HAPPY READING
***
Sebelumnya. Sahrul berjalan keluar dari markas bersama teman-temannya. “Arlan, cepat ambil mobil di garasi! Kita ke sana sekarang,” perintah Sahrul, matanya bersinar dengan antusiasme.
Arlan, mengangguk dan dengan santai melangkah menuju garasi, menuruti perintah Sahrul.
Sementara itu, Sella berjalan mendekati Sahrul sambil membawa laptop di tangannya. Wajahnya menunjukkan sedikit keraguan. “Sahrul, apakah kita benar-benar akan ke sana tanpa rencana apapun?”
Sahrul menoleh ke arah Sella, senyum tipis terukir di bibirnya. “Rencananya bak bik buk lalu duar,” jawabnya dengan santai.
“Rencana hanya memperlambat kita untuk membunuh mereka. Bakalan gue bunuh mereka semua,” timpal Galang dengan nada semangat.
“Ayolah teman-teman, kita tenang dulu. Ayo kita buat rencana terlebih dahulu sebelum pergi ke sana,” Sella mencoba menenangkan temannya.
“Ngga ada lagi kata tenang lagi, Kak Sella. Kau nggak lihat di foto itu? Redi udah mau mati dan kau masih memikirkan rencana, Kak Sella,” Sahrul terlihat sangat bahagia, seakan dia tidak benar-benar mengkhawatirkan Redi. Senyum di wajahnya tampak aneh dalam situasi yang genting ini.
“Bodoh… ke kandang serigala tanpa persiapan adalah sama saja dengan bunuh diri. Cepat pikirkan sebuah rencana sebelum kita pergi ke sana. Atau bukan hanya Redi yang akan mati, tapi kita semua juga akan mati,” kesal Sella, suaranya meninggi. Dia menatap Sahrul dengan tajam, berharap bisa menyadarkannya dari euforia yang tidak pada tempatnya.
“Nggak mungkin,” ucap Sahrul sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya dengan penuh semangat.
“Benar, nggak mungkin. Gue ini kayak gajah sedangkan Sahrul adalah singa, levelnya udah beda,” timpal Galang dengan semangat yang sama. Senyum kecil menghiasi wajahnya.
Sella mengepalkan tangannya, terlihat geram. Dia tahu bahwa mereka berdua bukan ingin menyelamatkan Redi, tetapi hanya ingin membunuh para penjahat itu. “Kalian berdua ini ya… memang sangat—” kata Sella, suaranya penuh frustrasi.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar mendekat. “Kalian cepatlah naik! Walaupun Redi itu gobl*k, tol*l, dan sok kegantengan, aku tidak mau dia mati. Sekarang,” teriak Arlan sambil mengendarai sebuah mobil. Dia berhenti tepat di depan mereka, pintu mobil terbuka lebar.
“Tumben kau perhatian dengan Redi, Lan. Biasanya kau dan Redi selalu ingin membunuh satu sama lain,” ucap Sahrul sambil melirik Arlan dengan rasa ingin tahu.
“Redi masih ada utang sama gue. Kalau dia mati, siapa yang bakalan lunasin utangnya!” jawab Arlan dengan nada bercanda.
“Sudah kuduga,” batin Sahrul sambil menggelengkan kepala.
“Udah… ikhlasin aja. Kalau seandainya dia nanti udah mati,” jawab Galang dengan nada datar, seolah-olah kematian adalah hal yang biasa.
“Nggak boleh. Kalau seandainya dia mati, aku akan mengambil uang gajiannya ke Sahrul,” jawab Arlan tanpa ragu, membuat Sahrul tertawa kecil.
“Kalian semua bisa tidak untuk kali ini saja jangan bertingkah gobl*k! Salah satu teman kita mau mati, malah ngurusin utangnya,” Sella masuk ke dalam mobil dengan wajah kesal.
“Benar juga ya…” Sahrul terkekeh ceria, Dia memasuki mobil dengan perasaan gembira.
Galang, hanya mengangguk dan mengikuti Sahrul masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Sahrul berdiri di tengah, memimpin dengan penuh energi. “Oke semuanya, apakah kalian sudah siap?” tanyanya dengan suara bersemangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Action[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
