Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
Suatu pagi di hari Selasa, Denise pergi ke dapur untuk meletakkan gelas kotor di tempat cucian. Deepa, Avati dan Shanti sedang sibuk bekerja. Avati mencuci piring sementara Shanti membersihkan ikan. Deepa, seperti biasa, bertugas memasak. Deepa selalu memasak makanan India untuk mereka makan bertiga dan juga masakan untuk penghuni asrama. Ketika Denise masuk, Deepa baru selesai memasak dan sedang menuang kari ke sebuah mangkuk. Ia kemudian membilas wajan dengan air dan menaruhnya lagi di atas kompor. Siap untuk memasak makanan berikutnya.
"Oh! That's why!" Seru Denise. Deepa menengok.
"What?"
"Sekarang aku tahu kenapa masakanmu semua bau India."
Avati dan Shanti berhenti bekerja.
"Semestinya pancinya dicuci dulu, sebelum kamu masak makanan kami."
Deepa menatapnya lurus-lurus, Avati dan Shanti menahan nafas. Deepa memicingkan matanya. Ia mendengus, "That's it! I'm not cooking! Sudah bertahun-tahun aku kerja di sini, belum pernah ada orang yang tidak tahu terima kasih seperti anak Cina ingusan ini!" Deepa membanting centong ke wajan dan pergi dengan suara berdebum. Kepangnya yang panjang berayun-ayun. Avati melongo. Shanti membatu.
"You shouldn't..." Avati menggoyang-goyang jari telunjuknya.
"Kamu sudah menyakitinya." Shanti menambahkan dengan pandangan menuduh. Denise jadi kesal.
"Hey! Aku cuma kasih tahu, kok. Semua orang juga bilang masakannya bau India! "
Shanti dan Avanti tidak menjawab. Mereka hanya memandangnya dengan penuh tudingan.
"She is very sensitive, you know, sejak ditinggal lari suaminya..."
Denise mendengus kesal. Ditinggalkannya Avati yang masih berbicara. Ia muak. Ia hanya memberi tahu. Terdengar menegur, memang. Tapi ini 'kan untuk kebaikan semua orang?! Deepa bertingkah kekanak-kanakan. Kenapa ia tidak bisa menerima kritik yang membangun? Kenapa sampai sekarang tidak ada yang mau memberitahu Deepa terus terang? Semestinya ia sadar, melihat masakannya sering disisakan oleh penghuni asrama. Avati dan Shanti selalu berusaha menjaga perasaan Deepa karena mereka menganggapnya wanita malang. Orang-orang di asrama menghindari komunikasi dengannya karena ia seram. Deepa sendiri tampak menikmati keadaan itu.
Kejadian itu membawa efek langsung. Makanan berubah jadi enak. Tidak bau India lagi. Kwetiau bau kwetiau. Ayam kecap bau kecap. Denise puas. Orang-orang seasrama sudah sepatutnya berterima kasih padanya. Beberapa hari sudah ia tidak melihat gelambir lemak Deepa. Mungkin ia kesal dan menghindar. Kira-kira seminggu kemudian baru ia tahu mengapa Deepa tidak kelihatan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sun, Avati minta tolong padaku untuk kasih tahu ke kamu." Wajah Ci Felice serius.
"Apaan?"
"Deepa...dia sudah seminggu tidak keluar dari kamar. Ngambek."
"Apa urusannya denganku?"
"Avati minta tolong kamu minta maaf, atau bicara sama dia gitu..supaya dia mau kerja seperti biasa. Selama ini yang masak itu Avati dan Shanti. Padahal mereka masih mengerjakan pekerjaan mereka juga. Mereka kewalahan."
"Lho! Ya itu urusan mereka dong! Masa aku mesti minta maaf? Aku nggak salah kok!" Denise menolak mentah-mentah.
Ci Felice diam. Ci Felice tahu betapa keras kepala dirinya. Ia sudah ada ketika Denise menangis sekeras alarm kebakaran di bangsal rumah sakit enam belas tahun yang lalu. Tiga hari kemudian, Avati dan Shanti yang datang langsung menghadap.
"Please, miss. Dia hanya makan sedikit, nggak jajan lagi. Ini seperti waktu suaminya kabur. She almost killed herself." Avati memelas, "Miss, satu kata saja darimu, dan dia akan bekerja seperti biasa lagi."
Denise mendelik, "Kalian ini! Melindungi dia seperti anak kecil! Memangnya kenapa kalau dia tidak makan seperti biasa? Bagus malah! Supaya jangan terlalu gembrot!" Denise tidak menginginkan Deepabekerja seperti biasa lagi. Itu berarti makanan menjadi tidak enak lagi, dan ia harus tahan menghadapi tingkah Deepa yang sok jago.
"Denise..." Merry menggelengkan kepalanya, kagum. "semua orang di rumah ini nggak ada yang berani sama Deepa. Kamu malah cari gara-gara."
"Hei! Aku bukannya cari gara-gara! Aku cuma kasih tahu dia bagaimana supaya bisa masak dengan lebih baik!"
Merry langsung tutup mulut. Denise tidak mengerti pikiran orang-orang, hal yang begitu sepele saja diributkan! Semua orang berpihak pada Deepa dan menyalahkan dirinya. Ini bukan masalah siapa yang malang dan siapa yang harus dikasihani. Ini soal bagaimana orang belajar dari kritik!
Dan tiba-tiba saja, pada suatu hari, ia melihat sosok Deepa bekerja seperti biasa. Punggungnya yang selebar gentong menghadap kompor. Ketika berpapasan dengannya, Deepa mengirim lirikan maut dan mendengus seperti kerbau. Denise tidak mau kalah. Ia membalas tatapan Deepa dengan galak.
"Akhirnya si Deepa mau kerja lagi tuh..mungkin dia sadar, tingkahnya seperti anak kecil." Denise melontarkan pesan kemenangan pada Ci Felice.
"Iyalah...aku minta maaf soalnya."
"Hah?! Untuk apa? Cici 'kan nggak ada urusan dengan dia!"
"Yah...aku minta maaf saja..." suara Ci Felice mengecil.
"Minta maaf bagaimana?!"
"Mm...aku minta maaf ..atas nama kamu..." Ci Felice menggigit bibir. Denise pun meledak.
"Untuk apa! Itu tindakan bodoh! Minta maaf padahal kita tidak salah. Deepa itu keenakan tahu!" Pantas saja Deepa memandangnya dengan mata sinis. Ini satu hal yang ia kurang suka dari Ci Felice. Ci Felice lebih cinta damai daripada kebenaran.
"Sudahlah Nis. Ingat, kita di sini orang baru! Kalau keluar dari sini, kita mau tinggal di mana? Masa Papa harus datang lagi untuk mencarikan tempat tinggal?! Atau kamu mau kembali ke asrama Guang Ming lagi?"
That's it. Ancaman itu mengenainya telak. Sejelek-jeleknya Paviliun Nehi, masih jauh lebih baik daripada kembali ke kamarnya di asrama dulu.
-----------
JRENG JRENG...GIVEAWAY lageee!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
----
Gambar angry Indian lady diambil dari http://www.reckontalk.com/wp-content/uploads/2014/06/Things-that-Every-Indian-Mom-says-14.jpg
Gambar chicken kwetiau diambil dari http://blog.supadezign.com/wp-content/uploads/2008/08/hefen04.jpg