Happy Reading
***
Keesokan harinya, bel istirahat sekolah Sanjaya berbunyi nyaring, menandakan waktu istirahat telah tiba. Beberapa murid langsung berhamburan keluar dari kelas, berjalan cepat menuju kantin sekolah untuk membeli jajanan atau mencari tempat lain untuk menikmati waktu istirahat mereka. Suasana di koridor sekolah menjadi ramai dengan suara tawa dan obrolan para siswa.
Namun, berbeda dengan murid lainnya, Hiro tetap duduk di bangkunya. Saat jam istirahat dimulai, ia mengeluarkan buku dari dalam tasnya dan membuka lembar halaman buku tersebut untuk melanjutkan membaca buku favoritnya. Di sebelahnya, Akira mencoba untuk tidur. Ia menggulung lengan seragamnya, menjadikan tangannya sebagai bantal, lalu meletakkan kepalanya di atas tangan tersebut. Matanya perlahan terpejam, berusaha mengabaikan keramaian di sekitarnya.
Tiba-tiba, dua orang murid, seorang cewek dan seorang cowok, masuk ke dalam kelas 3A. Mereka berjalan mendekati Hiro dengan langkah yang penuh semangat. Cewek itu dan Nikku, tersenyum manis saat melihat Hiro yang sedang asyik membaca.
“Kak Hiro,” sapa Nikku dengan suara lembut namun ceria.
“Hm… apa?” sahut Hiro tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya. Ia tetap fokus pada halaman yang sedang dibacanya, seolah-olah tidak ingin terganggu.
“Tablet ini milik Kak Hiro ya?” tanya Nikku sambil menunjukkan sebuah tablet kepada Hiro. Suaranya terdengar ragu-ragu, namun ada rasa penasaran yang jelas terpancar dari matanya.
Hiro melirik sejenak tablet yang dipegang oleh Nikku, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Akira yang masih tertidur di sebelahnya. “Benar,” jawab Hiro singkat sambil menganggukkan kepalanya. Ia kemudian mengambil tablet tersebut dari tangan Nikku dengan gerakan yang tenang, meletakkannya di atas meja.
“Kak Hiro, Sherly sudah menceritakan semuanya padaku,” lanjut Nikku. Ia terlihat memainkan tangannya sendiri, jelas menunjukkan rasa gugup di hadapan Hiro. Matanya sesekali melirik ke arah Sherly yang berdiri di belakangnya.
Sherly, yang berdiri dengan santai di belakang Nikku, tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah Hiro. Senyumannya penuh dengan kehangatan, seolah-olah ingin memberikan dukungan kepada Nikku.
“Terus?” tanya Hiro dengan nada kebingungan. Ia mengerutkan keningnya, tidak sepenuhnya mengerti apa yang diinginkan Nikku dari percakapan ini.
“Terima kasih, Kak Hiro. Terima kasih telah membantuku. Terima kasih banyak,” kata Nikku sambil menundukkan kepalanya berkali-kali. Rasa terima kasih yang mendalam terlihat jelas dari gerak-geriknya. Ia merasa benar-benar berhutang budi pada Hiro atas bantuan yang telah diberikan.
Hiro menyimpan bukunya dengan perlahan pelan, lalu tersenyum kecil. “Cuma terima kasih doang nih, nggak tertarik jadi temanku?” tanyanya dengan nada menggoda, menatap gemas ke arah Nikku. Senyumannya yang hangat membuat suasana menjadi lebih santai, dan Nikku merasa sedikit lebih nyaman.
Nikku kemudian menyakinkan dirinya. Ia mengepalkan tangannya erat-erat, dan matanya penuh dengan tekad. “Kak Hiro, aku di sini ingin mengatakan sebuah hal penting yang harus kusampaikan padamu,” ucapnya dengan suara yang lembut namun tegas. “Mungkin ke depannya kita bisa hidup bersama, melewati masalah bersama, dan juga senang susah bersama saat kita sudah bersahabat. Namun, hubungan indah seperti itu harus diawali dengan baik, bukan? Jadi, aku akan mengawali hubungan indah kita dengan bertanya, maukah kau menjadi temanku? Aku mengharapkan jawaban iya darimu, bagaimana?”
Nikku berlutut di depan Hiro, menjulurkan tangannya dengan penuh harap. Sherly, yang berdiri di belakang Nikku, menahan tawanya. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak melihat aksi dramatis temannya. Sementara itu, Hiro hanya tersenyum getir, menatap Nikku dengan tatapan aneh. Wajah Nikku memerah menahan malu, namun ia tetap berusaha mempertahankan keberaniannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Sandara : my brother is a criminal (S2 Dimulai)
Action[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Tubuh dikendalikan oleh pikiran. Tetapi, pikiran mengikuti hati." Dulunya Keluarga Sandara alexander adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Walaupun, keluarga itu memiliki sebuah rahasia yaitu ayah dan...
