91/99 But she didn't want to admit that feeling. She's just scare of everything.
92/99 She has the ability to approach and dogde in her own way.
93/99 She planning to stop, but she can't. Rest of the story, I beg for her to stay in my side.
___
Jeanne Faillieres, hampir tidak bisa berhenti tersenyum ketika ia melihat putra keduanya berdiri menunggu didepan mobil yang akan membawa mereka menuju gedung dimana keluarga Lafont mengadakan acara. Ketika ia sampai didepannya, Dominic memeluk Jeanne lalu mencium ringan kedua pipi ibunya tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Dominic," Jeanne tahu mengenai fakta bahwa mereka tidak dekat, namun ia sangat merindukan putra yang menjauhinya hampir satu dekade jadi ia tidak melepaskan pelukan mereka begitu saja. Air matanya hampir menggenang saat menyadari banyak perubahan yang ia lewatkan dari putranya sendiri. Ia baru tahu tinggi Dominic membuat pria itu sedikit menurunkan tubuhnya saat mereka berpelukan, ia juga baru tahu rambutnya, aromanya, segala hal tentang Dominic adalah baru untuknya. "Maman," Jeanne hampir tidak percaya ia mengucapkan kata itu, sembari mengendurkan pelukan mereka, "Tu me manques beaucoup." (1)
Dominic tidak membalasnya dengan hal yang sama, "Ça fait un bail qu'on ne š'est pas vus, Maman." (2)
Jeanne seolah melupakan fakta bahwa mereka ada di basement dan dikelilingi oleh ajudan mereka. "Kamu tumbuh dengan baik," Ragu-ragu Jeanne ingin menyentuh pipi Dominic, namun ketika dengan sengaja Dominic menghindar halus ia kemudian mengurungkan niatnya. "Merci d'être venu avec moi." (3)
Hal selanjutnya yang terjadi adalah hal yang diimpikan oleh Jeanne, ketika Dominic membuka pintu belakang mobil untuknya, ia tersenyum lagi bahkan hampir selama perjalanan mereka. Kadangkala ia akan menatap Dominic, berkata beberapa hal walau putranya menanggapi dengan singkat. Rasa kecewa sikap dingin oleh Dominic tertutupi oleh rasa senangnya sebagai seorang ibu.
Kini ketika ia dikelilingi oleh orang-orang sulit bagi dirinya untuk menahan agar tidak berkali-kali memastikan bahwa Dominic masih ada dijangkauan matanya. Makan malam akan dimulai setengah jam lagi sebelum acara pelelangan benda seni, entah sudah berapa kali ia hampir melamun andai ajudannya tidak menyentuh sikunya, mengingatkan nama-nama orang yang menyapanya terlebih dulu.
Lima menit, ia gunakan untuk berbicara dengan adik Pieter Lafont yang datang bersama dengan kolega pria dari Belgia, Jeanne hampir tersentak saat ia menyadari sesuatu. "Dimana Dominic?" bisiknya kepada ajudan yang berada disampingnya.
"Maman?" Dominic baru saja mengambil dua minuman, salah satunya ia berikan kepada Jeanne yang masih tidak bisa mengalihkan pandangan. "Sedikit ingat tapi sepertinya aku pernah minum ini," ia mengangkat gelas cocktail yang ada ditangannya. "Aku tidak ingat dimana aku pernah meminumnya, somewhere in the palace maybe?"
Jeanne mengenal cocktail yang dibawa Dominic. "Family's signature, things like that. Dulu kamu dan Allesia sering bermain bersama jadi tidak menutup kemungkinan kalau kamu pernah mencoba cocktail mereka."
"Ya?" Dominic tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum tipis. "Keluarga kita dan Lafont sangat dekat sepertinya, sudah berapa acara yang Maman datangi hingga tahu minuman yang mereka sajikan?"
...
"Maman, seseorang menungguku disana," Dominic menunjuk sebuah sudut ruangan, mengabaikan Jeanne yang masih tidak mengeluarkan suara. "Allesia membawa koleganya dari Amerika jadi aku perlu menyapa mereka."
"T-tunggu Maman–"
Dominic mendekat, memiringkan kepalanya untuk berbicara dengan pelan agar hanya Jeanne yang dapat mendengarnya. "Adik Paman Pieter masih ingin berbicara dengan Maman. Aku tidak bagus saat berbasa-basi. Setidaknya beritahu Paman Pieter kalau nanti kalian berbicara – bahwa aku pulang ke Prancis. Aku juga tidak sabar berbicara dengannya, Maman."
KAMU SEDANG MEMBACA
Endless Lullaby
Chick-LitEndless Lullaby | Mint Series #1 © 2020 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
