Selamat membaca
***
Langit sore tampak muram, seolah ikut menyaksikan langkah pertama Dion setelah berbulan-bulan terkurung di balik jeruji. Pintu besi rumah tahanan berderit pelan saat terbuka, dan dari dalamnya, seorang remaja bertubuh tinggi dengan rambut pirang kusut melangkah keluar. Di tangannya tergenggam erat kantong plastik lusuh berisi pakaian, satu-satunya harta yang tersisa dari kehidupan lamanya.
Dion berhenti sejenak di ambang pintu, mengangkat tangannya dan mengusap rambutnya yang mulai memanjang tak beraturan. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara bebas menyusup ke paru-parunya. Matanya menyipit menatap langit, seolah mencoba memastikan bahwa dunia di luar masih nyata.
Tak jauh dari sana, seorang pemuda bersandar santai di dinding bangunan tua. Raka, dengan senyum setengah mengejek, menjentikkan jarinya untuk menarik perhatian. "Bagaimana perasaanmu sekarang setelah bebas dari penjara, Kak Dion?"
Dion menoleh, Ia berjalan pelan mendekati Raka. "Aku... jujur saja, sedikit kaget setelah tahu kalau kau yang membebaskanku dari penjara," ucap Dion, suaranya serak. "Bagaimana caranya?"
Raka mendorong tubuhnya dari dinding, melompat kecil ke depan lalu melangkah mendekati Dion. Ia berhenti tepat di hadapan Dion, jarak mereka hanya beberapa inci. ia mengangkat telunjuk dan menekankannya pelan ke dada Dion.
"Aku hanya bekerja sama dengan orang yang juga membenci guru," bisiknya, seolah menyampaikan rahasia besar. "Ini tidak sulit, jika kau tahu celahnya, Kak Dion." Senyum licik mengembang di wajah Raka, matanya menyala dengan semangat yang tak sepenuhnya bisa dipercaya.
Dion menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca maksud di balik kata-kata itu. "Terdengar seperti kau memberitahu kabar kalau aku bakalan melakukan sesuatu yang merepotkan, ya? Tapi aku memang benar-benar yakin." Namun, sedetik kemudian, tatapan curiga Dion berubah menjadi senyuman yang merekah. Ia memandangi Raka dengan ekspresi bahagia.
Raka terlihat tidak nyaman, mengetahui Dion memandangnya seperti itu. "Kak Dio—" Ucapan Raka terpotong.
Dion langsung memeluk tubuh Raka, mengangkatnya, lalu memutar-mutarkan tubuhnya, membawa Raka yang ikut berputar bersamanya. "Aku tahu bahwa kau akan kembali dan membebaskanku dari penjara ini. Aku benar-benar yakin bahwa kau akan membangkitkan kembali Scorpio Red yang telah jatuh." Dion tertawa bahagia. Sebutir tetesan air mata kebahagiaan timbul di matanya.
"Kak Dion, tolong turunkan aku! Aku tahu kau bahagia, tapi ada hal penting yang harus kita bicarakan dahulu." Raka mendorong wajah Dion pelan, dia merasa risih dan berharap agar Dion segera menurunkannya.
Dion tersadar. Ia segera menurunkan tubuh Raka dan meletakkan tangan di pinggangnya. Aura ceria seakan memancar dari tubuhnya. "Maaf, aku benar-benar sudah menunggu momen ini. Jadi, apa yang mau kau bicarakan, Raka? Rencana apa yang akan kita lakukan?" Dion terlihat antusias.
Raka mengusap kepalanya sendiri, merasa sedikit pusing melihat tingkah Dion. "Kenapa sih orang dengan kemampuan khusus yang berbahaya itu kelakuannya nyeleneh?" ujarnya frustrasi.
"Yah, itu normal contohnya bapakmu yang paling nyeleneh di antara kami. Kekuatan serius, kelakuan misterius." Dion tertawa keras sambil menepuk-nepuk pundak Raka.
Raka menundukkan kepalanya, lalu segera bergerak maju, menghindar saat Dion ingin menepuk pundaknya lagi. "Sepertinya orang-orang yang berhubungan dengan Ayah dan Guru, mereka begitu semua. Kekuatan serius, kelakuan misterius." Ia melangkah mendekati mobilnya yang terparkir di dekat sana.
Dion tersenyum lebar, menggaruk kepalanya. "Bos besar Daichi dan gurumu, ketua Gamers Boy. Ahh... nama-nama hebat yang kuhormati itu." Dion merentangkan tangannya sembari melirik ke arah matahari yang menyinari dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Action[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
