Selamat membaca
***
Dua hari telah berlalu sejak kencan Wisnu dan Karina. Kini, pagi yang baru menyapa kota Sanjaya. Libur pasca ujian telah usai, para murid sekolah Sanjaya sudah bisa mulai kembali masuk ke sekolah Sanjaya.
di dalam kamarnya, Chika masih terlelap. Selimut bergambar karakter anime kesayangannya menutupi tubuh mungilnya yang meringkuk seperti kucing. Jam weker di meja samping tempat tidur tiba-tiba berbunyi, jarumnya menunjuk pukul 05.45. Dentingannya memecah keheningan pagi.
Chika mengerjapkan kelopak matanya. Tangannya meraba-raba, lalu menepuk tombol jam itu dengan gerakan setengah sadar. Hening kembali. Ia terdiam sejenak, menatap langit langit kamarnya. Lalu, seolah tersadar dari mimpi, ia mengangkat tangan ke udara dan tersenyum cerah. “Ohayou gozaimasu, hari baru,” ucapnya dengan nada ceria seakan menyapa dunia.
Chika bangkit dari tempat tidur, berjalan pelan ke meja belajarnya, dan meneguk air putih dari gelas kaca yang selalu ia siapkan malam sebelumnya. Pandangannya lalu tertumbuk pada dinding di atas meja sebuah altar kecil yang ia bangun sendiri, penuh dengan foto foto dirinya bersama Farrel. Ada juga foto Farrel sendirian, tersenyum, tertawa, bahkan yang sedang serius menatap ke arah kamera. Di antara foto foto itu, terselip pita pita lucu, catatan kecil bertuliskan “Dari Farrel untuk Chika”, dan boneka dan benda mungil yang ia tandai sebagai “pemberian spesial dari senpai”.
Setiap inci ruang di sekitar meja itu seolah menjadi museum pribadi yang memuja satu nama yaitu Farrel. Di cermin kecilnya, ia menempelkan foto dirinya berdampingan dengan Farrel, seolah mereka pasangan sejati. “Senpai,” bisiknya pelan, lalu mengepalkan tangan. “Hari ini, watashi bakalan membuat anata memperhatikan watashi. Yosh.. gambarimasu!”
Lalu, suara lain muncul di dalam kepalanya. “Dasar stres. pagi pagi udah ngehalu,” sindir Chaki, suara batin Chika dengan nada sinis.
“Urusai yooo, Chaki!” seru Chika, kini berbicara pada dirinya sendiri dengan ekspresi kesal. “Senpai itu adalah suami masa depan watashi. Hanya saja, dia belum mengetahuinya. Jadi, sudah tugas watashi membuat dia memperhatikan watashi!” Chika beranjak dari kursi, mulai merapikan tempat tidurnya dengan gerakan cepat.
“Setelah dia memperhatikanmu, lalu apa? Kau bakalan kabur? Jadi, apa gunanya itu?” tanya Chaki, nadanya datar menusuk.
Chika terdiam sejenak, lalu mengerucutkan bibirnya. “Moo ii.. kalau senpai tiba-tiba terlalu dekat dengan watashi, maka hati watashi belum siap. Jadi, watashi no sei janai!” dia setengah berteriak membela diri.
Chika melangkah ke kamar mandi, membersihkan giginya dan membasahi wajahnya dengan air dingin. Chaki di dalam batin Chika malah bernyanyi nyanyi tidak jelas dalam bahasa jepang, “Machigai to wa iwasenai. anata ni wa iwa senai. onore, onore yoku ni mamire hora, ato no matsuri.”
Chika keluar dari kamar mandi, dia bersenandung pelan lagu dari anime yang semalam ia tonton. Dia melangkah keluar dari kamarnya menuju ruangan olahraga. Saat ia membuka pintu ruangan olahraga. Di tengah ruangan, Neruka terlihat duduk bersila di atas matras mengenakan penutup mata, nampak seperti sedang meditasi. Namun, suara dengkuran segera mengungkapkan bahwa dia sedang tidur.
Chika melangkah pelan mendekati kakaknya. Dia berjongkok di sampingnya, lalu dengan hati hati menggoyangkan tubuh Neruka. "Neechan, okite! okite!" Bisiknya.
Neruka bergeming sejenak, lalu perlahan mengangkat tangannya ke atas, meregangkan tubuhnya. Dia menggeser penutup mata ke atas kepala, mengintip Chika yang duduk di sampingnya, lalu tersenyum lemah. "Chika, kau sudah datang? Selamat pagi! Ayo kita mulai senam paginya." Dia melepaskan penutup matanya sepenuhnya, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Action[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
