Walaupun Banyak

645 60 45
                                        


Awal Juni 2006

Denise melongok ke atas. Sebuah pesawat berwarna putih membelah awan dengan moncongnya yang runcing. Ia bertanya-tanya, apakah Ko Edward duduk di dalamnya. Ia tidak bisa melepas Ko Edward di bandara karena harus berangkat pada hari yang sama. Tapi kalaupun bisa, ia sangsi apakah ia akan melakukannya.

"Nis."

"Ya?" Dinda menatapnya iba. Mereka sedang berada di dalam kereta yang menuju Jogja. Denise langsung mengajukan diri untuk ikut dalam rombongan sukarelawan dari Gereja Dinda yang akan terjun langsung ke daerah bencana. Ia butuh melakukan sesuatu yang dahsyat. Yang bisa membuatnya melupakan Ko Edward. Baru dua minggu yang lalu, sebuah gempa memakan korban ribuan jiwa di Jogja.

"Kamu pasti memikirkan dia, ya?" Denise mengangkat bahu dan tertawa, "Memangnya nggak boleh?" ia menjawab dengan ceria.

"Kamu tidak menyesal?"

"Menyesal? Tentu saja tidak." Denise melayangkan pandangannya. Hamparan sawah yang hijau menyambut matanya. Terkotak-kotak rapi, tinggi benih-benih padinya pun seragam. Tirai kapas di angkasa tidak cukup menghalangi cahaya matahari yang perkasa.

So beautiful.

Bagaimana mungkin Ko Edward meninggalkan semua ini?

Panjul, Ferry, Ko Edward, ia baru mengerti, mereka semua adalah angan-angan semu yang ia gunakan untuk mengganjal kerinduannya pulang. Ko Edward, ah..Ko Edward, kalau dipikir-pikir, ia mencintai mimpi Ko Edward, bukan pribadinya. Tapi ia berterima kasih Edward Tjandra karena telah membuka jalannya kembali ke tanah air.

Bayang-bayang foto dari tempat bencana yang diperlihatkan Dinda berkelebatan di kaca jendela. Anak kecil yang kakinya dililit perban putih dengan rembesan darah, seorang ibu yang menangis di depan jenazah, potongan kaki dan tangan yang mengintip dari bawah reruntuhan, gagal menggapai hidup. Bagaimana mungkin Ko Edward memalingkan mukanya dari orang-orang ini?

Denise berbisik lirih, "Bangsa ini membutuhkanku."

TAMAT

Walaupun banyak negri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Di sanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan ..

~Ibu Soed~

Dear Teman-teman yang sudah menemani saya sampai garis akhir

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dear Teman-teman yang sudah menemani saya sampai garis akhir...

MAKASIH BANYAK!! I LOVE YOU!!

Maaf kalau di belakang2 gini bab-nya jadi pendek, karena memang saya sesuaikan dengan mood. Eh tapi dibilang pendek2, sadarkah teman2 kalau cerita ini sudah berlangsung dari Juli 2016??  Eaaaa~ sudah lebih dari setahun kita 'jalan bareng'. 

Dalam naskah Word saya, dengan font 12 pt Times New Roman, halaman terakhir jatuh pada halaman 527!! PRENZ!! Kebayang gak sih kalau jadi buku setebel apa??!!

Di awal2 saya sempat update seminggu dua kali, sampai ngos2an sendiri. Walaupun cerita ini sudah selesai lama banget, tapi setiap sebelum upload, saya edit lagi takut ada typo, saya ukur mood-nya enaknya berhenti di mana, saya potong yang rasanya tidak relevan, saya jelaskan bagian yang membingungkan, dan terus mesti cari gambar..hadeh..cari gambar ini tidak mudah ya..soalnya gak semua pas dengan bayangan saya. Akhirnya tiap kali upload bisa habis 1 jam sendiri.

Sering banget saya merasa nyesel udah upload di Wattpad, merasa terikat, Sabtu Minggu kan sibuk tuh, mau ke sana-ke mari, kadang dari pagi udah heboh bersih2 rumah etc etc, eeehhh...tapi mesti meluangkan waktu untuk upload lagi..haisss..

Tapi pride saya terlalu besar untuk give up and stop. No. That's not me. I finish what I start. 

Sekarang naskah ini selesai, saya bernafas lega, beban saya berkurang saya bisa ada waktu luang untuk senang2 nonton drama or baca buku lagi.

Untuk sementara mungkin saya mau istirahat dari Wattpad dulu. Walau yah, emang sih sesuka2 kita pan, upload-nya? Mana bisa?! Ini kontrak antara pembaca dan penulis. Sekali mulai mesti diselesaikan dengan pasti.

Ke depan mungkin saya akan upload beberapa naskah yg tertimbun, naskah2 yang lebih pendek, puisi2, oret2an saya yang lama2, latihan waktu dulu belum jadi penulis yang published.

Minggu depan ...yah..tuh..udah ngomong jadi wajib deh..hehehe..minggu depan saya niatnya mau tulis latar belakang dibuatnya cerita ini.

Thanks for reading, thanks for following, thanks for commenting, thanks for voting. Thanks beribu thanks pangkat seribu!!

Aku untukmu!!!

Aku untukmu!!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Gambar pesawat diambil dari https://cdn.shutterstock.com/shutterstock/videos/4486574/thumb/2.jpg

Gambar anak-anak berlari dengan bendera diambil dari https://i.pinimg.com/600x315/9b/58/44/9b5844e18e3844eacbed0f01c4b157fb.jpg

Foto bunga : koleksi pribadi

Di Mana NegerikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang