Kalau dance adalah hal yang membuatnya betah dan mulai berakar di Penang dulu, Julian Dinata-lah yang membuat Denise mulai mencintai Beijing. Jadwal kelas-kelas yang begitu longgar membuat mereka selalu punya waktu untuk menjelajahi sudut-sudut kota. Denise mulai bisa menghargai kerapihan strukturnya. Tatanan kota Beijing dibuat berdasarkan lingkaran-lingkaran yang berpusat di Gu Gong, Kota Terlarang, yang merupakan tempat tinggal Kaisar di jaman dahulu.
Di atas atlas, Beijing menyerupai sasaran tembak. Tempat-tempat yang paling penting seperti rumah kaisar dan lapangan Tian An Men yang terkenal itu ada di dalam yi huan. Lingkar pertama. Gedung-gedung komersil dan rumah tinggal dibangun di lingkar kedua, ketiga dan seterusnya. Jalan-jalannya besar dan mulus, dan semangat orang Cina yang haus akan kemakmuran memancar dari gedung-gedung raksasanya.
Agak lucu sebenarnya. Denise mendapati bahwa penduduk kota ini canggung terseret-seret oleh pesatnya pembangunan. Di dalam sebuah shopping mall ia menyaksikan seorang ibu membiarkan anak lelakinya kencing di tong sampah. Ketika taksi yang ditumpanginya berhenti di lampu merah, penumpang mobil Mercy di sebelahnya membuka kaca jendela dan meludah ke jalan.
This is China! Everything is possible!
Panjul tidak pernah memintanya jadi pacar, tidak pernah juga menyatakan cinta. Ucapannya yang nakal itulah yang melegitimasi hubungan mereka. Sedangkan James? Entahlah. Denise hampir lupa. Pikiran dan hati Denise terisi penuh dengan perasaannya pada Panjul. Sekali-sekali ia melihatnya di toko koperasi sekolah atau di kelas. James menghindarinya. Biarpun mata mereka berpapasan, James melengos dan berpura-pura tidak mengenalinya. Awalnya Denise tersinggung. Tapi lama kelamaan ia pun terbiasa. Bukankah ini yang selalu didambakannya? James lenyap dari kehidupannya!
Setiap pagi Denise turun dari kasur dengan bersemangat karena tahu ada seseorang yang menunggunya. Ia tidak lagi memikirkan apa warna kausnya matching dengan celananya, atau potongan rambutnya cocok dengan wajahnya. Segala sesuatunya ia sesuaikan dengan Panjul. Seusai mandi pagi, tidak lupa Denise mengoleskan krim tabir surya, karena Panjul bisa tiba-tiba mampir ke lapangan basket dan nimbrung dalam sebuah permainan. Ia juga tidak pernah lagi mengenakan rok dan sepatu yang bagus-bagus. Bersama Panjul, ia harus siap kotor.
Pernah suatu kali, sehabis makan siang, Panjul mengajaknya pergi.
"Ke mana?" tanyanya.
"Pokoknya ikut aja deh." Panjul menggandengnya dan berjalan dengan cepat ke pinggir jalan raya. Mereka melompat ke jok belakang taksi.
"Duduknya lebih rapat ke sini dong." Perintah Panjul.
"Kenapa?"
"Di situ panas."
Cahaya matahari masuk dari jendela di sisinya duduk. Denise tersenyum dan merapat ke Panjul. Laki-laki ini selalu bisa menciptakan suasana romantis kapan pun dan di mana pun.
"Ini apa?" tanya Denise bingung begitu mereka turun di sebuah tempat yang semrawut.
"Pasar ikan."
Celana panjang beige dan sandal putih ber-hak yang Denise pakai hari itu pulang ke asrama dengan noda comberan dan bau amis.
Wo shi ta di nü ren. Aku adalah wanitanya.
Kalau itu berarti ia harus selalu mengenakan pakaian warna gelap dan sandal jepit, bukan masalah!
Bersama Panjul, hari-harinya selalu penuh surprise. Acara pergi mendadak sudah menjadi makanannya sehari-hari. Walaupun sering ia merasa kesal juga, tapi selalu ada akhir yang menyenangkan dari petualangan-petualangan mereka yang tidak terencana. Seperti waktu pergi ke pasar ikan, malamnya Panjul membuat ikan bakar di halaman asrama dengan alat-alat masak camping-nya. Mereka piknik dalam gelap. Di lain waktu, Panjul mengajaknya pergi ke Chang Cheng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Mana Negeriku
Historical FictionHi Guyz, Does my name ring a bell? Hopefully yaaa.. Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman. Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
