MBIAC || CHAPTER 111

14 0 0
                                        

Selamat membaca

***

"Yoo, selamat datang semuanya. Aku meminta kalian datang kali ini untuk memberitahu bahwa aku sebenarnya adalah monster bayangan pengendali. Dan kita akan membahas penaklukan sekolah Tri Arka yang akan kita lakukan hari ini." Akira menyentuh dada, memperkenalkan diri.  aura dingin memancar dari dirinya, terasa mengintimidasi semua orang di depannya.

Farrel, Claudya, Diandra, dan Neruka, beserta seluruh anggota OSIS dan para perwakilan faksi, terpaku di tempat. Mereka menanggapi pengakuan terang terangan Akira dengan ekspresi yang berbeda, namun satu hal yang menyatukan mereka, yaitu sama sama memasang ekspresi terkejut.

Karina yang ada di sana tertawa kecil. Dia melangkah mendekati Akira, merangkul bahunya. "Akira, bercandamu sangat diperhitungkan ya. Mentang mentang kita dipanggil oleh monster Shotto ke tempat ini, kau malah mengaku sebagai dia." Karina tersenyum kecut ketika Akira menoleh dingin. Karina menoleh ke yang lainnya, dia terlihat khawatir saat melihat Farrel dan Claudya menundukkan kepala. "Wah.. seriusan? Kalian pasti bercanda, kan?"

"Selain kau dan Elang serta kedua OSIS kelas dua, semua anggota OSIS sudah tahu kalau Shotto alias monster bayangan pengendali itu adalah Akira. Jadi, sudah tidak kaget lagi." Wisnu melangkah melewati Karina menuju kursi rapat diikuti Diandra dan Widya di belakangnya. "Jangan bilang aku tidak pernah memperingatimu, ya. Kau aja yang katanya mau menjadikan murid top sekolah ini sebagai bawahan."

Karina berkeringat dingin, mengingat apa saja yang sudah ia lakukan kepada Akira sebelum mereka berteman. Dia menoleh ke arah Nasya dan Nikita. "Kalian, tolong a—"

Nasya dan Nikita memalingkan wajah dari Karina. "Kami tidak tahu apa apa. Jangan libatkan kami untuk masalah ini, Ketua!"

Karina tersenyum canggung kepada Akira. "Akira, kita benar benar sudah berteman, kan? Jadi, masalah yang lama itu—" Belum sempat Karina menyelesaikan ucapannya, Akira mengangkat jarinya membentuk angka tiga, menekannya ke wajah Karina.

"Dua juta tujuh ratus. Itu kerugian mental, laundry, dan uang jajanku yang diambil oleh faksimu. Kubulatkan jadi tiga juta." Akira meremas kuat bahu Karina.  "Aku harap kau melunasi itu sebelum kelulusan nanti. Aku tidak peduli bagaimana cara kau mendapatkannya mau itu dengan memeras faksimu, dari tabunganmu, atau menjual jasa anggotamu. Namun jika tidak kau bayar, akan aku pastikan kau mendapatkan akhir yang sangat buruk di sekolah ini, bahkan setelah lulus dari sini." Akira menekan bahu Karina semakin kuat, memaksa Karina untuk berlutut.

Karina meringis kesakitan, merasakan tekanan yang berat di bahu. Dia meneguk ludah, merasakan intimidasi dari Akira. Dia menoleh ke arah Wisnu, hampir menangis karena ketakutan. "Wisnu, tolongin aku!"

Wisnu berpaling dan menutup telinganya. "Aku nggak denger dan lihat apa pun."

Ririn bertepuk tangan lalu bersorak ceria. "Karina, aku kagum dengan keberanianmu. Kau sudah merundung orang yang dijuluki perundung terburuk dalam sejarah sekolah di Kota Sanjaya. Sebagai guru, ada peraturan yang membuatku tidak bisa ikut campur, jadi aku nggak akan membantumu."

Karina mengertakkan giginya, wajahnya pucat pasi. Ia menundukkan kepala dan bergumam pelan kepada Akira. "Baiklah, Akira.. aku bakalan melunasi semua kerugian yang kau dapatkan dari ulahku." Ia memegang bahu Akira dengan tangan gemetar. "Tapi, kumohon, sekarang ampuni aku ya? Dan kita masih berteman, kan?"

Akira memandangi dingin Karina, lalu menoleh ke Ririn di pojok ruangan. Tatapannya  beralih ke semua orang di depannya yang masih kaget, seperti Elang dan Icha yang tergagap. Nikku memasang wajah trauma, sementara Chika dan Lala menatap kagum dan terkesima kepadanya.

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang