MBIAC || CHAPTER 108

18 0 0
                                        

Selamat membaca

***

“Huahh.. Enak banget!” Karina melangkah riang meninggalkan kios corndog. Di tangannya, corndog hangat yang baru saja dibeli tampak menggoda, dan wajahnya bersinar penuh kepuasan. “Hari ini aku bener-bener menghabiskan banyak uangmu ya, Wisnu,” katanya sambil menggigit ujung corndog dengan ekspresi bahagia yang tak bisa disembunyikan.

Wisnu berjalan di belakangnya, meminum coklat dingin dari gelas plastik besar. Senyumnya miring, sedikit sinis. “Aku akan anggap semua uang yang kubelanjakan hari ini untukmu sebagai hutang. Jadi jangan senang dulu.”

Karina berhenti sejenak, menoleh dengan ekspresi tak percaya. “Woi woi, mulut kotor! Jangan hancurin ekspektasiku padamu dong!” Ia menunjuk Wisnu dengan corndog-nya. “Mau kuadukan ke ayahmu kalau kau jadi cowok nggak gentleman. Ngajak kencan, terus dianggap hutang? Dasar perhitungan, pelit, medit!” Suara Karina melengking, membuat beberapa pengunjung taman hiburan menoleh.

Wisnu buru-buru menutup telinganya, wajahnya kesal. “Berisik, bod*h! Aku cuma bercanda. Ambil dan makan aja semua yang aku belikan buatmu.” Wisnu menekan pipi Karina, membuat gadis itu cemberut. “Emangnya pernah aku perhitungan sama kau, hah?” Namun, karena terlalu fokus pada Karina, Wisnu tidak memperhatikan langkahnya. Kakinya tersandung sendiri, tubuhnya oleng ke depan. Karina refleks mengangkat tangan dan menahan bahunya agar tidak jatuh. Wisnu berhasil menyeimbangkan diri, berdiri tegak lagi dengan wajah yang datar.

Karina melirik tajam. “Bahkan saat kau marah, kebiasaan kesandungmu itu nggak bisa hilang ya?” Saat ia kembali menggigit corndog-nya, matanya membelalak. Ada bekas gigitan besar yang bukan miliknya. Ia menoleh cepat ke arah Wisnu, yang sedang mengunyah dengan santai.

“Apa?” tanya Wisnu, bingung melihat tatapan curiga Karina.

“Kau mencuri corndog-ku ya? Wisnu, ngaku!” Karina menunjuk Wisnu, menuduhnya.

Wisnu mengangkat bahu. “Itu dibeli pakai uangku. Jadi nggak termasuk mencuri.”

Karina mendengus. “Nyebelin! Aku ambil ini!” Ia mencoba merebut minuman coklat dari tangan Wisnu, tapi Wisnu dengan refleks menurunkan tangannya, menjauhkan gelas dari jangkauan Karina.

Mereka berdua saling tarik ulur, hingga akhirnya Wisnu menyerah. Ia menatap wajah Karina dari dekat, lalu menyerahkan minumannya dengan ekspresi malas. “Huh... Sedikit aja ya! Jangan diabisin, bod*h!”

Karina langsung mengambil gelas itu dan meminumnya. “Huah.. Enak!” katanya sambil tersenyum ceria. “Hei Wisnu, setelah ini kita naik wahana apa?”

Wisnu cepat-cepat merebut kembali gelasnya, memeriksa isinya. Masih ada sisa. Ia menghela napas lega. “Kau sendiri, Karina. Ada yang ingin kau naiki terlebih dahulu?”

Karina meletakkan satu jari di dagunya, berpikir sambil mengunyah corndog. Namun, pandangannya tiba-tiba tertarik ke arah sekelompok orang di kejauhan. “Hei, Wisnu! Bukankah itu anggota OSIS Sanjaya dan teman-teman lainnya? Ayo kita dekati!”

Tanpa menunggu jawaban, Karina langsung berlari ke arah Akira, Diandra, Hiro, Claudya, dan yang lainnya, semua yang diam diam membantu merancang kencan hari ini.

Wisnu terdiam sejenak, matanya membelalak. “Hah.. Apa maksudnya itu?” gumamnya gugup. Wisnu melihat ke arah Karina yang sudah berlari mendekati kelompok itu. Dan benar saja, mereka semua ada di sana. Ia mengepalkan tangan, geram. “Apa sih yang mereka pikirkan kali ini? Kenapa mereka memperlihatkan diri? Bagaimana kalau Karina tahu yang sebenarnya, benar benar bocah bocah bod*h.” pikirnya, Wisnu segera berlari menyusul Karina. “Tunggu aku, Karina!”

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang