MBIAC || CHAPTER 39 ||Wisnu selesai

21 2 1
                                        

HAPPY READING

***

Di sebuah ruangan di rumah sakit Wisnu duduk disamping ranjang yang di atas nya terbaring seorang wanita separuh baya, tidak sadarkan diri. Ditemani oleh Widya. Terdapat selang infus dan oksigen yang terpasang ditangan dan hidungnya wanita paruh baya itu.  Wisnu menggenggam tangan wanita itu. Sambil menghembuskan napas berat. "Ibu.. aku datang kembali," ucap Wisnu pelan.

Widya duduk di samping Wisnu. "Ibu.. hari ini saya telah berhasil menjebak kakak yang terkenal sangat licik. Jadi, Itu membuktikan bahwa aku lebih pintar dari kakak," ucap Widya.

"Aneh.. apa yang kau katakan? Jangan cerita yang tidak tidak pada Ibu!" Marah Wisnu. "Widya, apa yang dikatakan oleh ayah pada saat kau meminta izin untuk menjenguk Ibu?" Tanya Wisnu.

"Ayah mengatakan bahwa kita boleh menjenguk ibu. Tapi, kita tidak boleh pulang terlalu malam," jawab Widya.

"Begitu ya.." Wisnu membaringkan kepalanya di atas ranjang ibunya. "Bilangin sama ayah bahwa aku menginap disini malam ini," ucap Wisnu.

"Tapi kakak--" ucapan Widya terhenti saat Wisnu menatapnya dengan tatapan lembut. "Kakak, jika kakak memiliki hal yang ingin dibicarakannya dengan ibu katakan saja!"

"Aku memang memiliki banyak hal yang ingin ku bicarakan dengan ibu,"

"Ya.. katakan saja apa susahnya,"

"Pakai ini!" Wisnu memberikannya sebuah headphone yang tergantung di lehernya kepada Widya. "Pakai ini lalu setel lagu yang paling keras. kau juga harus berbalik badan. Jangan melihat ke arah ku sampai aku yang menyuruh mu. Kalau kau melanggar nya maka kau akan mendapatkan hukuman dariku!"

Widya mengambil headphone pemberian Wisnu. "Kenapa saya tidak boleh melihat, setiap tiap kali anda  berbicara dengan ibu?"

"Lakukan saja apa yang aku perintahkan! Awas jangan sampai mengintip ya..!"

"Baiklah.. saya mengerti." Widya memakai headphone. Ia berdiri lalu berbalik badan membelakangi Wisnu.

"Anak pintar. Aku akan mentraktir mu  makan di kantin mengunakan uang jajan ku besok!"

Wisnu memperhatikan Widya sebentar. Setelah yakin Widya tidak akan mengintip. Wisnu beralih ke ibunya yang terbaring di ranjang. Wisnu memeluk ibunya pelan. "Aku sangat rindu pada ibu," ucap Wisnu pelan.

"Ibu, kapan ibu bangun? Aku sudah lama tidak mendengar nyanyian suara ibu. Ibu mengatakan padaku bahwa sebagai saudara laki laki aku harus menjaga Widya. Aku telah melakukan semua itu. Aku bersumpah aku menjaga Widya dengan baik. Ibu tahu Widya sekarang tidak sebodoh dulu. Dia sekarang sudah bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri tidak seperti dulu ia selalu mengikuti apa yang aku katakan." Suara Wisnu mulai serak menahan tangis. " Widya sekarang sudah semakin pintar, mungkin kepintarannya sekarang hampir menyamai ku. Tapi, dia masih sangat manja padaku. Dia sangat imut saat menunjukkan sifat kekanak kanakan nya. Tapi, ibu tidak perlu khawatir walaupun dia sudah pintar aku tetap akan menjaganya. Klub Band ku sekarang semakin berkembang. Walaupun ada sedikit masalah. Tapi, itu semua sudah selesai sekarang. Aku pasti akan membuat band yang lebih populer dari pada band milik ibu. Aku berjanji." bibir Wisnu tersenyum. Namun, matanya mengeluarkan air mata. "Ibu mendengarkan ku kan? Aku ingin kita kembali seperti dulu. Saat ibu berada di sisi ku. Saat kita, aku dan Widya bersama sama belajar bernyanyi. Saat ibu mengajari Widya bermain piano. Jujur aku dan ayah tidak bisa mengajari Widya apapun. Ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya dan aku memaklumi hal itu. Aku juga tidak bisa mengajari Widya bermain piano seperti ibu. Bahkan aku tidak bisa bermain piano." Air mata milik Wisnu mengalir deras tidak bisa ditahan lagi. "Andaikan waktu itu aku yang tertimpah dan bukan ibu. Maka aku yakin Widya pasti bisa bermain piano lebih jago dari sekarang. Hari ini aku melihat Widya bermain piano. Dia sangat gembira. Dia tersenyum dan memeluk ku dengan polosnya. Hari ini dia menyelamatkan ku. Menyelamatkan nama baik ku. Adikknya yang aneh ternyata bisa diandalkan juga. Pasti didalam hati Ibu, ibu menasehati ku. 'jangan mengejek saudari mu seperti itu' haha.. Itu adalah kata kata yang selalu ibu katakan padaku saat aku mengejek Widya. Namun, sebenarnya aku sangat menyayangi nya bahkan melebihi nyawa ku sendiri." Wisnu membaringkan kepalanya di ranjang ibunya. "Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan lagi. Sebelum kesini aku sudah mengingat semua yang akan ku katakan pada ibu. tapi, saat melihat ibu aku melupakan semuanya. Mungkin aku akan menceritakan semuanya pada ibu jika aku kesini lagi. Aku menyayangi mu, ibu." Wisnu mengusap air mata di wajahnya.

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang