Haii~
Makasih udah mau jawab pertanyaan unfaedah aku yang sebelumnya, aku terharu nih, hiks /nanges sekampung/
Banyak yang jawab soalnya, hehe.
Tapi ngakak juga sih baca komen kalian, wkwk😂😂
Buat yang pada jawab kemaren, yok komen lagi yok /maksa nih/
Enggak deng, enggak maksa, yang penting kalian seneng aja deh.
Ada yang masih bangun?
Angkat kakinya!
Udah turunin lagi, nanti dikira lagi belajar buat sikap lilin lagi. Is is is is is.
Udah gitu aja.
Happy reading!
...
Jungkook terpaksa bangun dari tidur saat merasakan tubuhnya di dudukkan.
Total masih mengantuk saat matanya melihat semua orang berkumpul di kamarnya.
Setahunya, ini masih malam, lalu kenapa semua orang berkumpul di kamarnya?
Jieun menepuk pipi tembamnya pelan, "Kookie, bangun sebentar, ya?"
"Napa eomma? Eomma maw tiduy cama Tootie? Cini cini, tiduy cama Tootie"
Jieun mendongak, matanya terlihat berair, tapi Jungkook tidak menyadarinya, dia masih mengantuk.
Mengusapnya kasar, lalu tersenyum lembut, menatap Jungkook.
"Eomma mau pergi"
"Huh?"
Jungkook menatap Jieun bingung, sepertinya tadi dia mendengar Jieun mengatakan sesuatu, tapi tidak jelas.
Jieun menarik nafas dalam dalam, menghembuskannya perlahan, menahan mati matian air matanya agar tidak jatuh, "Eomma mau pergi"
"Peydi? Temana? Cupeymaytet? Mayam mayam bedini?"
"Tidak, tidak ke supermarket, Kookie, eomma mau—"
Jieun diam, tidak sanggup meneruskan ucapannya. Memilih berdiri, berjalan ke belakang tubuh Jin yang total menutupi seluruh tubuhnya, berbalik badan dan mulai terisak.
Jimin mendekati Jieun, memeluk eomma nya itu, diikuti yang lain.
"Eomma? Eomma menanic? Tootie juda maw peyuk eomma cepeyti yun yan yain" ucap Jungkook, berusaha turun dari ranjang, berjalan pelan mendekati Jieun.
"Kookie"
"Mindiy, appa, janan di depan Tootie, Tootie maw peyuk eomma"
"Kookie, Kookie anak baik, 'kan?"
Jungkook menatap Taebum tidak suka, tentu saja dia itu anak baik, imut, dan menggemaskan, sebagai bonus, tapi tetap saja Jungkook mengangguk.
"Um, Tootie nak baik"
"Kalau begitu dengarkan appa, ya?"
Jungkook mengangguk.
"Appa dan eomma akan pergi, bekerja" ucap Taebum dengan nada yang mengecil di akhir kalimat.
Jungkook menegang, dia masih bisa mendengar kata terakhir dari kalimat Taebum.
Tunggu, bekerja? Sekarang?
"Beteyja di yumah teman appa? Cepeyti temayin? Tayau beditu, ndak pa pa"
"Bukan di rumah teman appa, Kookie, tapi di kantor"
"Tantoy? Tantoy yan di Ceouy tan?"
Taebum tersenyum tipis, mengusap punggung Jungkook yang sedikit bergetar.
Hatinya ikut sakit ketika harus pergi bekerja lagi secepat ini.
Seharusnya, mereka masih bisa bersantai sekitar dua sampai tiga bulan lagi di Korea, di Seoul, di rumah mereka.
Bahkan dia dan Jieun sudah menyusun rencana untuk pergi ke pantai bersama anak anak mereka minggu depan, lalu pergi ke waterboom dua hari setelahnya, lalu pergi ke Busan, mengunjungi kakek dan nenek Jungkook, dan pergi kemanapun yang Jungkook mau.
Tapi tiba tiba bawahannya menelepon, perusahaannya yang ada di Jerman tidak bisa di handle oleh orang lain saat ini, karena ada satu karyawan yang tidak sengaja melakukan kesalahan fatal.
Mau tidak mau dia dan Jieun harus berangkat kesana dan mengambil alih semuanya.
Menghela nafas perlahan, masih mempertahankan senyum tipisnya, menggeleng.
"Bukan, Kookie, bukan kantor yang ada di Seoul"
"Yayu dimana?"
Jungkook bergerak gelisah, perasaannya mulai tidak enak, padahal dia belum tahu sebenarnya perasaan itu apa, tapi dari penjelasan hyung nya —entah kapan menjelaskannya, Jungkook lupa— inilah yang disebut perasaan.
"Jerman"
Jungkook sukses berdiri kaku disana, mata bulatnya sudah berair, hidung dan pipi tembamnya memerah.
Jungkook tidak tahu Jerman itu ada dimana letaknya, tapi yang Jungkook sangat yakin adalah, Jerman itu pasti sangat jauh sekali dari tempatnya tinggal sekarang.
"Kookie? Dengar appa?"
Taebum mengernyit, mengguncang bahu Jungkook pelan, "Koo—"
"Huaaaaaa, appa eomma maw peydi yadi? Hiks"
Jungkook duduk di lantai, menangis keras, tidak mau Taebum dan Jieun pergi.
Taebum membawa Jungkook kedalam gendongannya, menepuk punggungnya pelan.
"Jangan menangis, Kookie"
"Ndak boyeh! Appa eomma ndak boyeh peydi! Tayau maw peydi, Tootie itut! Potona itut! Hiks"
Taebum menghela nafas pelan, sudah tahu pasti kalau akan terjadi seperti ini.
"Kalau Kookie ikut, nanti yang menemani hyung hyung siapa?"
"Hiks, yun tan cudah becay! Ndak ucah ditemani"
"Nanti semua hyung kesepian kalau tidak ada Kookie"
"Nti Tootie tecepian tayau ndak da appa eomma"
Jieun semakin terisak di pelukan ke enam anaknya yang semakin memeluknya erat.
TBC
Oh iya, mau bilang, jangan panggil aku author, boleh?
Soalnya aku bukan author, hehe, tapi aminin aja ya biar aku besok pas gede jadi author beneran.
Panggil aku kar aja, atau ra, atau sekar, atau dek, atau terserah kalian mau manggil aku apa, tapi jangan author, oke?
Biar semakin deket juga kitanya, azek, uhuy, cicuit, piyak piyak.
Ngapain pake piyak piyak oneng
Serius, ni aku ngantuk berat tapi gak bisa tidur, gimana tuh, mana besok udah hari senin aja.
Kan aku masuk sekolah, ih gak seneng.
Kalian jangan begadang ya! Yang masih belum tidur cepetan tidur!
Jangan lupa voment yaa, maaciw^^
Good night! Have a nice dream!
Paipaii~
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Baby Bunny
Fanfikcecerita tentang keseharian Jungkook si bayi kelinci yang dikelilingi 6 orang hyung yang gantengnya ngalahin dewa-dewa Yunani. Penasaran? baca aja, hehe:)
