Kalau Memang Jodoh

408 46 1
                                        


Pertemuannya dengan Novi membuatnya terhubung kembali dengan teman-teman lamanya. Teman-teman SMP yang dulu tidak terlalu akrab, tapi sekarang sama-sama punya waktu di depan komputer. Kadang-kadang, kalau Novi sedang meminjam komputernya untuk chatting, Denise pun urun rembug.

Suatu ketika Novi memekik dan memanggilnya, "Sini! Sini!"

"Apaan sih?"

"Aku lagi chatting..sama Ferry!"

"Ha!!"

"Dapat ID dari mana?"

"Dari Donny, bekas teman sebangkuku dulu. Ayo! Sini! Mau ikutan nggak?"

"Iiihh..." Di benak Denise, terbayang-bayang muka Ferry yang ia timpuk dengan kotak pensilnya dulu.

"Tuuh..muka kamu jadi merah! Ayo sini!"

"Nggak ah! Nggak..!"

"Tapi aku sudah bilang kalau aku sedang di rumah kamu!"

"Ha!"

"Ayolahhhh! Sini!!" Novi terus memaksanya.

"Nggak ah! Nggak! Ngg...kapan-kapan. Bilang aku lagi di kamar mandi!" Denise berbalik dan kabur.

"Yeeee!!" 

Denise masuk ke dalam WC dan mengunci pintu. Denise tidak menyangka kalau cinta monyetnya masih bisa membangkitkan perasaan seperti ini di dadanya. 

Ia duduk diam-diam di atas tutup jamban dan membolak-balik majalah yang ada. Namun, tetap saja, pikirannya tidak bisa lepas dari Ferry. Setelah diingat-ingat, rasanya mereka belum putus dengan resmi. Pipinya memanas. Bagaimana kalau Ferry masih menyukainya? Kalau dia mengajaknya jadian lagi? Ia tidak pernah merasakan apa-apa dengan Ferry, hanya Panjul yang pernah membuatnya jatuh cinta, dari dulu, sampai sekarang. Tapi bukankah kata Mama, lebih baik dicintai daripada mencintai?

Di mana Ferry sekarang? Jangan-jangan di Amerika juga? Tapi di mana pun dia berada, menjalin cinta jarak jauh bukanlah hal yang tidak bisa dilaksanakan. Ada telepon, ada YM, ada liburan-liburan panjang yang memungkinkan mereka ketemu. Aih...jangan-jangan Ferry-lah jodohnya? Bukankah orang selalu berkata, kalau sudah jodoh, tidak akan lari ke mana? Buktinya, setelah bertahun-tahun mereka berpisah, setelah ia sempat mengungsi ke Singapura, Malaysia, Cina dan sekarang ke Amerika, ternyata mereka, ketemu lagi, tuh!

Tapi tunggu dulu, jangan-jangan Ferry sudah punya pacar? Ah....ya...kemungkinan itu besar sekali. Tampangnya cukup lumayan, keluarganya cukup kaya, hmm...gadis-gadis di sekitarnya pasti tidak membiarkannya kesepian.

"EH! Gak usah lama-lama di situ! Aku sudah selesai chatting-nya kok!" Novi dengan genit menggodanya dari balik pintu.

"Iya, aku juga sudah selesai kok!" Denise memencet tombol flush supaya Novi tidak curiga.

"Gimana dia? Apa kabarnya?" 

Novi tergelak dan mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan hidung Denise, "Tuh, kan, kamu masih suka sama dia!" Denise menepis tangan Novi, "Ih...apaan sih!" sambil memalingkan muka, berjaga-jaga kalau mukanya memerah lagi.

"Dia ada di London sekarang."

"Oya?" Novi kemudian memberitahunya kalau Ferry sekarang kuliah di London. Architecture.

"Wah!"

"Nah...sekarang kamu nyesel 'kan putus sama dia! Hahahaha!" Denise cembetut. Novi masih terus bercerita, kalau Ferry sebenarnya dikirim ke Boston setelah kerusuhan, kota di mana kakaknya menuntut ilmu. Setelah menghabiskan masa SMA di sana, ia memilih pergi ke Inggris untuk meneruskan sekolah.

Di Mana NegerikuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang