Aku mau bilang kalo kalian itu---
Kalian--
Ketipu! Ehe :')
Ini update, chapter 90
"Taehyung, diam bisa tidak sih? Hidungku pusing melihatmu berjalan seperti setrika begitu!" Jin mendumel, serius pusing karena sedari tadi Taehyung jalan bolak-balik di depannya.
Taehyung berdecak, kuku jempolnya yang sedari tadi digigit ia lepas, "Aku tidak mau punya tante modelan Irene!"
"Kau pikir aku mau?" Jimin bertanya, sama-sama kesal.
Acara tunangan Junmyeon dan Irene sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Kini mereka semua berada di hotel, berkumpul di kamar Jin.
Iya, mereka diberi kamar satu-satu untuk tidur, Jimin yang meminta. Awalnya Junmyeon hanya memesan dua dengan tiga ranjang king size di setiap kamar untuk mereka dan Jungkook tidur bersama Jieun Taebum.
Tapi mereka itu manusia-manusia cerdas menjurus ke licik, jadi kekayaan Junmyeon dimanfaatkan, katanya biar brankas Junmyeon tidak terlalu penuh, nanti kalau kepenuhan pintu brankas nya macet dan tidak bisa dibuka, kan repot.
"Memanna kenapa tayau Yiyin noona jadi tante? Yiyin noona baik, ndak cayah tan?" Jungkook berceletuk menyuarakan kebingungannya, kenapa semua hyung nya kelihatan tidak suka dan cenderung menolak pernikahan Junmyeon dan Irene, noona kesayangannya.
Taehyung menoleh, "Tentu saja salah, Kookie, nanti kalau terjadi peperangan bagaimana?"
Jungkook mengerjap tidak mengerti, mata bulatnya berpendar bingung, "Eung?"
"Perang, seperti Yeontan dan kupu-kupu beberapa hari lalu."
Bungsu Jeon menatap langit-langit kamar, mengingat bagaimana anjing lucu miliknya itu mencakar kupu-kupu, sementara hewan indah itu terbang cepat dan mencolok mata Yeontan.
Jadi, hyung dan Irene noona nya itu akan perang seperti itu? Cakar-cakaran dan saling mencolok mata?
Begitu?
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampilkan sosok wanita yang tersenyum lebar sambil bersandar di bingkai pintu, tangannya menyilang di dada, lalu wanita itu berucap tanpa dosa, membuat yang ada disana melotot.
"Hai, keponakan."
Serius, Jimin ingin melempar Irene dengan sepatu karena nada centilnya barusan.
"Kalian sedang apa? Biar kutebak," ibu jari dan telunjuknya ditaruh dagu, mengusapnya pelan, "Oh! Kalian sedang memikirkan nasib kalian karena aku akan menikah dengan Junmyeon, benar?"
Irene tertawa, terdengar seperti suara nenek lampir di telinga keenam pemuda Jeon.
"Bagaimana kau bisa membuka pintunya?" Yoongi bertanya.
"Mudah saja, aku tinggal minta kartu cadangan pada penjaga, selesai."
Jimin menatap tajam pada Irene, "Kembali sana ke kamarmu! Kau tidak sekamar dengan Paman kan?"
"Kalau sekamar kenapa?" Senyum miring Irene tersungging, tertawa dalam hati melihat wajah terkejut tetangganya, oh, atau keponakan? Astaga, rasanya dia ingin tertawa seumur hidup kalau begini.
"Sialan, kau ada niat memperkosa Paman Junmyeon?"
"Heh!" Sandal hotelnya dilempar, tepat mengenai kepala Taehyung yang baru saja berbicara seenak jidat, "Kalau bicara yang benar! Jangan ngadi-ngadi!"
Yoongi mengernyit, "Ngadi-ngadi? Apa?"
"Cih, begitu saja tidak tahu, itu kata-kata populer dari Indonesia tahu!"
"Masa bodoh, pergi sana, kami tidak mengundangmu kesini" ucap Yoongi, nadanya datar, mukanya datar, tatapannya juga datar, sedatar hubungan kalian sama dia.
Irene menggeleng, "Tidak, aku dimintai tolong Jieun imo untuk membawa Kookie pergi dari sini. Ayo Kookie, tidur"
Jungkook merentangkan tangan minta di gendong, dan Irene dengan senang hati menggendongnya meskipun Jungkook itu berat, tidak sesuai dengan badannya yang kecil.
"Irene"
Yang dipanggil menoleh, "Apa?"
"Batal saja menikah dengan Paman, kami akan mencari pria yang tampan untukmu, bahkan lebih tampan dari Paman, bagaimana?" Ucap Jimin
Irene mengernyit, sebegitunya anak-anak Jieun tidak suka padanya? Sampai menyuruh batal menikah segala.
"Aku punya teman dekat, namanya Park Jinyoung, masih muda, pintar, tampan, pokoknya boyfriend-able, mau?" Taehyung menawarkan.
Jin menimpali, "Hn, aku juga punya kenalan, namanya Park Bogum, usianya matang, sudah mapan, tampan, baik, mau?"
"Tidak, terimakasih, aku dengan Paman kalian saja. Sampai jumpa keponakan~"
Irene tersenyum, balik badan lalu keluar dari kamar Jin, berjalan ke kamar Jieun, menyerahkan Jungkook agar anak itu segera tidur, ini sudah kelewat malam.
Semua orang di kamar Jin menghela napas pelan. "Yah, terima saja Irene jadi tante, kalau mereka memang berjodoh kita bisa apa?" Ucap Hoseok.
"Hm, lagipula Ra itu Surene shipper garis keras, sekeras apapun kita berusaha menolak, pasti Surene tetap berlayar disini, kita sebagai pemain mengiyakan saja" balas Taehyung.
Mereka mengangguk, mengiyakan ucapan si bungsu kedua.
Jimin membanting tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit kamar, "Benar, tidak ada salahnya juga untuk mencoba menerima, yang penting asupan chanel tidak diberhentikan oleh Paman, enak saja kalau kiriman barang chanel ku tiba-tiba berhenti, ku bakar brankasnya"
TBC
Hai cayang-cayangkuuuuu~
Aku masih hiatus sebenernya, tapi karena ini hari spesial jadi aku up, hehe :)
Sungkem sini.g
Paipaii~
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Baby Bunny
Fanfictioncerita tentang keseharian Jungkook si bayi kelinci yang dikelilingi 6 orang hyung yang gantengnya ngalahin dewa-dewa Yunani. Penasaran? baca aja, hehe:)
