Selamat membaca
***
Wisnu tanpa sadar menggenggam tangan Karina lebih erat. Karina, yang awalnya hanya merasa hangat, kini mulai menyadari tekanan lembut di tangannya. Wajahnya memerah, campuran antara rasa malu dan kesal. "Hei... mulut kotor, kau mau modus lagi ya? Lepaskan tanganku!" serunya dengan nada yang mencoba tegas.
"Bodoh," jawab Wisnu dengan nada datar, matanya tetap lurus ke depan. "Aku memegang tanganmu hanya untuk menghangatkan tanganku sendiri. Udara di sini sangat dingin, apalagi karena kau mengambil jaketku." Dia melirik sekilas ke arah Karina, ekspresinya seolah tak peduli. Saat dia kembali melihat ke depan, matanya tiba-tiba membelalak. Ada sesuatu yang membuatnya terkejut.
Karina, yang merasa malu karena ucapan Wisnu, menundukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku akan mengembalikan jaketmu. Aku nggak mau jadi korban modusmu," katanya pelan, mencoba menghindari tatapan Wisnu. Saat tangannya hendak melepaskan jaket itu, Wisnu tiba-tiba berdiri di depannya, menghalangi pandangannya. Dia menekan tangan Karina dengan lembut ke dinding, melakukan kabedon yang membuat Karina terkejut.
"Aku hanya ingin kau fokus kepadaku saja!" Tatapan mata Wisnu menajam. Namun, di balik tatapan itu, pikirannya berkecamuk. "Kenapa dia ada di sana? Kemana mereka semua? Bagaimana kalau Widya dan Karina saling melihat satu sama lain? Dasar nggak becus!" pikirnya, kesal. Dia mencoba menghalangi Karina untuk memandang ke arah Widya, yang baru saja keluar dari pusat perbelanjaan.
Karina, yang merasa terpojok, berusaha melawan. "Tunggu, apa yang sedang kau lakukan? Kau mau aku menghajarmu? Lepaskan aku!" Wajahnya memerah, bukan hanya karena marah, tetapi juga karena jarak mereka yang begitu dekat. Dia memalingkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan Wisnu, sambil mendorongnya pelan.
Wajah Wisnu berubah panik saat Karina memalingkan wajahnya ke arah Widya. Dengan cepat, dia memegang dagu Karina, mengarahkannya kembali ke arahnya. Wajahnya mendekat, hampir menyentuh wajah Karina. "Jangan palingkan pandanganmu dariku. Aku ingin kau terus menatapku!" katanya dengan nada yang lebih dalam, hampir seperti perintah.
Karina merasa wajahnya semakin panas. Dia menatap Wisnu dengan seksama, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. "Neh... bukankah terlalu cepat jika kita melakukan ini?" bisiknya pelan, pikirannya mulai melayang ke arah yang aneh.
Namun, Wisnu tidak mendengarnya. Fokusnya masih tertuju pada Widya, yang kini mulai melangkah menjauh, melewati hujan yang mulai reda. Dia melirik ke arah Akira dan teman-temannya yang baru datang. Mereka terlihat terkejut melihat situasi ini. "Ahh... mereka semua. Apa yang kalian lihat, brengsek? Bukankah aku sudah menjanjikan hadiah kalau kalian bisa membuat kencanku ini berhasil? Kalau Widya dan Karina bertemu di sini, maka habislah sudah. Aku benar-benar ingin menghajar mereka," pikir Wisnu, matanya bergantian melirik ke arah Widya dan teman-temannya. "Ahh Aku benar ingin melakukannya,"Gumam Wisnu pelan. *menghajar mereka semua yang hanya diam menonton di situasi berbahaya ini.*
Karina, yang mendengar gumaman Wisnu, menjadi salah paham. Dia menundukkan wajahnya, tersipu. "Aku melakukan ini bukan karena aku mau melakukannya, tapi karena kau yang memintanya," katanya pelan, dia melingkarkan tangannya di leher Wisnu. Dengan cepat, dia mendekatkan wajahnya.
Refleks Wisnu membuatnya menekuk tubuhnya ke belakang, kehilangan keseimbangan. Dia segera berpegangan pada pinggang Karina agar tidak terjatuh. Namun, Karina juga kehilangan keseimbangannya, sehingga posisi mereka berputar. Punggung Wisnu menabrak dinding toko di belakangnya, sementara Karina tersungkur ke dadanya, memeluknya untuk berpegangan.
"Apa yang kau lakukan sih, bodoh?" Wisnu menatap Karina tajam, berharap mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Karina hanya mengangkat bahu. "Aku melakukan apa yang kau inginkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Aksi[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
