Chinese atau Malay?

778 72 5
                                        

Denise menahan tawa mengingat kejadian kua mia Sabtu kemarin. Mulutnya nyengir. Masih ada lima belas menit sebelum kelas berakhir. Tanggung untuk masuk. Sementara hukumannya mengepel lantai sudah selesai. Dengan bersiul-siul ia mencuci tangan dan masuk ke kamar. Denise duduk di depan meja tulisnya. Selama ini ia merasa tidak ada yang menarik untuk diceritakan. Tetapi hari ini hatinya girang.

Dinda,

Apa kabar? Sorry baru kirim surat sekarang. Selama ini sibuk menyesuaikan diri. Aku tidak betah di sini. Aku ingin pulang setengah mati. Aku tidak punya teman. Aku sebal sama orang-orang yang menyebabkan kerusuhan. Apa pun alasannya. Aku terusir karena aku Cina. Tapi setelah sampai di sini, aku malah merasa aku lebih Indonesia daripada Cina. Tempatku di Indonesia, bukan di sini.

Denise berhenti sebentar. Keluhannya keluar begitu saja. Beruntun, merongrong. Tentu Dinda tidak suka menerima surat yang isinya negatif. Ia pun mengganti topik.

Kamu sibuk ngapain sekarang? Masuk SMA mana? Ada cowok ganteng nggak? Kamu pasti laku keras deh, Din. Di sini gersang. Hehehe...Banyak sih cowok-cowok Indo di kelas. Tapi mereka sombong-sombong. Mentang-mentang aku nggak bisa bahasa Hokkian, aku nggak dianggap.

Pena Denise terhenti. Apakah Dinda akan tersinggung dengan ceritanya? Mungkin Dinda jadi sadar, kenapa dulu di SMP tidak pernah ada cowok yang naksir dia, karena murid di sekolah mereka dulu mayoritas anak keturunan? Jangan-jangan dia malah tersinggung? Tangannya menggamit tip-ex, tapi kemudian ia menaruhnya kembali. Dinda bukan orang seperti itu. Dinda berhati besar. Dinda pernah merelakannya pergi dengan Karen dan kawan-kawan karena ia sadar, mereka tidak membutuhkannya. Dan yang lebih penting, Dinda adalah teman terbaiknya, tempat ia bisa bercerita tanpa sungkan dan basa-basi.

"Lho, kamu sedang apa? Tidak ada kelas?" Cia-cia masuk dan meletakkan buku-bukunya di meja.

"Oh..yeah.aku habis dihukum lagi."

"Ohh..." Cia-cia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengacungkan jempol, "Kamu itu...so brave!" Ia mendecakkan lidahnya sambil mengedipkan mata. Denise bangga. Rupanya kebadungan di sekolah bisa mengangkat reputasi. Tidak perlu jam tangan bermerek.

"Sedang menulis surat?" Cia-cia melongok dari balik bahunya.

"Iya. Untuk teman baikku di Indonesia.."

"Chinese?"

"Bukan."

"Oh..Malay?" Denise bingung. Apakah Dinda Malay? Dia tidak pernah memikirkan Dinda seperti itu. Dinda bukan Chinese, bukan juga Malay, Dinda hanya Dinda.

"Is she Malay?" tanya Cia-cia lagi.

"Err...I think so.." 

Cia-cia tergelak.

"Kalau bukan Chinese, ya pasti dia Malay lah.."

"Hmm.." Ia merasa bersalah tidak membela Dinda lebih jauh. Ia tidak mengerti mengapa Cia-cia harus menempelkan label "Malay" pada Dinda. Tidak heran kalau dirinya pun dicap setengah Malay hanya karena tidak fasih berbahasa Cina. Rasa rindunya pada Dinda meluap.

 Rasa rindunya pada Dinda meluap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dinda!"

"Denise!" Suara Dinda begitu menyejukkan hati. Kenangan mereka berdua seakan menari keluar dari gagang telepon. Padahal belum terlalu lama mereka berpisah, hanya beberapa bulan. Bulan-bulan penuh penderitaan yang rasanya tidak akan pernah berakhir. Ia sendiri heran, kenapa baru sekarang terpikir untuk menelepon Dinda.

"Karen gimana?" Kembali ke Inggris.

"Novi gimana?" Mengungsi ke Amerika. Rumahnya dijarah.

"Rita ?" Selalu berkabut. Tidak ada yang tahu ke mana ia lenyap.

Dinda bercerita tentang sekolahnya yang baru. Kehidupan Dinda bagai air terjun yang deras, penuh perubahan, penuh warna. Sekolah baru, pelajaran yang sulit, ekskul marching band, perkumpulan pemuda di Gereja...sementara kehidupannya sendiri, tidak ubahnya seperti air got. Mampet!

"Oh..Denise, jangan seperti itu dong. Cobalah berpikiran positif. Kamu bisa sekolah di luar negeri. Aku mana mungkin?!" Denise nyengir, ia tidak merasa sekolah di luar negeri itu a big deal. Hidup normal di tempat di mana dia seharusnya berada, itu jauh lebih penting. Sementara sekarang ia terbuang.

"Denise...please...ini bukan Denise yang aku kenal." Denise menggumam. Tidak tahu harus menjawab apa. Nenek peramal itu benar, ia adalah gadis keras kepala yang mau melawan arah angin.

"Denise, bagaimana kalau kamu berdoa? Nenek peramal itu hanya bisa melihat keadaanmu sekarang. Tapi Tuhan 'kan bisa mengubah keadaan?" 

Malam itu, sebelum tidur Denise memikirkan ucapan Dinda. Sudah lama sekali ia tidak berdoa. Terakhir kalinya ia berdoa adalah sewaktu sedang terperangkap di sekolah waktu kerusuhan. Doanya singkat saja.

Tuhan, tolong saya supaya bisa pulang ke Indonesia. Amin. 

-------

Gambar prangko diambil dari https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/7c/97/ec/7c97ecc8a0d04cb0b7acf316e843f30b.jpg

Gambar gadis berdoa diambil dari http://il9.picdn.net/shutterstock/videos/10482362/thumb/1.jpg

----------

Perkenalkan, Cilla, salah satu Wander Woman yang  tinggal di Aberdeen, sebuah kota kecil di Skotlandia.

Pemandangan sudah pasti kereeeen...tapi suhunya itu wow!! Buat orang Indonesia sih agak menyiksa ya..

#NovelWanderWoman

#NovelWanderWoman

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di Mana NegerikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang