Bukannya Dibantai

1.2K 92 9
                                        



Keesokan harinya sekolah selesai lebih awal. Jam 12 siang murid-murid sudah boleh pulang. Sekolah memberikan waktu bagi mereka yang merayakan tahun baru Imlek berkumpul dengan keluarga. Walau masih saja ada yang nakal, sama sekali tidak datang. Murid-murid yang seperti ini dapat jatah 'ALPA' di rapor. Denise sekeluarga harus mengunjungi dua rumah, rumah A Pek, dari pihak Papa, dan rumah Engkong, dari pihak Mama.

Kunjungan ke rumah A Pek hanya berlangsung sebentar saja, karena malam sebelumnya mereka sudah puas bercengkerama. Denise dan Ci Felice mengucapkan selamat tahun baru. Mereka mengantungi Angpau yang diterima. Mereka hanya bertandang selama setengah jam di sana dan kemudian langsung menuju rumah Engkong.

Rumah Engkong sudah penuh ketika mereka datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di ruang tamu para tamu pria duduk. Pembicaraan mereka biasanya berkisar antara harga BBM, performance bisnis masing-masing dan isu-isu politik. Sedangkan wanita dan anak-anak bergabung di ruang keluarga. Di sini, tips-tips memasak, jurusan kuliah yang akan diambil oleh si A, rencana pernikahan si B dan kenakalan anak-anak yang menjadi tema obrolan.

Meja makan bergelimang dengan daging ikan, babi, ayam dan sapi dalam berbagai bentuk. Ada yang diolah menjadi bakso, menjelma jadi sosis atau ditusuk sate. Seolah belum cukup, kue-kue kering dan kacang-kacangan juga memenuhi meja rendah di depan televisi. Anak-anak kecil berlarian ke sana ke mari dengan baju tradisional Cina berwarna terang.

Dulu, Denise dan sepupu-sepupunya selalu bermain ular naga, tak jongkok, dan semua permainan seru lainnya. Tapi sekarang, semuanya menginjak usia remaja, duduk berdesak-desakkan dengan canggung. Denise merasa jauh lebih nyaman berbicara dengan Dinda daripada dengan sepupu-sepupunya yang hanya ditemuinya beberapa kali dalam setahun.

"Sun, nih bawa ini ke ruang tamu." Denise menyambut piring yang penuh berisi jeruk dari Mama dan beranjak. Ia butuh selingan.

"AAAaaa.... Ini dia...sini, sini." Denise menurut dan duduk di samping Papa. Papa menggenggam sebuah album foto, sementara I Cong A Kim menceritakan betapa indahnya kota Sydney, tempat anak-anaknya menuntut ilmu.

"Nanti kalau anak sudah lulus, mereka bisa cari kerja dan daftar status Permanent Resident. Kalau sudah PR, mereka bisa sponsori kita, orang tuanya." I Cong memutuskan Sydney sebagai perhentian terakhir sesudah pensiun nanti. Banyak Chinese Indonesia yang tinggal di sana, tambahnya, tidak sulit mencari teman. Makan pun tidak susah karena banyak restoran Chinese Food dan Indonesian food. Jalanannya bersih, gedung universitasnya bagus dan modern, udaranya mild sepanjang tahun. Tempat di mana orang Cina bisa tetap jadi Cina sambil menikmati fasilitas negara Barat.

Ketika waktu menunjukkan pukul 6 sore, orang-orang pun berpamitan pulang. Sebelum pulang, para ibu mengantungi sisa masakan yang ada. Setelah keributan mencari tas dan sandal, suara pintu-pintu mobil yang ditutup mengakhiri kunjungan kekeluargaan tahunan ini. Beberapa tukang parkir gadungan tiba-tiba muncul entah dari mana.

"Tadi I Cong A Kim promosi Sydney. Wih...aku sampai disuruh minta disekolahin di sana sama Papa." Ujar Dennis.

"Yah...memang tinggal di luar negeri lebih enak, jalanan bersih, ekonomi maju, pendidikan bagus. Tapi 'kan banyak juga yang tidak kita dapatkan di sana. Mana bisa kongkow-kongkow sama saudara seperti sekarang? Lagipula mau kerja apa? Papa sudah tua, susah untuk memulai hidup dari awal di tempat yang sama sekali baru.

Papa mengangkat bahunya, "Yaah..kita memang bukan orang Indonesia asli. Tapi inilah negara kita. Biar jelek, biar miskin, biar banyak tukang parkir liar. Kalau didiskriminasi sedikit-sedikit kita terima saja. Bukannya dibunuh atau dibantai 'kan? Masih bisa hidup enak di sini. Buat apa ke luar negeri? "

Di Mana NegerikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang