul justru yang paling ditunggunya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di Mana NegerikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang