PERAN PENGGANTI [13]

94 26 12
                                        

Malam gala premiere yang riuh penonton, Yumna melingkarkan jemari lentiknya menangkup lengan kekar Satya. Berpakaian semi formal tak ingin melebihi kostum para pemerannya.

Duduk manis mendengar pidato singkat mereka di bangku penonton. Raden Ayu tak luput dari perhatiannya. Dia duduk rapi dan anggun dengan rambut bersanggul cantik.

Menyinggung Raden Ayu, saudara tiri Satya memang sudah lama disekolahkan di Australia sedari kecil, anak 15 tahun itu sedarah dengan Satya. Dia tinggal bersama kakaknya yang tak lain adalah anak bawaan Raden Ayu dengan suami terdahulu yang seumuran dengan Satya. Hubungannya dengan Satya sangat tidak dekat seperti orang asing.

"Gimana hubungan kalian? Gunung es itu sudah roboh total kan, Yumna?"

Yumna mengangguk dengan senyum hangat. "Sesuai prediksi ibu. Kejadian kemarin bikin Satya bener-bener berubah."

"Firasat ibu memang ndak pernah meleset. Jadi.." Raden Ayu memiringkan kepalanya menelisik usil, menatap Yumna. "Apa ibu bakal punya cucu dalam waktu dekat?"

Yumna tercekat, dia lalu menggaruk tengkuknya. "Yumna rasa terlalu cepat, bu."

Wanita itu selagi menopang dagu, sedikit bergeser dan berbisik. "Nikmati waktu kalian pacaran setelah menikah. Ndak usah buru-buru kalau memang belum siap punya bayi. Karna setelah ada keluarga lain yang hadir di antara kalian, rasa cintamu akan terbagi." Dia terkekeh singkat. "Ibu ndak yakin, anak kaku itu mau berbagi kamu sama yang lain. Sekalipun itu duplikatnya sendiri."

Membayangkan duplikat Satya hadir di dunia, Yumna rasa lelahnya akan dua kali lipat dibanding sekarang. Membayangkan dia diperebutkan dua sosok posesif, itu cukup menguras emosi dan tenaga.

Sejujurnya aku belum siap, masih ada keinginan yang belum aku capai. Kalau Satya kasih aku kesempatan, aku pengen banget lanjut S2. Tapi, kayaknya dia gak bakal ngijinin. Eum, mungkin aku bakal bujuk dia suatu saat.

"Ibu sudah baikan sama Satya?"

Raden Ayu mengangguk dengan pandangan lurus ke arah panggung. "Lebih baik dibanding sebelumnya. Anak itu bawain ibu, pie dan jus ke rumah. Dia belikan ibu tas model terbaru dari brand ternama. Saking gengsinya, dia tanya ke emban di rumah, apa yang lagi saya gemari."

Aduh, kanebo banget. Satya, Satya..

***

Malam perayaan di hari esok setelah pemutaran perdana film yang sukses besar di Jakarta mempertemukan kembali para insan kreatif dan para kolega bisnis berkelas. Lampu-lampu gala dinner di sebuah hotel berpendar hangat, memantul di atas lantai marmer aula hotel berbintang lima. Musik orkestra ringan mengalun pelan, berpadu dengan suara dentingan gelas kristal dan obrolan berbalut tawa basa-basi.

​Di sudut ruangan, di dekat deretan pilar tinggi berukir klasik, Yumna duduk sejenak di atas sebuah bangku beludru. Gaun gelap glossy yang membalut tubuhnya tampak serasi dengan suasana malam itu. Satya baru saja beranjak beberapa menit lalu untuk menemui salah satu produser senior dan kolega bisnis penting di sisi lain ruangan.

​"Sendirian aja, Yumna?"

​Sebuah suara bariton yang familiar menyapa. Yumna mendongak dan melihat Chandra berdiri di hadapannya dengan setelan jas hitam rapi. Penampilan Chandra kini jauh lebih matang, mencerminkan seorang profesional yang baru menata ulang hidupnya di balik layar industri film.

Yumna belum pernah bertatap muka empat mata secara langsung seperti ini dengan Chandra. Ini pertama kalinya mereka duduk berdekatan.

​"Satya lagi ngobrol sama kolega di ruang lain," jawab Yumna tenang.

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang