MBIAC || CHAPTER 89

11 1 0
                                        

Selamat membaca

***

Farrel, Elang, Zaki, dan Wisnu bergerak perlahan ke depan, menyelinap di antara bayang-bayang malam. Mereka bersembunyi di balik semak-semak lebat, mengamati dengan cermat beberapa penjaga bersenjata tajam yang berjaga di markas Gerald. “Kami siap,” bisik mereka serempak melalui alat penyalur suara.

“Baiklah… Semuanya, jalankan rencana selanjutnya!” perintah Akira dari kejauhan, suaranya tegas dan penuh keyakinan.

Diandra, yang mendengar perintah Akira melalui alat penyalur suara, segera menatap Arka, Azka, dan Riki. Ketiganya sudah bersiap dengan kembang api yang telah dimodifikasi di tangan mereka, bersama dengan puluhan murid Sekolah Sanjaya dari berbagai faksi. “Perintah sudah dijalankan, sekarang tembak!” seru Diandra dengan semangat yang membara.

Arka, Azka, dan Riki, bersama seluruh murid Sekolah Sanjaya yang ada di sana, segera menyalakan sumbu kembang api mereka. Dengan hati-hati, mereka mengarahkan kembang api tersebut ke markas musuh. Dalam sekejap, kembang api meluncur ke udara dan meledak dengan suara gemuruh, menghasilkan asap hitam pekat yang menyelimuti area tersebut.

Kepanikan melanda tempat itu. Diandra segera berlari ke depan, memimpin yang lainnya untuk maju. “Semuanya! Dengar, habisi semua yang terlihat dengan senjata khusus kalian dan geledah setiap sudut. Kita harus menemukan mereka yang diculik. Ayo!” teriak Diandra dengan suara lantang. Dia berlari bersama Arka, Azka, dan Riki di depan, diikuti oleh murid-murid Sekolah Sanjaya di belakangnya. Diandra tersenyum tipis, mengaktifkan kamera yang terpasang di sakunya, dan berlari menembus asap hitam yang pekat.

Ledakan kembang api membuat para penjaga musuh yang berjaga segera berlari menuju sumber suara. Namun, asap tebal yang dihasilkan membuat mereka tidak bisa melihat apa pun, menciptakan kekacauan di antara mereka.

“Baik, semuanya, tim Diandra sudah memberikan tandanya. Sekarang giliran tim Rajawali dan Dharma. Maju!” Akira memberikan komando dari jarak jauh, matanya tajam mengawasi situasi melalui teropong yang terpasang di matanya.

“Yosh! Sekarang giliran Sekolah Dharma yang akan bersinar. Semuanya, ikuti aku! Ayo maju!” Dirga mematikan alat penyalur suaranya dan berlari maju menyerbu tempat itu, diikuti oleh murid-murid Sekolah Dharma yang bersemangat.

“Huh… Sekolah Rajawali juga tidak akan kalah untuk bersinar. Semuanya, ayo bergerak!” seru Alfan dengan semangat membara. Dia mematikan alat penyalur suaranya dan, dari arah berlawanan dengan tempat munculnya Sekolah Dharma, dia maju memimpin serbuan bersama murid-murid laki-laki Sekolah Rajawali yang mengikuti di belakangnya.

Tempat itu kini diserbu dari tiga sisi oleh Sekolah Sanjaya, Dharma, dan Rajawali, menciptakan kebingungan di antara para penjaga. Mereka terperangah oleh serangan mendadak ini, tidak tahu harus menghadapi ancaman dari arah mana terlebih dahulu. Sementara itu, Farrel, Elang, Zaki, dan Wisnu mengamati dengan cermat. Mereka melihat jumlah penjaga mulai berkurang, teralihkan oleh serangan dari teman-teman mereka.

Akira memberikan komando dengan suara tegas, “Sekarang saatnya. Kalian bertiga, pergilah menyusup ke tempat yang dicurigai sebagai markas bos. Aku sudah mengirimkan petanya ke handphone kalian. Namun, ingat ini, Farrel, Wisnu, dan Elang. Jika kalian tidak sanggup melawan, segera melarikan diri. Ini bukan lagi pertempuran antar sekolah, kalian bisa mati jika memaksakan diri.”

Farrel melihat peta di handphonenya, mempelajari rute dengan cepat sebelum menyimpannya kembali. “Aku mengerti. Baiklah… Semuanya, sekarang giliran kita untuk maju. Ayo!” Farrel mematikan alat penyalur suara itu dan berlari keluar dari semak-semak, diikuti oleh Wisnu, Elang, dan Zaki. Mereka langsung menyerang sisa penjaga yang masih berjaga, lalu menyusup ke dalam markas dengan hati-hati.

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang