Golden Opportunity

379 39 3
                                        


Hubungan mereka direstui Papa dan Mama. Sebagian besar berkat Ci Felice dan O O yang tidak putus-putusnya memuji Ko Edward di telepon. Terlebih lagi ketika Mama dan Papa mengunjungi mereka.

"Bayangkan ya. Cina menyediakan pabrik yang siap pakai, lengkap dengan listrik, air dan fasilitas penyewaan mesin pula. Jalan-jalan di sana lebar dan dilapis beton, tidak seperti aspal yang mudah rusak kalau dilewati truk. Cina itu negara komunis, tapi caranya bekerja mengalahkan negara kapitalis. Sementara di Indonesia, kita masih berkutat dengan listrik yang byar-pet.

"Yang namanya bisnis, waktu berarti uang. Listrik mati hanya satu dua jam pun, sudah ada kerugian puluhan juta dari produktivitas yang terhambat! Kalau barangnya siap pun, mau dikirim terhambat macet! Mau ke pelabuhan di dalam kota saja butuh setengah hari." Papa mengepalkan tangannya gemas.

"Sekarang, pemerintah malah menaikkan gaji buruh dengan agresif. Kalau ada investor dari Eropa, atau Amerika, atau Jepang, mau membangun pabrik assembling yang padat karya, mana mau dia datang ke Indonesia? Lebih baik bangun pabrik di Vietnam saja toh? Infrastrukturnya mungkin tidak jauh berbeda, tapi ongkos produksi jelas-jelas lebih murah!"

Ko Edward, hebatnya, tidak terintimidasi dengan topik-topik berat yang dilontarkan Papa seperti ini. Ia bisa menimpali dengan tragedi pengembalian pajak yang tidak kunjung datang, yang membunuh perusahaan-perusahaan kecil yang bermodal pas-pasan. Belum lagi dengan adanya desentralisasi kekuasaan, itu berarti, semakin banyak birokrasi, ketikdakpastian, dan juga banyak tangan yang menagih amplop.

"Betul Om, seringkali kalau kita ikut peraturan, malah buang waktu, rugi waktu. Produksi terhambat, pemasaran tidak bisa dilakukan. Masih lebih murah buang uang untuk 'pelicin'." Papa mengangguk berkali-kali, kemudian tiba-tiba ia menatap Ko Edward heran, "Dari mana kamu tahu semua ini?" Ko Edward mengusap rambutnya dan meluruskan duduknya, "Dari Papi, Om." Papa mengangguk, "Hmm...bagus, bagus. Anak muda memang harus banyak belajar dari omongan orang tua, tidak seperti anak saya yang satu ini." Papa menunjuk Denise yang sedang menonton televisi.

"Apaan sih!" 

Papa dan Ko Edward tertawa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Papa dan Ko Edward tertawa. Selama kunjungan Papa dan Mama, begitulah selalu keadaannya. Papa dan Ko Edward mengobrol berlama-lama, sementara O O dengan semangat menyuguhkan masakan-masakan istimewa untuk adik dan 'golden boy' nya. Denise duduk menonton televisi sambil mendengarkan percakapan mereka sedikit-sedikit. Mama, hanya berbicara seperlunya dengan Ko Edward, ia tidak berusaha mengadakan kontak langsung. Sewaktu Ko Edward mengantar mereka berjalan-jalan di LA dengan mobilnya pun, Mama hanya menggumam atau mengeluarkan beberapa patah kata untuk berbasa-basi. Sampai suatu saat, tiba-tiba, Mama berkata, "Lumayan juga tuh si Edward."

Baru pada saat itulah Denise benar-benar yakin, bahwa hidupnya sudah tertata dengan baik.

Bersama Ko Edward, hari-hari membosankan di Vegas menjadi jauh lebih mudah dilewati. Ia tetap pergi ke sekolah, kerja di restoran, pulang ke rumah. Tidak ada yang berbeda dari kegiatan sehari-harinya. Namun lingkaran kebahagiaan melindunginya dari dunia luar yang kejam. Ia tidak lagi merasa terkucil oleh orang-orang Cina yang menganggapnya aneh, karena tidak bisa berbahasa Cina. Toh, ia bisa curhat dalam bahasa Indonesia dengan Ko Edward, bahasa ibunya! Ia tidak lagi merasa sepi melihat pasangan-pasangan bule bermesraan di jalan, toh, ia juga punya Ko Edward. Kalau ia letih sehabis bekerja di restoran, chatting dengan Ko Edward membuat kepenatannya sirna.

Ko Edward memperlakukannya dengan penuh kasih sayang dan hormat. Terlalu sopan, malah. Ego kewanitaannya ingin melihat Ko Edward kehilangan kendali, melumat bibirnya habis-habisan, memeluknya keras-keras, or..whatever. Ia ingin melihat Ko Edward kehilangan akal sehat dan takluk padanya seorang. Tapi itu tidak pernah terjadi. Tidak pernah ada kecupan mendadak di tempat bersejarah seperti yang diberikan Panjul. Ko Edward membelai rambutnya dengan hangat, mendaratkan ciuman di dahinya, atau memeluknya erat. Semuanya dengan sopan. Bahkan ciuman di bibirnya pun, begitu lembut, dewasa, tanpa nafsu sedikit pun. Tapi kemudian Ko Edward akan menggenggam tangannya erat-erat, menciumi jari-jarinya lembut, menatap matanya dalam-dalam, dan berkata, "My love. Tunggu sampai aku bisa membelikan berlian untuk jarimu yang indah ini."

Ia merasa benar-benar beruntung.

Sampai suatu hari, tiba-tiba Ko Edward menjatuhkan ranjau di siang bolong.

"Aku pulang tahun depan."

"HA?!" 


Ko Edward menjelaskan, bahwa ada salah satu dosen Ko Edward, profesor ekonomi, orang Amerika, yang ditawarkan oleh kenalannya, seorang pengusaha besar di Indonesia, untuk bergabung dengan organisasi pengusaha-pengusaha besar di Indonesia, Uni Usaha Indonesia. Jake Lambert, sang profesor ini, akan diberi posisi sebagai peneliti kehormatan dalam UUI, memberikan bobot pada petisi-petisi yang diajukan UUI kepada pemerintah.

"Jake menawarkanku untuk jadi asisten pribadinya di Jakarta. Ini benar-benar dream comes true!"

"Tapi, apa Koko yakin, ini pekerjaan yang Koko inginkan? Bukannya Koko selalu bilang, mau menuntut ilmu dulu sebelum pulang ke Indo? Supaya punya bekal untuk mengubah Indonesia jadi negara yang lebih baik. Bukannya bulan lalu Koko bilang, Koko mau meneruskan belajar untuk mengambil gelar Master?" Denise gelagapan mengejar nafasnya sendiri.

"Honey! Apa kamu belum pernah dengar UUI?" Ko Edward menggenggam kedua lengannya dan mengguncangnya.

"Err...mungkin pernah..." Denise menjawab takut-takut. Sudah kenyang ia diomeli karena tidak tahu apa-apa.

"UUI itu organisasi pengusaha yang sangat diperhitungkan di Indonesia. Pendapatnya ditulis di koran, selalu diundang pemerintah untuk mengkaji kebijakan-kebijakan baru. Ini kesempatan emas untuk memberikan sumbangsih buat bangsa Indoenesia! Sekolah bisa menunggu. Tapi kesempatan untuk mendapatkan hands on experience seperti ini..bayangkan, duduk dalam rapat dengan menteri, punya akses akan data-data ekonomi terbaru, kebijakan-kebijakan dan pengaruhnya terhadap negara lain, berkenalan dengan pengusaha-pengusaha kelas kakap!" 


Ko Edward melemparkan tangannya ke udara, "Oh! Denise! Aku bisa membayangkan diriku di sana. Di ujung tombak perkembangan bangsa Indonesia! Jake bahkan berkata bahwa dengan akses data yang demikian banyak, aku bisa menulis thesis master sambil bekerja! Ini benar-benar golden opportunity, Nis!" Ko Edward mengepalkan tangannya dan mengangguk mantap.

"Tapi, bagaimana dengan aku?" tanya Denise.

 "Bagaimana dengan ..kita?"

Aduhh teman-teman..maaf beribu maaf, saya lupa upload kemarin. Lagi sibuk dengan proyek lain, sampai kelupaan. Anyway, silakan nikmati sisa akhir pekan teman-teman ya. Berikut ada French Toast untuk menemani...hihihij

hihihij

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

---

Gambar Golden opportunity diambil dari http://changeuurrlife.weebly.com/uploads/3/7/8/9/37898991/3509391_orig.jpg

Gambar dua orang berpacaran diambil dari https://thoughtcatalog.files.wordpress.com/2014/11/shutterstock_146326706.jpg?w=1000&h=667

Gambar French Toast diambil dari koleksi pribadi


Di Mana NegerikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang