Selamat membaca
***
Malam itu, langit terasa lebih gelap dari biasanya. Sebuah mobil berjalan menyusuri jalan setapak yang sangat sepi. "hey Devano.. Sepertinya Akira telah berhasil menaklukkan sekolah rajawali. Sebuah langkah besar bagi Perjalanannya untuk menyatukan satria garuda sanjaya lagi." Raka menunjukkan sebuah foto berisi murid sekolah sanjaya yang berkumpul untuk merayakan kemenangan mereka melawan sekolah rajawali. "dia sudah selangkah lebih dekat untuk mencapai tujuannya." lanjut Raka.
Devano yang sedang mengemudikan mobil melirik foto di handphonenya Raka. "dimana gadis itu, Akira tidak ikut berfoto?" ucap Devano mencari keberadaan Akira di dalam foto itu.
"kayaknya nggak ada. Kau tahu sendirilah gimana sifatnya Akira, dia jarang ngikut fotbar kek gini karena suka ngilang ngilang terus." Raka menatap jalan di depannya.
Devano mengambil biskuit di wadah biskuit yang terletak di sampingnya lalu memakan biskuit itu sambil terus mengemudikan mobil dengan satu tangannya. "apa yang dia lakukan itu sama sekali tidak berguna, murid sekolah jaman sekarang itu tidak sekuat murid sekolah jaman era monster. Jadi, percuma jika dia berpikir bisa mengalahkan kita dengan murid sekolah jaman sekarang." Devano menghentikan laju mobilnya lalu keluar.
Raka tersenyum tipis dan ngikut keluar dari mobil. "jangan pernah meremehkan anak anak sekolahan. Di setiap gen berganti pasti ada saja, Lonewolf dan penguasa yang sangat kuat sehingga bisa memimpin semua murid di sekolah itu."
Raka dan Devano, memarkir mobil mereka di pinggir jalan yang berbatasan dengan hutan terpencil. "kalau di era monster, aku yakin emang ada karena semenjak kematian raja sekolah semua sekolah yang berada di bawah kekuasaannya bersaing untuk menjadi yang terkuat sehingga banyak revolusi terjadi. Sedangkan, di era sekarang hampir semua pemimpinnya adalah keroco yang tidak lebih kuat dari era monster bahkan pemimpin sekolah satria garuda sanjaya sekali pun." ucap Devano, Dengan langkah yang pasti, mereka berdua memasuki kegelapan hutan, hanya ditemani oleh cahaya bulan yang remang-remang.
"keroco ya? Aku jadi teringat saat kau hampir mati karena anak gen sekarang saat kita bertemu dengan Akira waktu itu. Puhehe.." tawa Raka mengejek Devano.
"Diamlah! Aku yakin orang itu pasti bukan dari era gen sekarang. Kekuatannya itu kau lihat sendirikan. Jika di era monster mungkin dia sudah menjadi salah satu dari monster atau orang berjulukan." teriak Devano kesal melihat tawa Raka yang sangat menyebalkan.
Saat mereka menerobos semak dan ranting yang berbisik, sebuah pabrik tua muncul dari balik tirai kegelapan. Bangunan itu terlihat menyeramkan, dengan dinding-dinding yang dilapisi lumut dan jendela-jendela yang pecah. Namun, yang lebih menegangkan adalah sosok-sosok yang berdiri di depan pabrik tersebut, sekelompok gangster bersenjata tajam yang tampak seperti penjaga setia dari rahasia yang tersembunyi di dalam pabrik. "Sepertinya kita sudah sampai ke tempat tujuan kita. Sesuai rencana kita olahraga sedikit lalu habisi." ucap Raka.
"ayo kita beri mereka pelajaran sebentar setelah itu baru gunakan benda itu dan kemampuanmu. Akhir akhir ini aku jarang bertarung, badanku jadi sedikit kaku." Devano meregangkan tangannya, dan melompat lompat bersiap untuk maju.
Raka dan Devano saling pandang, "akhh kita udah ketahuan deh." ucap Raka, Mereka tahu mereka telah terlihat. Gangster gangster itu mulai berkumpul, tatapan mereka tajam dan menentukan. Dengan suara yang serak, salah satu dari mereka berkata, “Pergi, atau kalian akan menyesal.”
"pergi atau menyesal? bukankah lebih tepat jika aku yang mengatakan mundur atau mati." Teriak Devano. daripada mundur menuruti ucapan gangster itu, Raka dan Devano malah mengambil langkah yang tak diduga oleh para gangster. Mereka berlari, bukan menjauh, melainkan menuju ke arah gangster gangster itu. Langkah mereka seakan mengatakan bahwa mereka tidak takut, bahwa mereka siap menghadapi apapun yang akan terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Acción[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
