MBIAC || CHAPTER 103

10 1 0
                                        

Selamat membaca

***

Setelah kejadian tersebut, Wisnu dan ibunya dipanggil ke sekolah untuk memberikan penjelasan tentang insiden yang terjadi. Ketiga murid kelas 6 itu, bersama dengan orang tua mereka, mengarang cerita seolah-olah Wisnu yang bersalah karena menyerang mereka tanpa alasan. Dengan nada pelan dan hati-hati, Wisnu menjelaskan kejadian sebenarnya, meski dia tahu bahwa apa pun yang dia katakan mungkin hanya dianggap sebagai usaha membela diri. Di sampingnya, ada Widya yang ikut hadir dan mengatakan bahwa dia sering melihat ketiga anak itu menghadang Wisnu saat pulang sekolah. Namun, karena dia adalah saudara Wisnu, kesaksiannya dianggap tidak objektif.

Ibunya Wisnu hanya duduk diam, bingung dan mati kata di hadapan orang tua dari murid-murid yang dihajar Wisnu beberapa hari yang lalu. Guru tampak ragu, namun sebelum memberikan keputusan hukuman, tiba-tiba terdengar suara lantang dari arah pintu. "Tunggu!" Karina berteriak dan masuk ke dalam ruangan dengan penuh semangat.

Wisnu terbelalak melihat kedatangan Karina, tidak menyangka dia akan hadir di sini. "Kenapa dia ada di sini?" Batin Wisnu.

Dengan yakin dan penuh percaya diri, Karina menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Dia memberitahu bahwa Wisnu hanya melindunginya. Karina menunjukkan bekas lebam di pipinya akibat pukulan dari ketiga anak itu. Dia juga menjelaskan bahwa alasan salah satu anak tidak memakai baju sekolah adalah karena bajunya terkena tinta spidol yang sulit dihilangkan. Karina bahkan membawa bukti, yaitu baju taekwondo Wisnu yang ditemukan oleh kakak kelas di tempat sampah, diyakini sebagai ulah ketiga anak tersebut.

Ucapannya yang meyakinkan membuat guru mulai ragu dengan cerita ketiga anak itu. Guru kemudian memutuskan untuk memanggil kakak kelas yang disebut oleh Karina. Tiba-tiba, seorang siswa yang membantu Wisnu saat kejadian itu masuk ke ruangan. Dengan tenang dan santai, dia menjelaskan bahwa dialah yang membantu Wisnu saat dikeroyok dan melihat baju Wisnu yang dibuang oleh ketiga anak itu. Dia kemudian mengambil baju tersebut sebagai bukti.

Penjelasannya yang masuk akal membuat ibunya Wisnu akhirnya ikut angkat bicara, membela anaknya dengan penuh keyakinan. "Kalian lihat kan bukti bukti ini? Anakku tidak bersalah. Dia hanya difitnah oleh mereka bertiga. Jika anakku dihukum berdasarkan fitnah dari anak anak ini maka aku akan menyuruh suamiku menuntut sekolah ini karena sudah bersikap tidak adil kepada anakku."

Orang tua dari ketiga anak itu akhirnya terdiam, tidak bisa membantah bukti yang ada. Setelah mendengar semua penjelasan, guru akhirnya memutuskan bahwa Wisnu tidak akan dihukum dan mereka disuruh keluar dari ruangan. Sementara itu, ketiga anak kelas 6 bersama orang tuanya tetap berada di dalam untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut.

Setelah keluar dari ruang guru, Wisnu berdiri di depan Karina dengan ragu-ragu. Dia mengepalkan tangannya, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Karina. "Terima kasih ya. Aku tidak mengharapkan pertolonganmu, tapi aku berterima kasih karena kau membantuku."

Karina tersenyum jahil dan menjawab dengan nada menggoda, "Apaan sih, kau tidak seperti biasanya, yang selalu menyebalkan dan punya sifat yang jelek. Apakah karena kita sekarang ada di depan ibumu kau jadi baik begini?" Dia menjabat tangan Wisnu dengan hangat. "Sama sama."

Namun, dari arah tengah, Widya datang dan mendorong jabat tangan mereka sehingga membuatnya terlepas. "Maaf saya mau lewat. Masalah sudah selesai, jadi ayo kita kembali ke kelas," ucap Widya sambil memegang tangan Wisnu dan Karina di tangan satunya. Dia menarik mereka pergi dari sana. "Kami pergi dulu ya, Ibu."

Ibunya Wisnu hanya tersenyum menggoda dan melambaikan tangannya. "Iya, belajarlah yang rajin ya, Nak. Juga perlakukan calon kakak iparmu itu dengan baik," ucapnya dengan nada bercanda.

Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang