MBIAC|| CHAPTER 109

14 1 0
                                        

Selamat membaca

***

Remaja itu melangkah maju selangkah. “Maaf sebelumnya. Aku akan memperkenalkan diri. Aku Bagas, ketua pengurus taman bermain ini. Aku mendapat laporan bahwa ada sedikit masalah di sini. Apakah benar kalian telah melakukan perusakan pada salah satu wahana permainan kami?” Bagas berdecak pelan. Wajahnya berubah, menunjukkan ekspresi yang sulit ditebak.

Karina segera melangkah maju ke depan, ingin protes. "Apa pengerusakan? Karena wahana bebek kayuh di sana, kami hampir kecebur ke kolam tahu! Cepat minta maaf padaku!" oceh Karina, tidak terima.

Bagas memasang ekspresi malas. "Benarkah?" Nadanya datar.  "Ya, itu merupakan kesalahan dari pihak kami sebagai pengurus. Untuk itu, kami memang ingin meminta maaf. Namun, kalian juga melakukan kesalahan yang sama, bukan? Cih.." Bagas berdecak. Ia mengangkat tangannya dan memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk memeriksa bebek kayuh yang tadi dinaiki oleh Wisnu dan Karina.

Karina merasa geram atas sikap Bagas yang seperti tidak menghargainya. Karina hendak mendekati Bagas. Namun, Wisnu melesat ke depannya dan mengangkat tangannya, menghalangi Karina mendekati Bagas.

"Kesalahan apa yang kami perbuat, hah? Kalian seharusnya memberikan ganti rugi dan permintaan maaf! Kami hampir tercebur ke kolam yang dingin gara-gara kesalahan teknis dari bebek kayuh itu. Bagaimana kalau kami sakit setelah terjatuh ke air yang dingin di kolam ini, hah?" Wisnu menunjuk kolam di belakangnya. "Kau seharusnya bersyukur aku tidak ingin mempermasalahkan ini. Atau, kau ingin aku mempermasalahkannya?" Wisnu tampak emosi, menggebu-gebu di depan Bagas.

Bagas menutup telinganya sambil menggertakkan giginya. "Malas menanggapi." Ia menoleh ke arah belakang, Bagas melihat pengawalnya berlari membawa sesuatu di tangannya.

Pengawal melangkah mendekati Bagas. "Ketua, lihat! Aku menemukan pedal yang patah akibat dikayuh terlalu keras!"  Dia mengangkat pedal itu tinggi agar semua orang bisa melihatnya.

Bagas menunjuk pedal patah yang dibawa oleh pengawalnya. "Pedal ini patah, dan ini adalah kesalahan kalian. Benar, kan? Kau mengayuhnya terlalu keras, makanya pedal ini jadi patah." Dia melangkah maju selangkah mempersempit jarak antara dirinya dan Wisnu. Dia menunjuk wajah Wisnu, menuduhnya dengan nada tak bisa dibantah.

Wisnu mengertakkan giginya, tak mampu mengelak dari tuduhan itu. "Apa? Ya, itu memang patah karena aku mengayuhnya. Tapi aku mengayuhnya dengan cepat karena bebek air itu kemasukan air, dan kami tidak punya pilihan lain selain mengayuh dengan cepat untuk sampai ke pinggiran kolam!" Wisnu mengepalkan tangannya karena kesal, tapi dia mencoba mempertahankan ketenangannya.

Bagas melipat tangannya di dada, dia memandang rendah Wisnu. "Jadi, kau benar mematahkannya, kan? Baiklah. Kau sudah mengakui kalau ini benar-benar salahmu. Jadi, bagaimana kau akan mengganti ruginya? Cih.." Bagas berdecak, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Wisnu.

"Minggir, Wisnu! Biar aku yang menghajarnya!" Karina yang tidak bisa menahan emosi lagi menyela dan hendak memukul Bagas. Namun, Wisnu segera menarik Karina kembali ke belakang, karena tidak ingin Karina terkena masalah.

"Nggak usah ikut campur, bod*h!" Wisnu melesat ke depan, sengaja menabrakkan dadanya ke Bagas karena sudah tidak bisa sabar lagi. "Ayo sini kalau kau mau ribut denganku!" Wisnu mengepalkan tangannya kuat, menantang Bagas untuk berantem.

Hiro dan Elang segera menarik Wisnu kembali ke belakang, mendekati Chika dan Akira yang berada di sana. Semua teman-teman Wisnu dan Karina yang mendengar keributan itu segera mendekat untuk membantu mereka berdua.

Sherly dan Neruka menarik Karina ke belakang, membawanya mendekati Chika dan Akira. Chika segera menggunakan kemampuannya untuk membuat perasaan Karina lebih stabil.

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang