Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
Denise menyandarkan kepalanya dan mengusap-usap lengan Panjul yang berotot. Seorang bocah kecil terperangkap dalam tubuh kekar ini. Bocah yang hatinya terkoyak. Denise memberi pelukan hangat untuk Panjul. Panjul bergeming. Seperti otot-otot tubuhnya yang terlatih, otot-otot hatinya juga tentu sudah mengeras.
"Pantas saja kamu sayang sekali sama nyokap. Tentu kamu benci sama bokap karena membuat nyokap kamu menderita."
"Yah...memang. Tapi itu masa lalu. Lagipula sudah impas, kok." Jawab Panjul tegar.
"Impas?"
"Sepuluh tahun yang lalu," Panjul menyeringai, "gue cari di mana bokap dan keluarga barunya berada." Denise menegakkan tubuhnya. Ia menatap Panjul lekat-lekat. Panjul tetap memandang jauh,"Gue dekati anak perempuan mereka. Gue hamili. Lalu gue tinggal."
BOM! Kata-kata itu begitu saja keluar dari mulutnya.
"Tapi.." Denise shock, "anak perempuan mereka itu, dia 'kan adik kamu juga?!"
"Adik?" Cuih. Panjul membuang ludah. "Dia itu anak haram hasil selingkuhan. Dia sudah lahir waktu nyokap belum bercerai dengan laki-laki keparat itu." Denise merasa sebentar lagi akal sehatnya hilang.
"Jul, aku.."
"Kenapa? Kaget ya?" Denise memandang Panjul lurus-lurus dan mengangguk. Kemudian menelan ludah. Ia tidak tahu lagi siapa laki-laki ini.
"Itu semua sudah lama. Sudah lewat."
"Apa nyokap kamu tahu?"
"Ya, dia tahu." Panjul menyalakan rokok dan menghirupnya. Gugup? Menyesal?
"Apa reaksinya?"
"Dia lindungi gue dari bokap. Dia kirim gue ke sini, dan kasih uang jajan banyak-banyak. Sampai sekarang."
"Apa dia nggak marah?"
Panjul tertawa, "Gue rasa dia berterima kasih sama gue. Dia nggak bilang apa-apa."
"Masa?" Denise tidak percaya.
"Dia cuma minta gue janji nggak mengulang perbuatan itu lagi. Terus dia suruh gue pergi ke luar negeri."
"Bagaimana dengan gadis itu? Bagaimana dengan anak kamu?" Denise masih belum pulih. Pacarnya ini punya anak!
"Nyokap yang urus semuanya. Nyokap kasih duit untuk menggugurkan kandungannya."
Denise hanya bisa menganga. Cerita ini terlalu dahsyat untuk ia cerna.
"Ni zhe dau ma?*27) Tuhan itu adil." Panjul mengangguk yakin.
"Adil?"
"Nyokap gue justru jadi sukses setelah bercerai. Sementara keluarga bajingan itu malah jatuh miskin." Panjul mencibir, "Anakknya gue hamili pula! Huahahahaah!"
"STOP!" Denise menutup kedua telinganya.
"Stop." Gumamnya sekali lagi. Suaranya hampir seperti bisikan. Lirih. Ini bukan Panjul yang ia pacari. Bukan Panjul yang menyelamatkannya dari maut.
"Gue mungkin rusak. Tapi gue percaya Tuhan itu adil." Tambah Panjul.
Denise mengernyit. Ia merasa jijik.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.