Satu tahun kemudian,
Helsinky, Finlandia.
Dominic membuka mata setelah mengerjap berulang kali. Ia menggeliat, disampingnya Gabrina dengan jubah mandi berwarna putih duduk bersandar di kepala ranjang dengan laptop dipangkuannya. Rambut wanita itu terlihat acak-acakan, diikat seadanya hingga Dominic bisa melihat dengan jelas dahi mengkerut wanita tersebut.
Ia kemudian memutar tubuhnya menyamping memandangi Gabrina tanpa mengucapkan apapun. Gabrina sekilas melirik ketika ia menyadari tatapan tersebut sebelum kembali ke pekerjaannya, "Ada apa?"
"Jet lag?" Dominic bertanya balik dengan suara serak. Kini mereka berada di apartemen dua lantai, tempat dimana Dominic tinggal belasan tahun lalu. Gabrina menggeleng sekilas. "Just sleep, Nic."
Dominic seharusnya tahu, keduanya telah merubah jadwal tidur mereka sehari sebelum berangkat ditambah dengan penerbangannya, agar tidak mengalami gangguan ritme tidur yang parah. "Pekerjaan?"
"Hm," Gabrina hanya bergumam. "Jim mengirim dokumen yang harus selesai minggu depan."
"Aku penasaran apakah dia tahu perbedaan jam antara Helsinky dan Jakarta."
"Aku yang memintanya," Gabrina mendesah. "Don't mind me, lanjutkan saja tidurmu."
"Ini jam tujuh, Coeur."
Setahun berlalu sejak ia mengetahui artinya, dalam beberapa situasi Gabrina tahu Dominic memiliki arti berbeda kepada dirinya. "Nic, nanti siang kita memiliki rencana dengan orang tuamu. Aku tidak bisa bekerja didepannya, atau sepanjang perjalanan dimana ibu atau ayah kamu akan melihat dan menilai aku."
"Coeur, kamu panik lagi? Kamu sudah bertemu dengannya empat bulan yang lalu. Dia menyukaimu."
"Bagaimanapun pembicaraan kami bisa dihitung dengan jari." Gabrina tertawa kecil. Ia melirik Dominic, pria itu meringkuk dengan selimut mereka dan terlihat lelah setelah enam jam yang lalu sampai di apartemen ini.
"Apa yang perlu dikhawatirkan?"
"Well, aku ikut last-minute trip ini. I'm not supposed bother your family schedule." Hervé dan Jeanne memiliki jadwal kunjungan ke Finlandia selama lima hari. Sementara itu, Gabrina cukup stress dengan private show yang selesai tiga minggu yang lalu, dan promosi dokumenter yang memakan waktu hingga satu bulan. Ia menyetujui ajakan Dominic yang berencana mengunjungi kota tempatnya menetap di Finlandia. Hal yang tidak ia duga adalah ketika Dominic memberitahu rencana tersebut kepada orang tuanya di telepon, Jeanne segera meminta itinery mereka untuk mencari waktu kosong.
"Mereka menanyakanmu setiap kali berbicara denganku, I think I'm not their son again." Dominic terkekeh. "Dokumen apa yang kamu kerjakan?"
"Hak cipta, jawaban penampilanku di talkshow minggu depan, dan dua harus kutanda tangani sebelum tiga jam lagi harus meja Charleen."
"Aku bisa membantu." Dominic ikut bangkit, duduk di tepi ranjang sebelum ia mengambil tasnya ke atas ranjang mereka. Ia mengeluarkan laptop, "Kirim ke emailku daftar pertanyaannya."
"Nanti aku susah menghafalkannya, Dominic."
"Hanya poin-poin penting yang kutulis. Satu kalimat pendek. The finest answer that you will see in your appearances."
____
"La Perla looks good on you." Dominic bersandar di pintu, tersenyum miring saat mengamati Gabrina yang memakai celana jeans tanpa atasan apapun kecuali La Perla yang membungkus tubuhnya dengan sempurna.
"Pervert."
"You didn't close the door, Coeur."
Gabrina mengangkat kepalanya lagi, menemukan mata Dominic. "And you're supposed to make a quick call, right?" Lima menit yang lalu ia mengecek Dominic yang menyempatkan untuk ikut web teleconference dengan para produser di dapur setelah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Endless Lullaby
Chick-LitEndless Lullaby | Mint Series #1 © 2020 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
