😁HAPPY READING😁
***
Akira membawa Hiro ke ruang UKS, isyarat tangannya yang tegas menunjuk ke kasur di pojok ruangan, memerintahkan Hiro untuk duduk. "Neruka, nggak ada di UKS ya jam segini?" gumam Akira pelan sambil mencari obat untuk luka Hiro.
Hiro menurut, kepala tertunduk. “Aku hanya ingin melindungi—”
“diamlah!” Akira memotong dengan suara yang dingin seperti es. Dia mengambil beberapa obat dari rak dan mulai menangani luka Hiro dengan gerakan yang terlatih. “jujur aku kecewa dengan cara berpikirmu yang pendek itu. Apakah semua masalah harus diselesaikan dengan pukulan? Tadinya aku berpikir, kau itu mirip seperti kakak. Namun ternyata itu hanya penilaianku saja. Kau sama sekali tidak mirip dengan kakakku, Karna kakak tidak pernah menyakiti wanita.”
“Tapi ini bukan masalah sepele—”
“Dengarkan aku,” Akira menegaskan, suaranya tetap tenang namun ada kekuatan di dalamnya. “Adakalanya cowok sangat marah kepada cewek. Namun, bukan berarti cowok itu boleh memukul cewek. Cowok hanya boleh memukul cewek jika diizinkan oleh cewek itu untuk memukulnya”
“Ini sudah melampaui batas, aku harus memberitahu tuan tentang masalah ini,” Hiro bersikeras, suaranya penuh dengan keteguhan.
Akira menatapnya, matanya terbuka lebar karena terkejut. “Jangan, aku mohon jangan katakan apa-apa pada kakak,” perintanya dengan nada yang mendesak.
“kenapa tidak? Jika tuan tahu, dia pasti akan mengambil tindakan untuk masalah ini,” ujar Hiro dengan nada penuh keyakinan.
“Jangan beritahu kakak!” Akira mendesak, suaranya meninggi sedikit.
Hiro berdiri, kebingungan tergambar jelas di wajahnya. “Kenapa aku tidak boleh memberitahu tuan? Apakah kau ingin melindungi anak-anak itu?” tanyanya dengan nada yang meningkat.
Akira menundukkan pandangannya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. “Bukan, bukan itu. Ada masalah lain,” jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Lalu apa? Aku ingin tahu apa alasannya,” desak Hiro, tidak rela dibiarkan dalam ketidaktahuan.
“Karena aku tidak ingin membebani kakak,” Akira mengungkapkan dengan suara yang serak, penuh emosi.
“Tuan adalah orang yang hebat, dia tidak akan merasa terbebani olehmu,” Hiro mencoba meyakinkan.
“Itu hanya kepura-puraan yang kakak tunjukkan pada dunia. Kakak menipu semua orang dengan senyumnya,” Akira berbicara sambil menahan tangis. “Bagiku, kakak hanyalah manusia biasa, dengan segala kekurangan dan kelemahannya!”
“Aku tidak mengerti, bisa kau jelaskan lebih lanjut?” Hiro mendesak, rasa ingin tahunya semakin memuncak.
Akira menghela napas, seolah berat untuk mengungkapkan isi hatinya. “Aku sering mendengar isak tangis dari kamar kakak. Setiap kali kakak menangis, seolah-olah aku juga bisa merasakan sakit yang dia rasakan. Dan setiap kali aku bertanya, ‘Kakak kenapa?’ dia hanya tersenyum dan menjawab, ‘aku nggak apa apa kok memangnya aku kenapa?’ Setiap kali mendengar jawabannya, hatiku terasa hancur.” Akira tidak lagi bisa menahan air matanya dan akhirnya dia membiarkan air mata itu keluar mengalir di pipinya. Hiro, dengan refleks, duduk dan merangkul Akira, mengusap kepala Akira dengan lembut untuk menenangkannya.
“Tuan adalah orang yang baik. Dia pasti tidak akan tinggal diam jika melihat adiknya dalam keadaan seperti ini,” ujar Hiro dengan suara yang lembut namun pasti.
“Itulah masalahnya! Dia terus-menerus melindungiku dan menghadapi semua masalah demi aku. Aku tidak ingin lagi dia merasakan sakit karena aku, terkena masalah karena aku, dan mengorbankan dirinya demi aku,” kata Akira, air matanya mengalir semakin deras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Acción[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
