26

10.1K 752 6
                                        

Jungkook sibuk memakan kue beras di sofa, tidak peduli pada orang di sekitarnya yang sedang asyik berbincang.

Irene masih ada disana, di ruang tengah, duduk di sofa tunggal yang ada disana.

Berbincang dengan semua anggota keluarga Jeon itu, kecuali Yoongi, tentu saja, dia lebih memilih berdiam diri di studio daripada ikut berbincang mengenai hal yang tidak penting.

Dan juga Namjoon yang mendadak mendapat telepon dari seseorang, jadilah dia pergi keluar untuk menemui orang tersebut.

Sesekali Irene tertawa gemas saat matanya tidak sengaja melihat kearah Jungkook.

"Jadi, Irene noona sekarang sudah bekerja?"

Irene mengangguk, jawaban atas pertanyaan Jimin.

"Jangan memanggilku, noona, Jim, Irene saja, itu juga berlaku untuk kalian" ucapnya sambil memandang satu persatu empat pemuda yang duduk si sofa seberangnya.

"Tapi kau lebih tua da- oke, tidak jadi"

Hoseok menelan salivanya gugup mendapati tatapan Irene yang seolah-olah akan mengulitinya sekarang juga jika ia melanjutkan ucapannya tadi.

Bukan gugup, sebenarnya, tapi takut.

Irene 'kan titisan nenek sihir dalam buku dongeng yang sering ia bacakan untuk Jungkook saat hendak tidur.

"Nah, begitu"

"Yiyin noona beteyja jadi pa?" tanya Jungkook, matanya menatap Irene, tapi tetap tidak berhenti dari aktivitasnya mengunyah kue beras.

"Arsitek"

"Uh?"

"Arsitek, Kookie, ar-si-tek"

"Ay, ay pa?"

Irene tersenyum, "Arsitek, yang biasanya menggambar rumah dan bangunan-bangunan yang lain"

Mulut Jungkook membulat, kemudian kembali bersuara, "Eomma juda teyjana mendambay, pa eomma juda ceoyan ay, ay pa tadi?"

"Bukan, eomma Kookie bukan seorang arsitek, eomma Kookie itu seorang designer"

Jungkook menggeleng, "Ndak taw, teyceyah, Tootie pucin, nama teyjana cucah di biyan, cucah diinat juda"

"Lalu, kalau Kookie sudah besar, Kookie ingin jadi apa?"

"Ndak taw"

"Kenapa tidak tahu?"

Jungkook mendongak, aktivitasnya mengunyah sudah berhenti, karena kue berasnya sudah habis.

Merangkak mendekati sofa tempat hyungnya duduk, yang langsung sigap menggendongnya dan mendudukkannya di pangkuan.

"Ndak taw, Tootie beyum mitiy tayau cudah becay maw jadi pa"

Kemudian Jungkook menoleh, menatap Jin yang duduk di sebelah kirinya.

"Yun, maw tue beyac yadi"

Jin mengernyit, "Kookie 'kan sudah makan banyak"

"Maw yadi, yun, Tootie macih yapay"

"Nanti kalau Kookie gen- aduh!"

Taehyung meringis, kakinya diinjak sangat kencang oleh Jin yang sekarang sedang mendelik padanya.

Kemudian menepuk dahinya, hampir lupa kalau tidak di beritahu Jin melalui gerakan bibirnya yang berucap, 'Jangan mengatakan gendut di depan Kookie'.

"Ya sudah, tunggu sebentar lagi ya, kue beras buatan hyung sebentar lagi sudah selesai"

Jungkook mengangguk cepat, bergerak antusias di pangkuan Hoseok, hampir jatuh jika saja tangan Hoseok tidak menahan tubuhnya.

Irene menarik nafas ditempatnya, sungguh, nanti ia akan benar-benar menculik Jungkook dan menyembunyikannya seharian di rumahnya.

"Ya sudah, aku kembali kerumah dulu, ada beberapa barang yang harus kutata, terimakasih untuk tehnya, sering-seringlah berkunjung di rumahku, jangan lupa membawa Kookie kalau berkunjung, sampai jumpa"

Irene berdiri, berjalan melewati rak pembatas ruang tamu dan ruang tengah, kemudian benar-benar keluar dari rumah keluarga Jeon, kembali kerumahnya.


TBC

Haloo

Jangan lupa voment ya.

Makasih.

Paipai~

Our Baby BunnyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang