Sinar matahari pagi menembus melalui celah tirai jendela kamar, memantul lembut di atas lantai. Di atas ranjang berantakan, Yumna perlahan mengerjap, membuka matanya yang terasa berat. Dia menyadari dirinya yang mengenaskan setelah tragedi semalam.
Begitu Yumna mencoba menggerakkan tubuhnya, gelombang rasa sakit langsung menghantam sekujur ototnya. Helaan nafas berat selagi menghadap langit-langit kamar.
Duh Gusti.. Rasanya kayak abis ketimpa truk gandeng.
Pinggangnya berdenyut nyeri, dan kakinya terasa lemas tak bertulang. Yumna berpikir dia lumpuh dan nyaris panik. Piyama satin baru sudah melekat di tubuhnya. Itu bukan yang dikenakan semalam. Dan dia ingat Satya yang membantunya sekaligus memakaikan kardigan rajut agar tak kedinginan.
Sambil berpegangan pada tepi kepala ranjang, Yumna mencoba bangkit dan memijakkan kakinya ke lantai. Namun, baru satu langkah kecil dia memijak lantai kamar, lututnya langsung bergetar hebat sampai berpegangan pada nakas.
Satya benar-benar menepati ucapannya soal stamina pria yang rutin gym itu, sebuah kenyataan pahit yang kini harus dibayar oleh Yumna dengan sekujur tubuh yang remuk.
Yumna meringis pelan, menggigit bibir bawahnya saat mencoba melangkah lagi. Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Biasanya, jam segini dia sudah harus berkutat di dapur menyiapkan sarapan, mengingat selama liburan sekolah ini Mbak Dewi dan Mbok Inem diliburkan.
Yumna benar-benar menjadi seperti orang lumpuh yang sedang belajar jalan sambil memegangi kursi hingga dinding. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu terdorong dari luar dan dia berhasil mundur tetapi kehilangan keseimbangan.
"Aduh.."
Tepat saat itu ternyata Satya yang membuka pintunya dari luar sehingga ketika Yumna nyaris limbung, Satya sangat sigap melingkarkan lengan menarik pinggang Yumna. Tangan kanan Satya mempertahankan nampan berisi mangkuk dengan baik agar tidak jatuh.
"Mau kemana kamu?" tanya Satya dengan suara baritonnya yang tenang.
Yumna masih dengan wajah terkejutnya yang kaku, menurunkan pandangan ke bagian bawah tubuh Satya lalu membuang muka kikuk. Dia mendehem ringan.
"I-itu aku mau bikin sarapan sih niatnya. Tapi, karna ulah kamu, aku gak bisa kemana-mana, jalan ke pintu aja butuh 10 menit. Pinggangku rasanya mau copot."
Sudut bibir Satya tertarik tipis. "Siapa juga yang nyuruh kamu bangun dan masak?" ucapnya santai. "Saya udah masakin bubur ayam buat kamu sarapan. Makanya, semalam jangan sombong dan sok nantang."
Satya mengomel sembari menuntun Yumna untuk duduk di sisi ranjang. Kemudian Satya meletakkan nampan di atas nakas, dan menarik kursi rias milik Yumna ke hadapannya. Satya bersiap menyendokkan bubur ke arah Yumna begitu meniupnya pelan.
"Halah, kamu aja yang beringas," sebalnya.
"Kamu mancing saya, Yumna. Kamu sendiri gak belajar ngadepin saya kalau udah kepancing kayak sebelumnya."
Kok jadi aku yang salah? Tapi dipikir-pikir emang ulahku sih. Ah udahlah.
"Kamu yang salah gak bisa kontrol."
Yumna tak terima sambil menggerutu. Tak sadar bibirnya mengerucut. Dia melahap sendokan bubur dengan santai tanpa melihat Satya yang sedang menatapnya.
"Maaf ya."
Di tengah kunyahan, Yumna mendengar kalimat itu dari bibir Satya. Hampir saja Yumna tersentuh.
"Saya bakal lebih beringas dari semalam," lanjutnya sambil terkekeh, mengundang delikan tajam dari Yumna. Perempuan itu hanya bisa mengelus dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
FanfictionBukan oneshoot, satu judul bisa berisi beberapa chapter, genre suka-suka yang nulis ^^ » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
