79/99 It's amazing how well she portrayed her feels into the design .
80/99 Now I understand, that she was just confused by her feelings and didn't know what to do next.
81/99 She wants to try to love.
____
"I'm sorry." Kini ia juga duduk dengan mengangkat sebelah kakinya keatas sofa sehingga bisa merengkuh wanita itu kedalam dekapannya. Dominic mencium puncak kepala Gabrina, "Kita bisa melakukannya dengan perlahan, dengan aku yang menggantikan semua kenangan buruk yang pernah kamu alami. In the right way, in the right time."
"Show me."
Dominic mengedikkan bahunya sekilas, tidak keberatan dengan permintaan Gabrina. Ia memutar tubuhnya dan menarik Gabrina untuk berputar juga, saling berhadapan. Sendok yang digunakan Gabrina terlepas, memantul ke sofa dan terjatuh tanpa ada yang memedulikannya. Walau wanita didepannya telah memakan eskrim, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana bibir Gabrina yang masih membengkak karena dirinya. "Angkat sweaterku, Gabrina."
Dengan jarak sedekat itu jantung Gabrina berdegup lebih cepat, membuatnya meletakkan – atau hampir melempar – es krim ke meja. Ia menggerutu, "Memangnya kamu tidak bisa melakukannya sendiri?"
"No, just throw my sweater and you can see what I want."
Nafas Dominic menyapu lembut wajahnya. "Apa? Perut kamu atau yang lainnya?"
"Just–" Dominic tidak tahu akan berapa lama Gabrina membuatnya semakin gila. "You can see after you lift this sweater."
Gabrina yang ragu-ragu kemudian melarikan ujung jarinya pada bagian bawah sweater Dominic sementara pria itu menatapnya intens. Ia menegakkan tubuh, bertumpu pada lutut saat sweater itu mulai lolos dari kepala Dominic, kemudian pria itu merengkuh pinggang Gabrina dan memasukkan tangan ke dalam baju itu hingga kulit mereka saling bersentuhan.
Gabrina terkesiap karena sekarang tangan Dominic berada di bawah belakang punggungnya, tepat dibawah kaitan bra dan itu membuatnya refleks melempar sweater Dominic entah kemana. Tidak membuang waktu lagi, Dominic kembali menyatukan bibir mereka dan menciumnya dengan lembut. Tidak terburu-buru, seolah ia juga membiarkan Gabrina menikmatinya karena ia bisa merasakan tangan Gabrina begerak mengalungi leher Dominic. Suara decapan dan lenguhan memenuhi ruang tengah Dominic yang besar sementara tidak ada yang memedulikan es krim yang mulai meleleh atau tubuh keduanya yang saling beradu.
"Touch me, Gabrina." Ia memundurkan kepala mereka dan membiarkan Gabrina mengambil nafas sebanyak-banyaknya, "Ditempat manapun yang kamu ingin tahu."
Sorot matanya meredup saat jemari Gabrina menyusuri garis bahu Dominic, terus bergerak hingga memutar di perut Dominic dan menyentuh salah satu otot yang ada disana. "Perut kamu keras, Dominic. Seberapa sering kamu olahraga?"
"Konsitensi, I guess." Suara serak Dominic menjawab, "Sekarang apa yang kamu rasakan?"
"Tubuh kamu keras dan aku pusing." Gabrina menjawab tanpa mengangkat pandangannya dari otot Dominic. "Aku berputar-putar."
"Keras – seperti apa maksud kamu?" Dominic meminta detail jawaban.
"Lengan kamu, dada, bahu."
"Kita berdua sama-sama bergairah, Gabrina. Apa dengan ini – kamu menyentuh tubuhku – membuat kamu puas? Apa kamu menyukainya?"
"Aku suka."
"Aku juga suka," tangan Dominic yang masih berada dipunggung Gabrina menyusuri tali belakang bra wanita tersebut. Bermain-main membentuk pola abstrak. "Apa mereka – dulu yang menyakiti kamu – menyentuh kamu dengan kasar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Endless Lullaby
Chick-LitEndless Lullaby | Mint Series #1 © 2020 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
