Selamat membaca
***
Di tengah keramaian kota, seseorang berjalan dengan tenang di trotoar. Di tangannya, sebuah handphone yang menyimpan bukti kejahatan penyelundupan. Dia berhenti sejenak, menatap papan iklan besar yang menampilkan live streaming Diandra. Pejalan kaki di sekitarnya juga berhenti, tertarik dengan tayangan yang sedang berlangsung.
Dengan tenang, dia membuka aplikasi di handphonenya dan mengirimkan video bukti kejahatan tersebut kepada polisi secara anonim. Setelah itu, dia mengarahkan handphonenya ke papan iklan besar dan mengklik sebuah tombol.
Seketika, tayangan live streaming Diandra berubah menjadi video bukti kejahatan penyelundupan yang diputar secara berulang-ulang. Wajah-wajah para pelaku kejahatan terlihat jelas di layar besar itu, membuat semua orang yang lewat berhenti dan menatap dengan terkejut.
Orang itu tersenyum tipis, merasa puas dengan tindakannya. Dia melanjutkan langkahnya dengan tenang, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku pada tayangan di papan iklan.
"hei kacamata culun. Kau juga ikutan dalam masalah anak anak ini? Ternyata benar ya, satu satunya orang yang bisa menandingi peretas terhebat di masa kini hanyalah orang yang dulunya dijuluki jenius teknologi, Airlangga."
Airlangga(ayahnya Nikku) langsung berbalik badan dan menatap seseorang yang duduk di kursi di sambil menonton live streaming Diandra di handphonenya. "Wijaya, lama tidak bertemu." Airlangga langsung berjalan mendekatinya dan duduk di samping Wijaya.
"sudah cukup lama ya hal semacam ini tidak terjadi. Dia benar benar mengejek dan menantang semua polisi di negara ini. Apakah melihat ini kau mengingat sesuatu?" Wijaya(ayahnya Wisnu) terlihat tersenyum jahat kepada Airlangga.
"mengingat tentang apa? Bahwa dulu pemerintahan dan kekuatan untuk keamanan negara yang dulu kita perjuangan, sekarang tidak lebih dari sebuah permainan di hadapannya?" Airlangga terlihat menatap aneh Wijaya yang tersenyum jahat kepadanya.
"bukan itu bod*h. Tapi, kau benar sih. Aku mengingat bahwa dulu ada tiga orang gila yang menantang seluruh dunia. Dan sekarang muncul anak anak yang sama gilanya menantang semua polisi di negara ini. Entah dia cuma orang gila atau dialah orang yang akan menyelesaikan cerita yang dulu tidak sempat kita selesaikan." Wijaya menatap ke arah langit malam, seolah merenungkan sesuatu yang jauh di masa lalu.
Airlangga, yang duduk di sampingnya, menatap serius. “Kau bilang waktu itu setelah perang, kau mau hidup dengan aman dan nyaman, Wijaya. Tapi, kenapa kau kembali ke sini? Dan, walaupun kau tahu, kau membiarkan anakmu ikut dalam hal seperti ini?”
Wijaya tertawa kecil, lalu menatap Airlangga dengan tatapan mengejek. “Oh, anakmu nggak ikutan ya, Fufu? Apakah sifat di belakang layarmu kau turunkan ke anakmu? Haha. Kalau aku jadi bapaknya, malu sih. Anak seorang jenius masa nggak ikut dalam hal yang menyangkut negara dan teman-temannya sendiri. Siniin mukamu biar kusembunyikan di kolong got biar malunya nggak kelihatan.” Wijaya menekan-nekan pipi Airlangga sambil tertawa mengejek.
Airlangga hanya memasang ekspresi kesal. “Anakku bukannya nggak ikut, tapi memang nggak diajak karena umurnya. Sudahlah… Cepat jawab pertanyaanku saja!”
Wijaya kembali menatap ke langit malam, kali ini dengan tatapan yang lebih dalam. “Keinginanku bersama istriku sebenarnya adalah agar keluargaku hidup dengan nyaman dan aman, tanpa memikirkan bahaya atau pun menyelamatkan dunia. Namun, putraku sendiri yang memilih untuk kembali ke sini. Dia sendiri yang memintaku untuk kembali ke negara ini saat kami seharusnya bisa hidup dengan aman dan nyaman. Dia mengatakan bahwa tidak seharusnya dia berada di tempat yang tenang saat negara tempat dia dilahirkan berada dalam bahaya. Anak sekecil itu berbicara tentang bahaya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Azione[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
