😉HAPPY READING😉
***
Sahrul melangkah keluar dari mobil dengan langkah yang mantap, mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya dengan suara yang hangat. "Teman-teman, aku pulang duluan ya... Jika ada rumah warna hijau, jangan dimasukkin itu bukan markas kita. Dadah." Dia melambaikan tangan dengan semangat, lalu berjalan menuju rumahnya.
Saat Sahrul membuka pintu rumahnya, cahaya hangat menyambutnya, dan sosok Akira yang berdiri di ambang pintu menambah kehangatan itu. "Selamat datang kak," ucap Akira dengan suara yang penuh kasih, memeluk Sahrul erat, seolah ingin memastikan bahwa kakaknya itu benar-benar ada di sana, selamat dan utuh.
Sahrul memandang adiknya dengan keheranan yang lembut. "Kau masih belum juga tidur, kenapa kau ada di sini?" tanyanya, sambil tersenyum bahagia karena kepulangannya disambut hangat oleh Akira.
Akira tersenyum tipis sambil mengusap pipi kakaknya itu. "Aku sengaja menunggu kakak pulang di sini, aku ingin menyambut kepulangan kakak," jawabnya, suaranya mengandung rasa hormat dan kecintaan yang mendalam.
"Jadi begitu ya..." Sahrul merogoh sakunya, mencari sesuatu di dalamnya, dia kemudian mengeluarkan sebuah handphone. "Ini milikmu, kan?" tanyanya, sambil menyerahkan handphone itu kepada Akira.
Akira menerima handphone itu. "Ini handphone milikku. Di mana kakak menemukannya?" tanyanya, rasa penasaran dan kelegaan bercampur menjadi satu.
"Aku menyuruh Kak Sella untuk melacak keberadaanmu melalui handphone milikmu. Namun rupanya handphone itu ada di depan gerbang sekolahmu. Aku berpikir mungkin karena kau tidak sengaja menjatuhkannya saat akan diculik. Jadi, aku mengambilnya," jelas Sahrul, suaranya tenang namun penuh dengan kepedulian.
"Terima kasih ya, Kak, sudah mau repot-repot mencari dan menyelamatkanku," ucap Akira, tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya.
Sahrul mengusap jilbab Akira dengan lembut, matanya menatap adiknya dengan penuh kebanggaan. "Aku tidak pernah kerepotan jika itu tentang dirimu. Oh ya, Galang tadi bilang kepadaku bahwa kau tadi melawan seorang gadis yang sedang memegang pisau. Apakah itu benar?" tanyanya, ingin memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
"Benar. Kan kakak sendiri yang bilang kepadaku bahwa pelajaran yang tidak bisa dipraktekkan untuk situasi yang sebenarnya adalah pelajaran yang sia-sia dan hanya membuang-buang waktu," jawab Akira dengan suara yang mantap, menunjukkan bahwa dia telah mengambil pelajaran dari kakaknya dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Sahrul menyentil dahi Akira dengan penuh kasih sayang. "Adikku sangat hebat ya... Bagus. Entah kenapa aku masih sering mengkhawatirkanmu walaupun aku tahu kau itu adalah seorang monster," katanya dengan nada yang penuh canda, tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya kepada Akira sebagai tanda pengakuan atas keberanian dan kekuatannya.
"Kakak tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri, tidak perlu bantuan kakak."
Sahrul memandang adiknya dengan kehangatan. "Aku tidak bisa melakukan itu. Sudah jadi naluriku sebagai kakak untuk terus membantu dan melindungimu saat kau berada dalam masalah." Dia memegang tangan Akira dengan lembut. "Ingat kata-kata kakak, kalau kau benar-benar tidak ingin aku mengkhawatirkanmu, maka selesaikan semua masalahmu dengan cepat sampai-sampai aku sudah terlambat untuk membantumu." Sahrul mencubit pipi Akira dengan gemas.
Akira tersenyum senang. "Terima kasih!"
"Huh... Aku sudah mengajarimu banyak hal, Akira. Aku ingin kau menggunakan apa yang sudah aku ajarkan padamu untuk melindungi dirimu sendiri. Sudahlah. Sekarang aku ingin istirahat di kamarku, aku sangat capek. Hari ini kerjaan banyak banget," ucap Sahrul dengan nada setengah bercanda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Aksi[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
