Hi Guyz,
Does my name ring a bell? Hopefully yaaa..
Saya penulis Omiyage, Sakura Wonder, Only Hope dan Wander Woman.
Ini pertama kalinya saya posting naskah di Wattpad. Berbeda dengan novel yang begitu diterbitkan lepas hubungan, di Wattpad, saya te...
Tentu saja, ada kebijakan pengkotak-kotakan yang terkenal itu." Ko Edward menghirup café latte-nya. Buih-buih busa di pucuk bibirnya ia hapus dengan jari-jarinya yang seperti dawai biola. Dengan pilar-pilar bergaya Romawi dan langit-langit mal yang penuh dengan fresco awan di sekelilingnya, Ko Edward tampak seperti titisan filsuf dari jaman Plato.
"Itu benar-benar ada ya? " tanya Denise antusias. Ia belum pernah punya teman bicara yang punya pengetahuan begitu luas. Ko Edward mengangguk.
"Sistem pengkastaan, Belanda membatasi profesi orang Cina, mereka hanya boleh berdagang. Tapi sama seperti orang Yahudi, pembatasan ini justru membuat orang Cina jadi pengusaha ulung. Mereka punya network yang menjangkau negeri Tiongkok, punya sanak saudara di daratan Cina yang bisa dijadikan partner impor ekspor." Denise mengangguk. Apa yang dikatakan Ko Edward masuk akal.
"Pemerintah Indonesia, pada tahun 1959, melarang orang Cina untuk berdagang di pedesaan dan kota kecil, tujuannya supaya pedagang pribumi bisa berkembang dengan berkurangnya saingan. Akibatnya, para pedagang Cina ini memindahkan basisnya ke kota-kota besar dan malah sukses di sana, dengan skala yang berlipat ganda, karena volume perdagangan kota besar, tentu saja, jauh lebih besar!"
"Hmm...dari mana Koko tahu semua ini?" Denise tidak kuasa menyembunyikan kekagumannya.
"Dari buku dong. Dari mana lagi? Buku itu jendela ilmu! Makanya jangan chatting dan surfing saja!" Plok. Ko Edward menepuk kepalanya dengan lembut.
"Alaaah...paling-paling Koko tahu dari buku pelajaran, 'kan memang Koko belajar International Relations!" Sergah Denise, wajahnya memerah tersipu.
"Hmm...nggak juga sih...aku sudah tahu sejak SMA. Aku memang tertarik dengan issue ini sejak dulu. Waktu masih SD, aku pernah dihukum karena tidak masuk sekolah waktu Xin Jia. Aku diharuskan menulis sebanyak lima ratus kali : 'Saya tidak akan bolos lagi pada hari Imlek.' " Denise terkikik.
"Ironisnya, guru yang menghukumku itu pun orang Cina. Waktu aku bertanya, kenapa untuk lebaran ada dua hari tanggal merah sementara kita dianggap bolos kalau merayakan Xin Jia?" Ko Edward mendesah, "Aku kira ia akan menjewerku, tapi ia malah menjawab, 'Aku tidak tahu, Edward. Bagaimana kalau kamu cari tahu?' "
Ko Edward terdiam, dahinya berkerut-kerut, "Aku cinta Indonesia. Dan aku tahu banyak orang Cina sepertiku di Indonesia. Hanya saja, kita belum diberi kesempatan untuk menunjukkannya. Malah terus-menerus dijadikan kambing hitam." Ko Edward mengepalkan tangannya, "Kelak, aku mau kembali ke sana dan mengubah Indonesia, menjadi negara yang fair, negara yang bisa menerima setiap orang tanpa sugesti."
Mata Ko Edward memandang ke suatu tempat yang tidak bisa ia lihat, ke suatu masa yang entah kapan akan datang. Denise merasa kagum, salut, hormat, pada pemuda yang satu ini. Betapa luhur cita-citanya! Betapa sederhana motivasinya!
Ko Edward adalah orang pertama yang berbagi kerinduannya untuk pulang ke Indonesia. Selama ini, semua orang yang ditemuinya selalu mengelu-elukan tinggal di luar negeri. Bahkan di negara yang tidak habis-habisnya didera terorisme seperti Amerika. Twin Tower, Anthrax, dan belum sampai seminggu yang lalu, seorang teroris yang gagal meledakkan bom yang ia sembunyikan di sepatunya ditangkap. Perang melawan terorisme yang dicetuskan Presiden Bush bukan tidak mungkin menyulut balas dendam yang lebih dahsyat.
Kalau dipikir-pikir, masih lebih aman tinggal di Indonesia!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.