MBIAC || CHAPTER 99

11 1 0
                                        

Selamat membaca

***

"apakah ini yang terakhir?"

Teriakan memilukan terdengar dari luar ruangan. Pintu ruangan terbuka dengan keras, memperlihatkan seorang penjaga yang tergeletak di lantai, memegang senjata dengan tangan yang gemetar. Tubuhnya berlumuran darah, luka parah tampak jelas di beberapa bagian tubuhnya.  nampak sekarat menunggu Kematiannya.

Seorang remaja dengan topeng berbentuk kalajengking berwarna merah masuk ke ruangan itu. Dia berjalan mendekati seseorang yang berdiri membelakanginya, menghadap jendela besar yang memancarkan cahaya bulan ke dalam ruangan.

Remaja bertopeng itu berhenti beberapa langkah di belakang orang tersebut, lalu berlutut dengan satu kaki, memberikan hormat. Suaranya terdengar tegas dan penuh keyakinan saat dia berbicara, “Aku, Gamers Boy, sudah menjalankan tugasku dengan sangat baik. Aku mendapatkan sebuah informasi yang penting, dan aku ingin meminta kejujuran darimu, Oyaji.”

Pria itu berbalik badan, dan duduk di kursinya lalu tersenyum tipis menatap Sahrul. "apa ini? Tumben tumbenan seorang gamers boy bersikap sopan. Bisanya selalu kurang ajar dan minta dihajar."

Sahrul berdiri tegak dan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "ya gimana ya, lagian Oyaji juga spek bos yang keliatan emang minta dikurang ajarin." Sahrul terlihat mengoyang goyangkan kakinya bersikap santai di sana.

"tugasmu dalam membunuh pemimpin organisasi lain sudah berhasil, kan? Jadi ngapain datang ke sini dengan heboh, Minta transferan duit?" tanya orang yang disebut Oyaji itu sambil berjalan ke rak berisi cangkir antik dan melihat lihat cangkir di sana.

Sahrul menatap ke atas, "bentar, keknya aku lupa mau ngomong apa Oyaji. Btw itu boleh juga, sekalian bonus ya soalnya aku hampir mati ditambah aku juga harus membunuh guruku sendiri." saat menyebutkan kata guru Sahrul langsung terperanjat karena mengingat apa yang ingin dia lakukan di sini. "tapi, Oyaji. Aku ingin bertanya padamu."

"tanyain aja, dari tadi bilangnya mau nanya tapi nggak nanya nanya.." Oyaji mengambil salah satu cangkir dari dalam rak itu dan kembali ke kursinya. "sebelum itu boleh tolong ambilkan teh impor di rak di sampingmu!" Oyaji menunjuk ke arah rak di samping Sahrul.

Sahrul berdecak sebal dan menuruti permintaan dari Oyaji, dia membuka rak nomor dua dan mengambil sekotak teh celup di sana. "ehh.. Merepotkan. Emangnya nggak ada pelayanmu Oyaji sampai nyeduh teh aja sendiri. Kau ini ketua mafia lho. Walaupun namanya ada gangsternya." Sahrul melemparkan kotak teh itu ke Oyaji.

Oyaji menangkap kotak Teh dan menatap ke arah Sahrul dengan tatapan bod*h. "lalu kau yang mau membuatkan aku teh, Gamers boy?"

"shitakunai, yadaa yo!" jawab Sahrul singkat dengan tatapan malas.

"tuhkan. Kau sendiri juga males." Oyaji mulai memasukkan teh, gula, dan air hangat yang sudah disiapkan ke dalam teko. "ini udah terlalu malam melewati jam kerja mereka, para pelayan. Jika mereka kerja diluar jam kerja nanti kualitas kerja mereka menurun karena mengharapkan gaji lembur." setelah menyiapkan semuanya dia kemudian tersenyum lebar, dan kembali duduk di kursinya. "oke selesai. Kau juga mau teh?" tawar Oyaji dengan tatapan ceria.

Sahrul terlihat mengangkat tangannya, lalu terlihat ceria. "boleh deh.. Walaupun aku nggak suka teh. Aku mau nyobain rasa teh impor." Sahrul duduk di kursi di samping Oyaji, dan langsung mengambil gelas dan menuangkan teh di dalam teko.

"heh.. Dasar tidak sopan. Aku saja belum minum lho." Oyaji langsung merebut teko dari tangan Sahrul dan menuangkan teh ke cangkir miliknya.

"kan aku udah ditawarin. Ikhlas nggak nih? Ya tapi bodoh amat sih walaupun Oyaji nggak ikhlas masih tetap bakalan kuminum." Sahrul dengan sembrono meminum teh itu. Namun, karena masih panas dia mengeluarkannya dari mulutnya.

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang