Selamat membaca
***
Di pusat perbelanjaan yang ramai, Akira berdiri dengan tangan terselip di saku jaketnya, matanya mengamati layar handphonenya dengan ekspresi dingin.
Dia menyeringai tipis, karena sesuatu yang ia lihat di layar. Dengan gerakan santai, ia memasukkan handphonenya ke dalam saku. "Semuanya benar benar bersenang senang, ya?" gumamnya pelan.
Diandra, yang berdiri tepat di sebelahnya, melirik dengan sedikit rasa penasaran. "Lalu, bagaimana dengan kita?" tanyanya.
"Maksudmu?" Tanya Akira kebingungan.
"Aku penasaran." Diandra menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Kau punya cara melihat dunia yang berbeda, jadi aku ingin tahu seperti apa hubungan kita yang terlihat dari matamu." Tangan Diandra perlahan terangkat, hendak merangkul Akira, gerakannya hanya bertahan sekian detik sebelum Akira bereaksi cepat. Akira menepisnya dengan satu gerakan cepat, lalu memukul rahang Diandra cukup keras hingga membuatnya mundur beberapa langkah, menahan rasa sakit.
Diandra mengerang pelan, tangannya otomatis memegang dagunya. "Aww..."
Akira tetap memasang wajah datar, seakan tidak peduli dengan keadaan Diandra. "Itu tugasmu untuk menetapkan seperti apa hubungan kita." Akira berhenti di depan sebuah mesin capit, matanya mengamati boneka boneka di dalamnya, sebelum akhirnya menunjuk satu boneka besar yang berada di sudut mesin. "Ngomong ngomong, bukankah kau sudah janji padaku bahwa kau akan mendapatkan boneka besar ini untukku, Diandra?" Akira melirik ke arah Diandra di sampingnya.
Diandra masih memegang dagunya, ekspresinya berubah dari kesakitan menjadi kebingungan. "Hah memangnya gue pernah janji begitu, kapan?"
"Tadi pas kita berdua di atap," jawab Akira.
"Huh... aku nggak ingat. Seingatku, gue nggak pernah janji begitu pada lu," ujar Diandra, melangkah ke samping Akira.
Akira meliriknya dengan sorot tajam, ekspresi wajahnya tampak penuh dengan kritik terselubung. "Wah... jadi kau ini tipe pria yang suka melupakan dan mengingkari janjinya ya? Aku paling benci sama cowok seperti itu." Ia memegang bibirnya sambil menatap Diandra, seolah baru saja melihat sesuatu yang menjijikkan.
Diandra seketika terkejut, tubuhnya menegang sesaat. "Ahh... aku nggak lupa, mungkin cuma kurang ingat aja," katanya buru-buru, berusaha meredam suasana yang semakin memanas. "Gue pasti akan menepati janjiku... cuma dapetin boneka besar ini aja, kan?" Ia tertawa canggung, lalu maju ke depan mesin capit itu dengan ekspresi yang sedikit dipaksakan.
"Bersiaplah... aku akan mendapatkan boneka ini untukmu, lho!" katanya penuh semangat, sambil memasukkan uang ke dalam mesin.
Dengan hati-hati, Diandra mulai menggerakkan capit, fokus sepenuhnya pada boneka yang ingin ia ambil. Mesin itu awalnya tampak bekerja dengan baik, capit berhasil menangkap boneka besar. namun, tepat sebelum mencapai lubang, boneka itu tergelincir dari genggaman dan jatuh kembali ke tumpukan boneka lainnya.
Akira tertawa kecil, meremehkan. "Hihi... kau benar-benar payah ya, Diandra?"
Wajah Diandra memerah, bukan karena malu, tapi lebih karena kesal. "Hah... ini cuma pemanasan, tahu? Kali ini pasti dapat," katanya, berusaha membela diri. Dengan cepat, ia memasukkan uang lagi, mencoba sekali lagi. Namun, hasilnya tetap gagal.
"Mau menyerah?" ejek Akira dengan senyum tipis. "Aku bisa mewakilkanmu mendapatkan boneka itu. Walaupun itu jadinya terlihat bukan karena usahamu."
Diandra menatap tajam mesin itu, lalu melirik ke arah Akira, matanya penuh tekad. "Lu tunggu saja. Aku akan mendapatkan boneka itu untukmu," ucapnya penuh keyakinan. Namun, usaha demi usaha yang ia lakukan tetap gagal. Dan sepanjang percobaannya, Akira hanya berdiri di samping, menikmati kegagalannya dengan senyum kecil yang terlihat meremehkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Action[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
