Menginap di Sekolah

912 90 18
                                        



"Denise! Ngapain kamu di situ!" Sebuah tangan menariknya.

"Ciii!!" Segala kekuatirannya pun menguap, "Ci!! Aku pikir Cici sudah keluar dan pulang. Aku dari tadi cari Cici ke mana-mana." Ia membenamkan kepalanya ke dada Ci Felice. Suasana semakin riuh semenjak pintu gerbang berhasil dibuka. Semakin banyak orang tua yang menerobos masuk, dan sebaliknya, banyak pula murid-murid yang berhasil keluar.

"Kamu ada-ada saja. Mana mungkin aku pulang ninggalin kamu?! Apalagi 'kan sudah ada pengumuman nggak boleh keluar dari gerbang."

"Tadi Cici ke mana? Di kelas kok nggak ada?"

"Tadi kita keluar lebih cepat, terus aku pergi beli makanan. Karena tidak boleh keluar, toko makanan yang di dalam itu ramai sekali." Ci Felice menceritakan perjuangannya memperoleh dua bungkus nasi uduk untuk mereka berdua. Abang-abang tukang jajanan yang biasa menggelar jajanannya di pintu gerbang tidak terlihat sama sekali.

"Kita ke telpon umum dulu deh ya. Telpon Mama." Mereka berdua pergi ke telepon umum di lapangan parkir. Sama seperti kantin, telepon umum juga diserbu.

"PERHATIAN PERHATIAN! Semua siswa diharap berkumpul di aula! PERHATIAN sekali lagi! Harap berkumpul di aula!" Mikrofon di seluruh penjuru sekolah menyuarakan pengumuman.

"Yaaah...kamu masuk dulu deh...tanggung nih..sudah ngantri dari tadi." Dahi Ci Felice berkerut. Denise menurut.

Aula sekolah sudah penuh. Uap kecemasan dan kabut kekhawatiran menggantung di udara. Ratusan murid berdengung seperti kawanan jangkrik. Guru-guru berteriak. Denise menuju sekelompok murid yang mengelilingi Bu Lisa, wali kelasnya. Rupanya ada instruksi dari kepala sekolah untuk mengabsen semua murid.

"Kalau kalian pulang, atau mau keluar dari area sekolah ini, jangan lupa melapor pada saya. Tapi sebaiknya jangan pulang sendiri. Tunggu sampai dijemput keluarga." Dahi Bu Lisa berkerut, matanya bergerak-gerak tidak tenang. Denise melaporkan diri dan duduk menunggu Ci Felice kembali. Banyak yang duduk bersila sepertinya sambil bercakap-cakap, ada yang menyendiri dan bermain game boy, ada pula yang mendengarkan musik dengan walkman, bahkan ada sekelompok murid yang tertawa terbahak-bahak sambil bermain kartu. Rasa lega sehabis ujian sedikit banyak membantu mereka rileks. Dinda melambaikan tangan dari kejauhan. Denise tersenyum dan membalasnya.

"NGOOOEEeeenngg..nggoooeengg..."Suara sirene terdengar dari kejauhan. Bunyinya berbeda dari ambulance maupun pemadam kebakaran. Bukan pula suara mobil polisi. Semua murid terpaku. Hening. Hanya suara elektronik komikal dari berbagai mesin game boy yang terus membahana.

"NGOOOEEeeenngg..nggoooeengg..." Sekali lagi. Kali ini lebih besar. Disusul kesunyian. Semua nafas tertahan, menunggu. Tidak ada sirene ketiga. Mobil atau kendaraan apapun itu, pasti berhenti di dekat mereka. Isak tangis memecah suasana. Seorang gadis tidak bisa menahan rasa takutnya.

    "Ci Felice!" Denise teringat akan Ci Felice yang masih berada di pekarangan sekolah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ci Felice!" Denise teringat akan Ci Felice yang masih berada di pekarangan sekolah. Ia berlari menghambur keluar, melangkahi tas-tas ransel yang beserakan di mana-mana, mencari jalan di antara orang-orang yang berdiri berkelompok tak teratur.

"Sun!" Ci Felice lebih dulu menemukan dirinya.

"Cici! Tadi Cici dengar sirene itu? Seram sekali!"

"Iya, tadi di luar suaranya jelas sekali. Sepertinya lewat persis di depan sekolah." Ci Felice bercerita kalau banyak murid-murid yang mencoba mengintip dari pagar, tapi dihadang oleh SATPAM. Ci Felice juga mendengar teriakan-teriakan massa dan bahkan sebuah suara mirip peluru yang ditembakkan.

"Sudah bicara sama Mama?"

"Sudah." Ci Felice menceritakan kalau Mama dan Papa juga terperangkap di dalam rumah. Dalam perjalanan ke kantor, Papa melihat jalanan sepi mencekam. Ia juga sempat mendengar isu-isu rusuh dari beberapa pegawainya yang minta ijin untuk absen. Akhirnya Papa kembali ke rumah menemani Mama.

"Papa bilang kita jangan ke mana-mana dan jangan pulang sendiri. Di dalam sekolah saja lebih aman. Kalau keadaan sudah reda, Papa sendiri yang akan jemput kita."

"Waah....sampai kapan kita mesti menunggu?"

"Yah...tidak tahu..Papa bilang, kalau sampai Papa tidak bisa ke sini juga, lebih baik kita menginap di sekolah saja."

"Haaa?!!" Ci Felice hanya mengangkat bahu. 

---------------


Dear Temans, aduh aku kok jadi nostalgila sendiri pas dapet foto telepon koin ini yak...Kapan terakhir temans pakai telepon beginian?? Dalam situasi apa?

Saya?? UDAH LUPAAAAA!!

-------

Gambar Telepon Umum diambil dari http://img.antaranews.com/new/2015/05/ori/20150515antarafoto-keberadaan-telepon-umum-150515-da-4.jpg

Gambar Mobil Tentara diambil dari http://media.viva.co.id/thumbs2/2010/10/05/97241_pasukan-tni_663_382.jpg

Di Mana NegerikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang