MBIAC | CHAPTER 20 | NIKKU

56 11 2
                                        

🙄HAPPY READING🙄

***

"Aku akan melakukan apa saja agar ayahku menatapku. Aku tidak akan menyerah, bahkan jika peluang keberhasilanku mendekati nol persen."

Sejak kecil, aku tidak pernah mengenal siapa ibuku. Ibuku meninggal sesaat setelah aku lahir, meninggalkan kekosongan yang tak pernah terisi dalam hidupku. Aku tumbuh besar di bawah asuhan para pembantu, sementara sosok ayahku selalu terasa jauh dan dingin. Dia jarang menatapku, seolah-olah aku hanyalah bayangan yang tak terlihat di matanya.

Saat kecil. Setiap hari, aku berjuang untuk mendapatkan perhatiannya, berharap suatu saat dia akan melihatku dan mengakui keberadaanku.

Aku takut jika seandainya ayah tak pernah mau menatapku lagi. Apakah dia membenciku? Apakah ayah membenciku karena ibu meninggal akibat melahirkanku? Aku sangat mendambakan perhatian dan kasih sayangnya, namun sejak kecil, hal itu sangat sulit untuk kudapatkan.

Suatu hari, aku mendapatkan peringkat pertama di sekolahku. Demi menarik perhatian ayah, aku pun menunjukkan prestasiku padanya. Hal yang sangat kutunggu akhirnya terjadi: untuk pertama kalinya, ayah tersenyum padaku. Apakah dengan peringkat satu dan membuat ayah bangga, aku bisa membuat ayah akhirnya menatapku?

Sejak hari itu, aku belajar dengan keras siang dan malam tanpa henti. Tahun demi tahun, aku dengan senyum gembira menunjukkan peringkat satu, berharap agar ayah bangga dan memujiku. Namun, setiap tahun tatapannya tetap sama. Dia hanya diam dan berjalan menjauh, seakan tak peduli dengan usaha yang aku lakukan. Apakah usahaku sia-sia?

Tidak, kupikir aku tidak salah. Mendapatkan nilai sempurna bagi putra seorang jenius memang merupakan sebuah keharusan. Aku harus mendapatkan prestasi yang lebih besar agar ayahku bisa bangga terhadapku.

Setelah lulus SMP, aku memutuskan untuk masuk ke Sanjaya High School, sebuah sekolah dengan persaingan yang sangat ketat. Di sini, otak dan otot benar-benar diperas. Aku yakin satu-satunya cara agar ayah memandangku adalah dengan menetapkan namaku sebagai ketua OSIS di sekolah ini. Untuk itu, aku telah mempersiapkan diri dengan belajar semua buku pelajaran dan berlatih bela diri Taekwondo, demi bisa menaklukkan sekolah ini di bawah kuasaku.

Namun, ternyata aku salah. Persaingan di Sanjaya High School jauh lebih keras dari yang kubayangkan. Setiap hari adalah perjuangan, baik di kelas maupun di lapangan. Teman-teman sekelasku adalah para murid pintar dengan ambisi besar, dan para senior tidak segan-segan menunjukkan kekuatan mereka. Meski begitu, aku tidak menyerah. Aku terus belajar dan berlatih, berharap suatu hari nanti ayah akan melihat usahaku dan akhirnya bangga padaku.

Sampai pada akhirnya, hal yang kutakutkan terjadi. Saat pengumuman peringkat, aku hanya mendapatkan peringkat dua. Peringkat satu diraih oleh Chika. Sial... bagaimana ini? Bukannya membuat ayah bangga, aku malah mempermalukan ayah karena peringkatku turun. Aku takut ayah tidak akan menatapku lagi jika tahu akan hal ini. Aku sangat takut ditinggalkan oleh ayah.

Kini, aku berdiri sambil gemetar di depan ayah, menyembunyikan rapotku agar ayah tidak melihat kemunduran yang terjadi padaku. Namun, ayah yang berada di depanku menatapku dengan tatapan yang menakutkan. Dengan gemetar, aku menunjukkan isi rapotku kepada ayah. Aku tahu aku sudah gagal. Ayah pasti sangat kecewa dengan kegagalanku ini. "Maaf, aku hanya mendapatkan peringkat dua, ayah," lirihku.

Ayah berdiri dari kursi yang didudukinya, lalu mengusap kepalaku, membuat mataku terbuka lebar dan terkejut. "Nikku, lain kali dapatkan hasil yang lebih baik lagi," katanya, kemudian berjalan meninggalkanku yang masih terdiam. Aku mengepalkan tanganku, marah kepada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku kalah? Kenapa aku begitu lemah dan bodoh? Lihat saja, ayah. Aku pasti akan membanggakanmu. Tapi, mengapa sampai sekarang aku masih tetap tidak berubah.

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang