Shraddha baru saja terbangun dari tidurnya. Setelah Varun pergi bekerja, selesai sarapan dirinya memilih untuk kembali tidur. Ia mengerjapkan matanya, menatap kearah jam dinding besar yang tergantung di dinding kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, ternyata dirinya sudah tertidur cukup lama.
Drtt..drtt..drt..
Ponsel miliknya yang berada di atas nakas berbunyi. Menandakan sebuah panggilan masuk. Tanpa bangkit dari tidurnya, ia pun meraba kearah nakas dan mencari keberadaan ponselnya.
My bro.
Nama itu tertera di dalam ponselnya, itu Kakaknya, Alvin. Tanpa menunggu lama ia langsung menggeser tombol hijau, dan menerima panggilan suara dari saudara kandungnya itu.
"Halo." Sapa Alvin di seberang sana.
"Halo Kak." Balasnya seadanya.
"Kamu sedang berada di kamarmu? Jika iya turunlah ke lantai bawah, ada aku disini."
"Ha?" Beonya. Alvin ada di bawah? Apakah Kakaknya itu sedang mengerjainya?
"Turunlah Shraddha, aku menunggumu."
Tut.
Panggilan telepon yang baru saja ia terima, terputus secara sepihak.
Dirinya langsung saja bangkit dari tidurnya, bergegas untuk turun menuju ke lantai bawah menemui Alvin, Kakaknya.
-
-
-
"Bhaiyaa!!" Pekik Shraddha senang ketika melihat kearah sofa ada sosok Alvin yang sedang duduk seorang diri. Ternyata memang benar bahwa Kakaknya itu sedang menunggunya di lantai dasar. Ia pikir Kakaknya itu sedang mengerjainya sebelumnya. "I Miss youu." Lanjutnya sambil memeluk tubuh Alvin dengan erat.
"I miss you too.." balas Alvin tersenyum sambil membalas pelukan adik tersayangnya itu.
"Aku pikir kakak membohongiku." Gumamnya masih dalam posisi memeluk tubuh tinggi besar Alvin.
Alvin terkekeh, mengecup puncak kepala Shraddha sekilas kemudian berkata. "Aku merindukanmu, jadi aku langsung menemuimu."
"Kakak belum pernah kemari. Dan bagaimana bisa Kakak mengetahui mansion ini?" Tanya Shraddha seraya melerai pelukannya.
"Aku punya indra keenam, jadi aku bisa tahu."
"Kakakk seriuslah..." Rengek Shraddha dengan nada manja.
"Baiklah-baiklah. Aku tahu dari Varun. Sebelum datang kemari, aku mengirimnya pesan dan menanyai dimana alamat rumah kalian."
"Jadi Varun tahu lebih dulu bahwa Kakak akan kemari?"
"Tidak, aku hanya bertanya dimana alamat rumah kalian. Tapi aku tidak memberitahunya bahwa aku akan berkunjung kemari."
Shraddha mengangguk mengerti. "Oh ya Kakak ingin makan sesuatu?"
"Minum saja."
"Tunggu sebentar ya." Shraddha kemudian mengalihkan pandangannya kearah seorang maid yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. "Buatkan minuman, dan bawa beberapa cemilan!" Perintahnya kemudian pada maid tadi. Maid itupun mengangguk mengerti, dan bergegas berjalan kearah dapur.
"Sudah menjadi seorang Nyonya yaa.." goda Alvin seraya menaik-turunkan alisnya.
Shraddha pun hanya membalas dengan tersenyum simpul.
"Ayo duduk Kak." Ajaknya kemudian, mempersilakan Alvin untuk kembali duduk.
"Thank you." Balas Alvin kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di sebelahnya.
