MBIAC || CHAPTER 100

39 1 6
                                        

Selamat membaca

***

Sejak kecil, aku selalu diistimewakan. Aku adalah putri dari keluarga Sandara, dua orang jenius yang terkenal sebagai pahlawan di kota Sanjaya. Sebagai putri dari orang-orang yang terkenal, aku merasa harus selalu sempurna dalam setiap hal yang kulakukan. Aku adalah jenius yang bisa melakukan apa saja. Aku merasa malu jika kalah dan gagal melawan orang lain.

"Akira, memanglah jenius ya, dia sudah bisa melakukan ini di usia yang begitu muda."

"Akira, sangat pintar. Dia tahu akan banyak hal."

"Akira, juga bisa melakukan ini. Sepertinya tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Akira."

Pujian dari berbagai orang dengan mudah aku dapatkan. Aku juga dengan mudah menguasai berbagai keterampilan. Tak perlu belajar dengan tekun, aku memahami banyak hal dengan mudah dan selalu menjadi yang terbaik. Pujian yang sudah biasa kudapatkan dari orang-orang di sekitarku selalu terdengar indah di telingaku, seperti musik yang menenangkan jiwa.

Namun, walaupun aku bisa melakukan semuanya, walaupun aku ahli dalam banyak hal, aku tidak pernah benar-benar menyukai sesuatu. Aku cuma iseng iseng mempelajarinya aja dan Aku hanya merasa senang saat dipuji seperti biasa.

"Akira, ayo istirahat dulu nak! Kau sudah berusaha dengan sangat baik."

"Akira, sini main sama ayah. Kau sangat hebat bisa juara satu di lomba seni itu."

Ayah dan ibuku pun juga terlihat senang dan selalu memuji setiap prestasi yang aku dapatkan. Aku sangat bahagia sebagai gadis imut yang dijuluki anak jenius yang akan melampaui orang tuanya. Aku merasa tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan. Sampai..

Saat itu, aku melihat kakakku. Dia bukanlah orang yang sempurna. Dia payah dan penuh kekurangan, dan hanya tahu satu hal, yaitu game. Namun, dia benar-benar terlihat menyukai hal itu. Setiap kali dia bermain game, ada cahaya di matanya yang tidak pernah kulihat pada diriku sendiri. Apa apaan itu padahal dia penuh kekurangan sebagai putra seorang jenius. tapi kenapa dia bisa bahagia dengan kekurangannya, Itu membuatku iri padanya. Bagaimana bisa dia, yang penuh kekurangan, menemukan sesuatu yang benar-benar dia cintai, sementara aku, yang selalu berusaha sempurna, belum menemukan hal yang benar benar aku cintai?

"Akira, hari ini dapat nilai seratus lagi ya? Hebat."

Aku tersenyum bangga menunjukkan nilaiku kepada ibuku, dia mengusap kepalaku dan terlihat sangat senang dengan hasil yang aku peroleh. Namun, sesaat kemudian kakakku juga pulang dari sekolahnya dengan wajah malas khasnya, berjalan melewati kami.

"Sahrul, kau sudah pulang nak? Bagaimana sekolahmu. Ibu tadi mendapatkan laporan dari guru di sekolahmu lho."

"heh.. Guru pengaduh itu.. Ya ibu pasti sudah tahu kan kalau aku dihukum berdiri di depan kelas karena ketahuan main game saat guru sedang menjelaskan."

Dia tersenyum seperti orang bod*h. Kenapa dia terlihat sangat bahagia walaupun sudah melakukan kesalahan sebagai putra keluarga sandara? Dia harusnya malu karena bisa bisanya terkena hukuman. Dan, kenapa juga reaksi ibu terlihat biasa saja? Dia hanya menarik pipi kakak dan sedikit memarahinya. Seharusnya ibu menghukum kakak dengan keras sampai dia tidak berani melakukan kesalahan lagi. Benar benar mengesalkan.

Kakak kemudian melirik ke arah kertas nilaiku lalu mendecih. "ibu, aku capek karena dihukum tadi jadi aku mau istirahat ya." dan melangkah pergi dari sana menuju ke arah kamarnya. Aku terbebelak saat merasakan samar samar perasaan benci dan iri kakak kepadaku, itu pasti cuma pikiranku saja. Dan, dilihat sekilas pun pasti keliatan kalau kakak membenciku.

Tapi, Apa apaan itu coba.. Padahal dia tidak bisa apa apa. Tapi, kenapa dia terlihat begitu membenciku yang sudah sangat sempurna ini. Bikin tambah kesal saja. Aku mengalihkan pandanganku kepada ibuku. "Ibu, hari ini kan jadwalku untuk pergi les bahasa inggris. Aku tidak mau pergi," ucapku kepada ibu.

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang