Dilarang Keras Menjadi Lebih Makmur

852 81 14
                                        



Sehabis menelepon Papa, Denise selalu menelepon Ci Felice. Ia tidak peduli kalau ada orang yang memergokinya menangis di telepon umum. Bicara dengan Ci Felice adalah satu-satunya saat ia bisa melepaskan uneg-unegnya.

"Ci..."

"Sun-sun...kenapa? Habis nelpon Papa lagi?"

"Sun-sun nggak tahan di sini Ci...Sun-sun nggak suka.."

"Sun....habis mau bagaimana lagi... " helaan nafas Ci Felice di seberang begitu jelas. "

"Cici sih enak..." Situasi Ci Felice jauh lebih baik. Sekolah Ci Felice menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, tempat tinggal Ci Felice juga jauh lebih enak.

"Kamu tahu Sun, hari ini Cici belajar tentang macam-macam cocktail."  Ci Felice mengalihkan pembicaraan, berbagi isi pelajarannya yang menarik. Table manner, manajemen hotel, beda cappuccino, espresso, café latte, dan masih banyak lagi. Denise belum pernah melihat Ci Felice begitu bersemangat belajar. Suaranya juga selalu riang.

"Ada minuman yang namanya Bloody Mary. Masak dibuat dari vodka dan jus tomat?!" Tawa Ci berderai, "Masih ditambah Tabasco pula! Nggak kebayang deh rasanya!" 

Denise tersenyum sunyi. Berterima kasih akan usaha Ci Felice menghiburnya.

Ci Felice memang seperti air. Selalu mengalir, mengambil bentuk wadahnya. Tampaknya ia senang-senang saja dialokasikan ke Penang oleh Papa. Sementara dirinya, seperti ikan sungai yang tiba-tiba dilempar ke laut, gelagapan. Bukannya menemukan petualangan dan jati diri, ia malah terseok-seok, nyasar dan kebingungan. Setiap pagi ia berharap supaya malam cepat datang, supaya bisa cepat-cepat memejamkan mata dan melarikan diri dari kenyataan. Nafasnya menghirup kebosanan dan menghembuskan keputusasaan.

Ia mengutuki nasibnya yang terlahir di Indonesia, sehingga harus mengalami kerusuhan, sehingga harus mengungsi. Siapa yang pernah meminta terlahir jadi orang Cina perantau? Tidak ada! Setiap orang diletakkan Tuhan dalam peta yang Ia buat. Ditata demikian rapi, disebar memenuhi bumi di sudut-sudut yang berbeda. Tetapi, selalu ada kelaparan, peperangan dan gemerlap negara tetangga yang membuat orang melangkahi batas wilayah asalnya.

Kalau orang bertanya, "Kamu orang Indonesia?" Denise selalu menjawab, "Ya, saya Chinese Indonesia." Dia tidak merasa "Indonesia" lebih rendah daripada "Chinese Indonesia". Tapi ia ingin orang mengenalnya sebagai keturunan Cina perantau, yang nenek moyangnya begitu gagah berani, menyusuri laut sampai ke khatulistiwa, sukses berkat kerja keras. 

Ia bangga akan Papa, yang masa kecilnya diisi dengan mendaur ulang batere bekas, untuk menambah nafkah keluarga, akan Mama yang berbagi satu telur dengan tiga saudaranya supaya otak miskin mereka bisa dengan adil mendapat protein yang cukup untuk belajar, akan para leluhurnya yang menelan segala kepahitan hidup demi mengejar hidup yang lebih baik.

Ia bangga akan Papa, yang masa kecilnya diisi dengan mendaur ulang batere bekas, untuk menambah nafkah keluarga, akan Mama yang berbagi satu telur dengan tiga saudaranya supaya otak miskin mereka bisa dengan adil mendapat protein yang cukup untuk ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Namun, tanpa sadar mereka telah melanggar hukum universal: PENDATANG DILARANG KERAS MENJADI LEBIH MAKMUR DARI PENDUDUK ASLI. Seharusnya, Hoa Kiao  *5) tidak boleh punya pabrik, tidak juga toko, apalagi memperbabukan penduduk asli. Seharusnya, mereka tetap tinggal di pinggir kota, di pinggir kali sekalian, bersembunyi di balik rawa-rawa. Menjadi lebih makmur daripada penduduk asli, itu artinya cari gara-gara. Menghabiskan sumber daya alam, menyempit-nyempiti tanah yang sudah sempit, hidup enak di atas penderitaan kaum pribumi. Siapa yang peduli kalau setiap jengkal tembok rumah mereka berasal dari peluh berpuluh-puluh tahun dan tabungan bergenerasi-generasi? Tidak ada! Tidak ada yang ingat akan pejuang-pejuang Cina yang ikut mengusir Belanda dan Jepang. Yang terus-menerus terpatri adalah fakta bahwa mereka pernah dianakemaskan kumpeni.

Orang Cina putih, sipit, makan babi, dan menyuruh-nyuruh. Mereka tidak seperti orang-orang India yang menguasai tekstil, kulit mereka tidak coklat. Mereka tidak seperti orang-orang kulit putih di Jakarta Selatan, rambut mereka hitam membosankan. Tidak pula menyerupai orang Jepang, yang royal memberi tip. (Mungkin sebagai usaha menebus dosa leluhurnya yang menjajah dengan kekejaman luar biasa?). Orang Cina irit menjurus pelit. Dari penampilan sampai ketrampilan, mereka adalah makhluk dengan kombinasi paling salah yang bisa terjadi.


*5) Cina perantau


------

Berulang-ulang saya baca teks bab ini, ragu2 apa mesti dipotong biar lebih halus. Kasar gak sih? Tapi di lain pihak, saya merasa perlu mencoba menempatkan diri sebagai penduduk asli, walaupun saya tidak pernah jadi penduduk asli di negara mana pun yang saya tinggali.  

Ke mana pun saya pergi, karena saya orang baru, selalu ada yang curiga dan main pukul rata, biasanya nih org pendatang paling cuek urusan sampah, buang sampah sembarangan gak dipisah daur ulang atau nggak, jorok! Biasanya org negara ketiga kayak gini, paling seneng nyebokin (maaf! tapi ini kenyataan!)  anak di wastafel tempat orang cuci muka, gosok gigi, WC juga mestinya duduk malah jongkok, jadi kotor deh tuh dudukannya, WC kering jadi basah licin jorok. Biasanya org2 pendatang  memporak porandakan sistem yang sudah rapi dan harmonis bikin orang2 lama jadi terganggu. Keluar pun, mereka main pulang saja ke negaranya, meninggalkan tagihan-tagihan tanpa dibayar.

Ini membuat saya selalu mengingatkan diri, hati-hati, kalau di negara orang, senyum banyak-banyak, berlaku ramah, suka membantu, lihat kanan kiri, jadi kalau gak sengaja salah, orang bisa maklum, karena memang budaya kita berbeda, bukan karena sengaja.

--------

Gambar ikan pindah akuarium diambil dari : http://www.eu4journalists.com/images/dossiers/immigration.jpg

Gambar dilarang diambil dari : http://www.eu4journalists.com/images/dossiers/immigration.jpg

Di Mana NegerikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang