Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
Denise duduk di ruang kelasnya yang ber-AC. Impiannya menjadi kenyataan. Hanya dua bulan yang lalu, ia masih berada di Vegas, menghirup udaranya yang bercampur pasir padang gurun. Tapi sekarang, ia berada di tempat yang diinginkannya. Jakarta! Ibu kota tercinta! Ia tinggal di rumah bersama orang tuanya, menonton televisi dalam bahasa ibunya, menghirup kuah santan berisi jeroan dan kepedasan makan sambal cobek. Ah! Masa muda yang kembali! Denise berikrar : This is where I belong. Dia tidak peduli kalau dirinya Cina, keturunan imigran, warga minoritas, atau didiskriminasi sekalipun. Inilah tempat di mana ia seharusnya berada! Ini adalah rumahnya!
Mama dan Papa masih setengah hati menerimanya. Tampaknya mereka masih berharap, kalau Denise merasakan betapa tidak enaknya terperangkap macet, atau bertemu dengan copet, mungkin ia akan mengubah pikirannya. Tapi Denise sudah kebal. Sudah cukup kenyang ia mencicipi kehidupan di berbagai tempat, sehingga ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa, negara mana pun, pasti punya kelebihan dan kekurangan. Yang penting adalah, apakah seseorang merasa cocok dengan segala sisi kehidupan yang ditawarkan negara tersebut. Kalau cuma pungutan liar, banjir beberapa kali dalam setahun, mati lampu, atau pengemis yang memadati jalan, I can handle that, pikirnya. Segala ketidaknyamanan itu ia tukar dengan kehangatan keluarga, hubungan yang terjamin dengan pacar, dan masa muda yang tidak dihalangi tembok bahasa dan budaya.
Ko Edward sudah memulai karir barunya sebagai asisten pribadi Honorary Researcher Uni Usaha Indonesia, Prof. Jake Lambert. Denise senang Ko Edward juga bisa lebih berkembang. Di Amerika, ia hanyalah seorang ketua perkumpulan pelajar, yang sibuk mengadakan kegiatan budaya, mengatur anak-anak sebayanya. Tapi sekarang, Ko Edward bahu membahu dengan seorang profesor asing, mengkaji kebijakan-kebijakan pemerintah, menelurkan proposal dan rekomendasi yang bertujuan memperbaiki makroekonomi bangsa. Betapa bangganya ia akan Ko Edward!
Denise bisa membayangkan kalau kelak, Ko Edward akan jadi orang penting. Pakar ekonomi? Menteri Perdagangan? Ketua partai warga keturunan? Atau jangan-jangan Presiden? Ha! Denise tergelak sendiri. Mana mungkin Cina jadi Presiden?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ko Edward selalu membawa cerita-cerita seru sepulang kantor.
"Bayangkan Nis, masa, koneksi internet UUI masih kalah cepat dengan koneksi internet rumahku? Belum lagi pakai sistem jatah dan prioritas, jadi kalau ada yang pagi-pagi datang langsung download lagu, orang-orang berikutnya langsung tidak kebagian bandwidth!"
"Pantas saja negara kita ini tidak maju-maju, Nis! Pendataan saja amburadul! Masa produksi komputer per tahun dihitung dalam kilogram?!"
"Dari sekian banyak mangga yang kita punya, mangga gedong, harumanis, gincu, manalagi, Jake tidak bisa mendapatkan hasil panen dengan detil. Yang ada hanyalah data mangga total. Hahh...untuk mengubah sesuatu, langkah pertama yang harus kita tempuh adalah mengetahui keadaan dengan sedetil-detilnya. Kalau itu saja tidak bisa, bagaimana kita bisa menemukan kekurangan yang bisa kita perbaiki?"
Mendengar cerita-cerita Ko Edward dan keluh kesahnya, Denise jadi ikut kelabu. Bagaimana mungkin hal-hal besar seperti pengentasan kemiskinan dan pemerataan pendidikan bisa dicapai kalau sebuah organisasi sehebat UUI di ibukota saja tidak bisa bekerja dengan maksimal?
Tapi kemudian, Ko Edward juga bercerita tentang hal-hal yang membuatnya yakin, bahwa negara ini punya potensi.
"Direktur UUI sedang giat-giatnya menghimbau untuk mengurangi pengeluaran, Nis. Hal pertama yang ia lakukan adalah meminta para office boy mencabuti saklar komputer setiap akhir pekan. Kelihatannya sih kecil. Tapi bulan lalu ongkos listrik kita hemat tiga ratus ribu rupiah!"
"Aku baru saja berkunjung ke kantor pajak, Nis. Ternyata mereka punya badan intel yang khusus bertugas untuk mengawasi para pegawainya supaya bersih dari korupsi! Hebat ya!"
"Departemen Perdagangan punya program kerja sama dengan orang-orang Jepang, Nis, supaya pengrajin kita tahu selera orang Jepang yang minimalis. Mereka mengajarkan para pengrajin untuk menjual wayang kulit yang belum diwarnai."
Ko Edward tampaknya betul-betul mencintai pekerjaannya. Keterlambatan proyek, tidak tersedianya dana, dan orang-orang yang tidak punya etos kerja, satu persatu menjadi bahan omelannya. Tapi semua itu sirna begitu ia melihat bahwa rekomendasi Prof. Jake diadopsi oleh pemerintah.
"This country is changing! Changing for a better future! Dan aku turut mengawalnya ke sana!"
Denise hanya tertawa setiap kali Ko Edward tenggelam dalam utopia-nya. Tapi mau tidak mau ia juga larut terbawa kisah-kisah keputusasaan Ko Edward di kali lainnya. Denise bersyukur ia punya teman-teman sekolah yang selalu ceria dan ada untuknya.
Ia harus menelan bulat-bulat harga dirinya ketika Papa menyodorkan rapor yang entah dibeli dari mana. Tapi apa boleh buat? Tanpa ijazah SMA, ia tidak mungkin bisa mendaftar di universitas, jadi ia sodorkan saja rapor yang berisi angka sembilan dan delapan. Benar-benar tidak riil! Tapi ia berjanji bahwa ia akan belajar sekeras-kerasnya sehingga tidak ada orang yang meragukan bahwa memang ia berhak atas angka sembilan dan delapan itu.
-----
Minggu 30 July minggu depan ada workshop creative writing dan membahas buku saya Wander Woman oleh sesama penulis dan my dear friend Irene Dyah di NeoSohoMal ya..
--err...saya aja gak tahu itu di mana, kelamaan merantau hihihi..baru tahu ada yg namanya NeoSoho
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
---
Gambar Soto Betawi diambil dari https://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/09/09/a0/be/restaurant-ayam-goreng.jpg
Gambar Presiden2 Indonesia diambil dari http://www.abc.net.au/news/image/5384054-3x2-700x467.jpg