Happy Reading
***
Nikku berdiri di depan pintu ruangan kerja ayahnya, tangannya gemetar saat dia meraih gagang pintu. Wajahnya mencerminkan kebimbangan yang mendalam, seolah-olah ada badai di dalam hatinya. “Masuk… tidak ya… masuk… tidak ya…” gumamnya berulang kali, suaranya hampir tak terdengar. Keinginannya untuk menemui ayahnya begitu kuat, namun keraguan yang sama besarnya menahannya di tempat.
“Sepertinya aku tidak bisa melakukannya. Tapi aku ingin sekali mempraktekkan apa yang diucapkan oleh Kak Hiro,” pikir Nikku, teringat kata-kata dari Hiro yang kini menjadi sumber inspirasi. Namun, keberanian itu masih terasa jauh dari jangkauannya.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan seorang pelayan keluar. Nikku segera mendekat, berharap mendapatkan sedikit dorongan. “Paman, apakah ayahku ada di dalam?” bisiknya, takut suaranya akan terdengar oleh ayahnya.
Pelayan itu menatapnya dengan mata penuh pengertian. “Tuan muda, Tuan besar menyuruhku untuk mengantarmu menemuinya,” jawabnya dengan suara yang cukup keras, membuat Nikku terkejut.
Nikku terlihat panik, matanya melirik ke segala arah, takut ketahuan oleh ayahnya. “Jangan bicara keras-keras! Bagaimana kalau—” ucapannya terhenti mendadak ketika suara ayahnya memanggil dari dalam ruangan.
“Nikku, kau ada di sana, nak? Masuk saja, tidak apa-apa,” suara ayahnya terdengar tenang namun tegas, membuat jantung Nikku berdebar lebih kencang.
“Tuan muda, silakan masuk,” pelayan di sampingnya mempersilakan dengan sopan, namun cukup keras untuk membuat Nikku semakin gugup.
Dengan perasaan takut, Nikku melangkah memasuki ruangan kerja ayahnya. Ruangan itu terasa dingin dan penuh dengan aura kewibawaan. Di sana, dia melihat bagian belakang tubuh seorang pria yang duduk di kursi kerja, punggungnya tegap dan penuh otoritas.
“Ayah…” panggil Nikku dengan suara bergetar, penuh keraguan.
“Kenapa kau berdiri di sana? Ayo, mendekatlah ke sini,” ucap ayahnya, Airlangga, seorang pria dewasa berwibawa dengan tatapan tenang. Dia mengenakan kacamata dengan model yang sama dengan Nikku, memberikan kesan bahwa mereka memiliki ikatan yang kuat. Wajahnya terlihat terkena cahaya komputer di depannya, dan dia memejamkan matanya sejenak, tetap duduk membelakangi Nikku.
Nikku melangkah dengan canggung, setiap langkahnya terasa berat saat ia mendekati ayahnya. Jantungnya berdebar kencang, dan tangannya sedikit gemetar. Ketika ia sudah cukup dekat, ayahnya, Airlangga, tiba-tiba berbalik badan dan dengan cepat memeluknya erat. “Maaf…” bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar.
“E-eh, Ayah!” seru Nikku, matanya terbelalak kaget. Ayahnya yang biasanya pendiam dan jarang menunjukkan kasih sayang, kini memeluknya dengan penuh emosi.
Airlangga memeluk Nikku semakin erat, tubuhnya bergetar. “Maafkan Ayah. Maafkan Ayah. Maafkan Ayah,” ucapnya berulang kali, suaranya penuh penyesalan.
Nikku merasakan kepanikan merayap di hatinya. Ini pertama kalinya ia merasakan pelukan seperti itu dari ayahnya. “Ayah, ada apa ini? Kenapa Ayah begini?” tanyanya dengan suara gemetar, sambil menepuk-nepuk punggung ayahnya dengan lembut.
“Maafkan Ayah. Maafkan Ayah. Maafkan Ayah,” suara Airlangga terus terdengar, penuh dengan rasa bersalah yang mendalam.
Nikku terdiam sejenak, terkejut dengan tindakan ayahnya yang tiba-tiba. “Ayah, ada apa?” tanyanya lagi, hatinya dipenuhi perasaan aneh dengan perlakuan ayahnya ini. Namun, dia masih menahan diri untuk tidak bereaksi lebih jauh.
“Maafkan Ayah. Karena selama ini tidak memperdulikanmu. Maafkan Ayah karena selama ini tidak pernah mengapresiasi apa yang kau lakukan sehingga membuatmu jadi seperti ini,” ucap Airlangga dengan penuh penyesalan, memeluk putranya semakin erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Action[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
