Pagi menyapa kamar suite hotel mewah dengan pendar cahaya matahari yang menembus celah tirai beludru. Udara dingin dari pendingin ruangan berpadu dengan sisa kehangatan malam sebelumnya.
Yumna perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa pegal, seolah setiap jengkal ototnya baru saja dipaksa bekerja melebihi kapasitas maksimal. Dia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya pagi, lalu menoleh ke sisi ranjang.
Di sebelah kanannya, Satya terlelap dalam posisi tengkurap. Selimut tebal putih hotel hanya melilit setengah tubuh bagian bawahnya, membiarkan punggung bidang pria itu terekspos jelas, menampilkan garis otot yang kokoh.
Mengingat apa yang terjadi semalam, darah Yumna mendadak berdesir. Setibanya mereka di kamar hotel ini, pria itu mengeksekusi hukumannya, mengubah rasa cemburu dan posesif menjadi gelombang keintiman intens yang menguras seluruh tenaga Yumna hingga dia menyerah di tengah jalan.
Yumna melirik tubuhnya sendiri. Dia mendapati dirinya sudah terbungkus rapat oleh selimut tebal sampai ke leher. Dengan hati-hati, Yumna menarik tubuhnya pelan-pelan.
Di dalam kamar mandi berlantai marmer dingin, Yumna berdiri di bawah pancuran shower. Dia memutar keran, membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya yang terasa lengket dan lelah. Sensasi air yang membasahi kulitnya perlahan-lahan melunturkan sisa ketegangan, memberikan kesegaran instan yang membuat nafasnya terasa jauh lebih longgar.
Selesai mandi, Yumna mematikan air, melilitkan handuk kecil di kepalanya untuk mengeringkan rambut basahnya, lalu mengenakan bathrobe sebelum keluar.
Dia melangkah ringan ke sudut dapur kecil di dalam suite itu. Dengan gerakan santai, Yumna menyeduh secangkir teh hijau hangat. Sembari menunggu airnya meresap, dia lanjut mengeringkan rambut dengan hair dryer. Membuka koper besarnya dan memilih sehelai gaun putih berpotongan longgar namun tetap elegan untuk dikenakan hari itu.
Setelah berganti pakaian, Yumna membawa cangkir teh hangatnya perlahan-lahan menuju pintu kaca besar yang mengarah ke balkon luar.
Melirik Satya masih bergeming dalam lelapnya, sama sekali tidak terusik oleh pergerakannya. Yumna tersenyum tipis, menggelengkan kepala pelan, lalu melangkah keluar menikmati udara pagi Jakarta dari ketinggian lantai 20.
Udara pagi hari menyapu lembut permukaan kulit, membawa kesegaran sisa embun yang menguap di bawah pendar matahari yang baru saja naik sepenggal.
Di atas lantai balkon kamar hotel, Yumna berdiri tenang sambil menyesap cangkir keramik berisi teh hangat. Gaun putih selutut berlengan pendek sederhana tampak cantik. Dengan potongan tanpa kerah rendah, memamerkan garis tulang selangkanya yang bersih dan kulit putih susunya yang lembut. Rambut dicepol, membiarkan helai-helai rambut yang menggantung tertiup angin sepoi.
Tanpa terdengar suara langkah kaki, sosok bertubuh tinggi tiba-tiba merangsek mendekat dari belakang.
Sebelum Yumna sempat merespon, sepasang lengan kokoh sudah melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya mundur hingga punggungnya merapat sempurna ke dada bidang Satya.
Yumna terkesiap kecil, cangkir di tangannya hampir miring jika saja refleksnya tidak cepat menahan di atas pagar pembatas balkon.
"Mas Satya?" desis Yumna, nafasnya langsung berubah ritme ketika Satya membenamkan wajah di ceruk lehernya, menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh Yumna. Berkali-kali dia bilang itu kesukaannya.
Satya tidak berkata apa-apa. Tetapi justru mengecupi kulit bahu Yumna yang terekspos dengan lembut, lalu mendaratkan ciuman kecil yang menggelitik di lekuk lehernya. Tindakan spontan itu selalu berhasil membuat kewarasan Yumna menipis seketika, meninggalkan degup jantung yang berlomba-lomba di dalam dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
Fiksi PenggemarBukan oneshoot, satu judul bisa berisi beberapa chapter, genre suka-suka yang nulis ^^ » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
