Happy reading
***
"hey.. Bukankah ini terlalu bar bar?"
Empat buah mobil datang ke parkiran dan beberapa saat kemudian tanah di parkiran itu terbuka. Namun, setelah pintu parkiran itu terbuka bom yang dipasang oleh Sahrul dan teman temannya meledak sehingga membuat tanah itu terbuka sangat lebar dan beberapa mobil itu terkena efek ledakan. Semua orang yang berada di dalam empat mobil itu keluar sambil membawa pistol masing masing.
Mereka semua bersiaga untuk menerima serangan. Namun, satu persatu dari mereka mati tertembak dari peluru yang tidak diketahui dari mana asalnya. Sehingga hanya menyisakan satu orang.
Melihat rekan rekannya telah mati salah satu dari mereka mengeluarkan handphone dan hendak menelepon. Namun, dari arah belakang. Seseorang yang memakai topeng menodongkan pistol ke arah kepala orang itu kemudian langsung menembaknya.
Semua anggota face mask keluar satu persatu terlihat Galang, Arlan, Redi yang tengah memegang sebuah sniper dan Sella berkumpul di tempat itu. "ayo semuanya kita pergi!" ajak Sahrul.
"memangnya kita harus banget ya meledakkan pintu ini saat mereka datang ke sini bukannya lebih bagus jika kita masuk ke dalam sebelum mereka datang," ucap Galang.
"tidak usah dipikirkan, Galang! Setiap hal yang kita lakukan pasti sudah dipersiapkan oleh si maniak game itu. Jadi, kau jangan khawatir." Arlan mengambil mobilnya yang terparkir di depan lalu kembali mendekati Sahrul dan yang lainnya dengan menaiki mobil. "ayo masuk!"
"ah.. Benar benar malesin seandainya aku nggak hutang budi aku pasti tidak akan berada di sini." Redi masuk ke dalam mobil.
"haha.. Bukankah ini akan sangat seru. Ayo kita semua beraksi." Galang masuk ke dalam mobil.
"kak Sella ayo!" ajak Sahrul.
"hm.. Baiklah." Sella dan Sahrul masuk ke dalam mobil.
Arlan melajukan mobil itu memasuki pintu di bawah tanah parkiran itu. Di dalam sana terdapat sebuah terowongan panjang yang gelap. Jalan hanya bisa dilihat menggunakan cahaya lampu mobil.
"waku, waku, sugoi." Sahrul terlihat sangat bersemangat.
"Sahrul, lakukan apa yang perlu kau lakukan saja selebihnya biarkan kami yang mengurusnya. Kau tidak perlu memaksakan dirimu yang sedang tidak sehat ini," ucap Sella.
Sahrul membuka jas dan celana lalu memakai sebuah seragam yang tertutup yang diletakkan di bagasi mobil dan juga memakai sarung tangan. Sahrul juga memegang topeng masker gas di tangannya. "haha.. Kau khawatir padaku kak Sella? Sudah aku bilang bukan bahwa aku cuma masuk angin. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"
"huh.. Kau selalu saja seperti ini seharusnya kau tidak perlu ikut bersama kami ke sini biarkan kami saja yang menyelesaikan tempat ini," ucap Sella.
"Aku tidak suka menyuruh orang lain melakukan pekerjaan yang harus aku lakukan karena itu terkesan jahat seolah olah aku hanya memanfaatkan kalian untuk menyelesaikan urusanku. Kalian kan adalah rekanku bukanlah pembantu atau pun alatku, hehe." Sahrul tertawa kecil. Ucapan Sahrul membuat Galang dan Redi melirik ke arahnya.
"hey.. Di depan ada orang tuh, kita harus gimana?" Arlan menunjuk sesuatu di depan saja sehingga membuat semua anggota face mask melihat ke depan.
Mereka melihat banyak orang yang menggunakan baju tertutup sama seperti Sahrul tengah duduk di atas mobil yang disusun berhadapan di tengah tengah jalan sehingga menghalangi jalan. Di belakangnya terdapat sebuah penghalang jalan.
Sahrul mengeluarkan pisau tantonya. "biar aku yang mengurus mereka."
"hey.. Bukankah sudah kubilang bahwa jangan melakukan hal yang tidak perlu," ucap Sella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Action[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
