She's Not Even...

429 46 13
                                        

Novita Salim

Berbekal surat keterangan dari polisi, kami mengungsi ke Amerika dengan visa Asylum, karena kakak sepupu Mami, ada di sini. Setiap kali pulang ke Jakarta, Engku selalu bawa banyak oleh-oleh dan omong besar, kami pikir dia sudah sukses dengan usaha supermarket Chinese-nya di Amerika. Itu salah satu faktor yang mendorong kami untuk datang ke sini. Kami pikir Engku cukup mapan untuk menolong kami. Papi dan Mami sudah siap bekerja di supermarket Engku. Ternyata, setelah sampai di sini, kami baru tahu bahwa dia tidak lebih dari seorang tukang angkut barang. Kalau barang-barang baru datang dari produsen, Engku yang mengangkutnya ke gudang, dan juga, kalau diperlukan, Engku yang mengangkutnya ke rak.

Bantuan yang bisa Engku berikan pada kami, cuma sebatas mengenalkan Papi dan Mami pada teman-temannya, yang kondisinya juga tidak jauh berbeda dengan dirinya sendiri. Dengan koneksi seperti itu, yah..apalah yang bisa diharapkan? Papi mendapat kerja menjadi tukang antar barang, sementara Mami jadi cleaning service di kantor-kantor.

Sad, isn't it? At least, di Indo, Papi dan Mami punya bisnis sendiri. Tuan akan hidup mereka sendiri. Di negara maju seperti ini, mana mungkin orang setua Papi dan Mami-ku yang tidak pernah lulus universitas diterima bekerja dengan mudah? Bahasa Inggris mereka juga seadanya. Mereka hanya bisa kerja kasar, Nis.

Sekolah? Ah, Denise, kamu tahu, kami mengungsi dengan terbirit-birit, sampai waktu mau mendaftar sekolah, aku baru sadar, aku belum lulus SMP! Aku tidak pernah ikut ujian kelulusan sampai selesai, karena pada hari terakhir itu aku mendekam di rumah. Well..yah...waktu itu umurku sudah 15 tahun, dan hanya punya ijazah SD. Rencana yang bisa kami pikirkan adalah minta tolong pada Engku untuk membelikan ijazah palsu di Indonesia kalau dia berlibur ke Indonesia. Karena kami datang dengan status asylum, kami tidak bisa keluar dari Amerika dengan sembarangan, you know. Kalau kami kembali ke negara asal yang begitu ingin kami tinggalkan, tidak masuk akal bukan? Visa kami bisa dicabut.

Engku sendiri bukan orang kaya yang bisa pulang ke Indonesia kapan saja ia mau. Jadi, sambil menunggu tabungan Engku terkumpul, satu-satunya sekolah yang bisa menerimaku adalah sekolah khusus untuk orang-orang yang putus sekolah, yang mau menerima siapa pun tanpa memandang riwayat pendidikan.

Oh, Denise, sekolah itu isinya aneh-aneh. Ada kakek-kakek yang putus sekolah karena perang dan sekarang ingin belajar kembali, ada ibu-ibu yang putus sekolah karena hamil sewaktu remaja, ada juga sih, anak-anak muda yang umurnya tidak jauh dariku, tapi mereka itu bekas pengguna narkoba yang sempat drop out karena masuk panti rehabilitasi! So, kamu bayangkan deh..apa bisa aku berteman dengan mereka? Aku takut! Yang paling normal cuma aku dan kakek itu, dan berteman dengan kakek-kakek is just no fun. Jadi pagi-pagi aku pergi, belajar, kemudian pulang. Paling-paling aku bertegur sapa sedikit.

Aku memohon-mohon pada orang tuaku supaya aku boleh berhenti saja, tapi mereka bersikeras aku harus ke sekolah supaya ada kegiatan setiap hari, jadi aku bertahan di sana, sampai usiaku yang ke-18, dan kemudian mencari kerja. Oh ya, sampai sekarang Engku belum pulang juga ke Indonesia. Uangnya habis untuk berjudi dan untuk pacarnya, seorang tante dari Meksiko. Dia tidak peduli sama sekali kalau ijazah SMP, biar palsu sekali pun, sangat penting untuk masa depanku.

Ah...seandainya saja yang ketinggalan itu cuma barang biasa, tentu mudah saja aku minta tolong dikirim, atau menitipkannya pada teman yang pulang ke Indonesia. Tapi aku 'kan tidak mungkin menitip ijazah palsu pada orang yang bukan keluarga sendiri? Siapa yang mau? Aku juga tidak mau jadi omongan orang di kemudian hari.

Yah, begitulah. Makin lama niatku untuk sekolah pun makin menipis, sampai akhirnya benar-benar lenyap. Yah sudahlah...memang bukan nasibku untuk sekolah.

Di Mana NegerikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang