Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
Denise sangsi dengan pernyataan O O. Ko Halim tinggal di Los Angeles, ia hanya sesekali datang ke rumah O O di Vegas, yang jaraknya sekitar 5 jam perjalanan. Paling-paling ia hanya menemui O O beberapa kali dalam setahun, pada saat-saat khusus seperti ini misalnya, menemui mereka sekeluarga yang baru datang. O O A Lien tidak pernah menikah, mungkin ini yang membuatnya begitu perhatian pada keponakan-keponakannya. Dari dulu, walaupun O O tinggal jauh di Amerika, ia tidak pernah lupa men-transfer uang AngPau untuk Denise dan kakak-kakaknya setiap Xin Jia lewat Papa. Padahal, sesungguhnya, kalau tidak bertemu, tidak perlu memberikan Ang Pau.
"This is the Strip. The 5 star area." Ujar O O. Ko Halim sengaja mengemudi lebih pelan supaya mereka bisa menikmati pemandangan. Denise mendongakkan kepalanya berusaha memandang puncak hotel-hotel raksasa yang memagari kedua sisi jalan. Di siang bolong seperti ini pun daerah ini sudah tampak ramai. Ia tidak sabar ingin melihat cahaya lampu-lampunya di malam hari.
"This is your new home!" O O mengumumkan dengan gembira ketika mereka sampai di sebuah rumah bertingkat dua dengan cat krem dan atap merah bata. Setelah hampir satu jam berlalu dalam mobil, akhirnya mereka sampai juga. Rumah O O terletak tidak jauh dari Strip, di sebuah kompleks perumahan yang masih agak baru. Rumah-rumah di kanan kirinya bentuknya tidak jauh berbeda, dengan atap berwarna sama, garasi, sepetak lapangan rumput. Jalan beraspal yang cukup besar membelah kompleks itu tampak lengang dengan mobil-mobil penghuni yang terparkir di kedua bahu jalan. Bukan mobil-mobil mewah, hanya mobil biasa, tapi minimal ada satu di depan setiap rumah. Kompleks perumahan ini persis seperti rumah-rumah yang ia lihat di film-film Amerika. Perumahan kelas menengah di negara imigran. Potret American Dream yang terwujud.
"Hachiii!" Udara dingin menggelitik hidungnya. Mereka tiba di tengah bulan Februari yang dingin. Paling tidak suhunya 20 derajat lebih rendah dari Jakarta.
O O memimpin mereka masuk ke dalam rumah. Sebuah televisi berlayar besar dikelilingi beberapa sofa yang bentuk dan warnanya tidak seragam. Serangkai bunga palsu yang agak berdebu menghiasi meja makan dari kayu jati. Bau makanan yang lembut menggelayut di udara, menyelimuti setiap ruangan. Bau saus tomat bercampur bawang putih, bau minyak dan kuah kaldu, bau khas Chinese food. Sepertinya bau ini sudah mendarah daging dengan rumah ini, tersimpan di antara bulu-bulu karpet dan pori-pori dinding.
Denise langsung merasa betah. Rumah ini terkesan hidup dengan ketidaksempurnaannya. Pribadi O O yang hangat terpancar daripadanya.
"Your room is on the 2nd floor." O O berjalan mendaki tangga diikuti Papa dan Mama. Ko Halim berjalan paling belakang mengangkut koper berdua dengan Ci Felice.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Baik-baik ya, dengar kata O O. Jangan nakal."kata Papa
"Hmm." Denise membalas hanya dengan gumaman. Nakal? Apa gadis berusia tujuh belas tahun bisa dibilang nakal? Papa menarik kepalanya dengan kasar dan mengecup keningnya. Ci Felice menghindar ketika Papa mencoba meraihnya. Ia masih marah.
"Ya sudah, Papa masuk dulu ya." Papa melambaikan tangan dan berbaris dengan Mama di tempat pemeriksaan bagasi di airport.
Denise membisu selama perjalanan pulang ke rumah O O. Sewaktu Mama dan Papa ada bersama mereka, selama sepuluh hari mereka jadi turis. Vegas Vic tersenyum nakal padanya dari balik jendela. Neon koboi yang terkenal sebagai simbol Las Vegas ini kehilangan pesonanya di bawah terik matahari pagi. Honeymoon sudah selesai.
Seminggu sesudah Papa dan Mama pulang ke Indonesia, Ko Halim juga kembali ke Los Angeles, mempersiapkan diri untuk semester musim semi. Keadaan berubah drastis sesudah itu. Setelah Ko Halim pergi, rumah terasa begitu kosong. Sehari-harian hanya mereka berdua di rumah. O O punya sebuah restoran Chinese Food di pinggiran The Strip yang harus ia kunjungi setiap hari. Ia selalu keluar rumah pukul sebelas siang dan kembali ke rumah pukul setengah dua belas malam. Tidak jarang ia bergadang untuk bereksperimen di dapur. Pagi-pagi, di meja makan sudah tersedia lo bak ko,Singapore noodle, atau paikut cah sayur asin. Kalau O O merasa tidak puas, keesokan harinya ia akan membuat masakan yang sama dengan modifikasi sedikit. Tentu saja karena kelelahan O O bangun agak siang. Paling pagi jam 8.
Denise merasa senang karena tidak perlu lagi bangun pagi-pagi seperti di rumah. Karena sekolah belum dimulai, ia hanya bangun kalau lapar dan langsung melahap brunch-nya. Siang-siang mereka jalan-jalan di sekitar rumah, atau naik bus ke shopping mall, dan sepulangnya ke rumah, menonton 'Friends' dan '24' di televisi. Rumah O O yang terasa begitu hangat waktu pertama kali ia datang sekarang sudah menampakkan wujud aslinya. Kosong.
Saat-saat paling berharga di mana mereka bisa berbincang-bincang dengan santai bersama O O hanyalah saat mereka berkendaraan. O O yang selalu punya sesuatu yang harus dikerjakan mau tidak mau terperangkap di belakang kemudi.
"Kalian harus belajar mengemudi. I 'll talk to your dad. Kalau kalian bisa mengemudi, hidup akan jauh lebih mudah. Bisa shopping, bisa cari teman, bisa keluar kapan saja kalian mau. Tidak perlu tergantung padaku. Right, ah?" Setelah berpuluh-puluh tahun tinggal di Amerika, O O tetap saja mengakhiri kalimat-kalimat Inggrisnya dengan ucapan 'ah' khas bahasa Cina.
"Don't you think so, Felice?" O O menengok ke Ci Felice yang duduk di sebelahnya. Garis silang-silang Burberry berkilat di pangkal tangkai kaca mata hitamnya. Benda bermerek ini tidak tampak menonjol di wajah O O. Aura fighter-nya begitu kuat sehingga segala sesuatu di sekelilingnya tampak kusam. O O selalu punya pendapat, usul dan ide baru. Seakan otaknya berdenyut lebih cepat dari jantungnya.
"Yes, O O." sahut Ci Felice. O O tidak pernah memaksa dan mengancam. Ia hanya bertanya. Tapi entah kenapa, ia dan Ci Felice merasa selalu harus mengiyakannya.
"Kalau kalian sudah bisa mengemudi, I'll have your dad buy a car for you." tambah O O lagi. "Great, ah? Punya mobil sendiri?" O O tersenyum lebar dan menatapnya dari kaca spion. Denise mau tidak mau mengangguk. Dalam hati ia menyesalkan Ci Felice yang sudah menyetujui usul O O. Kalau mereka bisa mengemudi sendiri, O O akan berangkat ke restorannya sendiri, dan ia dan Ci Felice ke sekolah berdua. Saat-saat penuh keakraban di mobil seperti ini tentunya akan hilang.
-------
Nyari gambar interior mobil dengan komposisi Ko Halim, OO, Denise dan Felice susah banget, ini saya kasih foto watermelon cake yang sempat happening di Sydney sepanjang 2016...malah mungkin dari 2015, foto Watermelon cake with rosewater and pistachio. Wangi banget deh, rosewater kan essence bunga mawar (asli/sintetis gak jelas), spt parfum gitu, plus pake semangka jadi seger dan rasanya gak terlalu manis. Yang bikin ini adalah anak pasangan migran dari Indonesia lho..orang Indo itu ternyatahhh..bisa menaklukkan dunia!! Interview Chris The, pembuat sekaligus pemilik toko yang bikin heboh Sydney ada di sini ya temans : http://outthefront.com.au/2014/chris-the/
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gambar Vegas Vic diambil dari http://vegasinsidertours.com/wp-content/uploads/2016/04/Vegas_Vic-full.jpg
Gambar scanner bagasi diambil dari http://vegasinsidertours.com/wp-content/uploads/2016/04/Vegas_Vic-full.jpg