"Baik akan saya mulai." Lena Fawnia menggeser slide presentasinya, "Seperti yang kita tahu ini adalah kesekian kalinya DIc'I menggunakan dark concept. Beberapa bulan lagi kita juga akan memperingati ulang tahun Pacific Fashion. Minggu kemarin juga Ibu Charleen sudah menyetujui event employee gathering sebagai pembukaan dan corporate gala dinner sebagai penutupan."
"Untuk Mbak Gabrina, kami usul untuk diadakan special gift kepada lima ratus pelanggan se-Indonesia."
Gabrina mengangguk kecil dan ia menunggu Lena melanjutkan penjelasannya, "Selama ini Pacific selalu menggunakan tag berisi barcode yang bisa dipindai oleh konsumen untuk menguji originalitas dan legality produk, Mbak Gabrina. Kita akan memilih secara random lima ratus tag itu selama masa pre-order dan produksi massal sebulan kedepannya. We will separate the release dan memulai pengiriman special gift saat acara pre-release kolaborasi brand Dic'I dan brand parfum selesai, yang artinya klaim hadiah akan dimulai empat bulan setelahnya. Topik dan antusiasme bisa bertahan dalam jangka waktu itu, pembelian produk akan meningkat dan ini memberi keuntungan. Tentu kita akan memberi pengumuman resmi di website dan media sosial."
"Special gift ini berisi unreleased item dari Atha dan Gabrina. We'll think through the list once you approve this one."
Ketika Lena menyelesaikan penjelasannya Gabrina segera bertanya, "Lima ratus special gift hanya mengandalkan satu series saya tanpa ada desain dari Atha? Too much risk, I think."
"Saya kira pengalaman dan karya-karya Anda selama ini tidak seharusnya menghalangi momentum seperti ini ketika kita sendiri membutuhkannya, Mbak Gabrina. Kesempatan tidak datang dua kali dan juga, kenapa Anda harus khawatir kalau pada akhirnya milik Anda yang akan dijadikan center of Dic'I tahun ini? Series dari Anda selalu sold out – we can see the potential."
Lena mengamati wanita disampingnya yang terdiam. Ia kemudian menghela napas panjang. Lebih dari satu dekade ia berada di bidang ini dan respon Gabrina yang terlihat ragu-ragu sudah biasa ia lihat sejak ia bergabung di Pacific. The unreachable woman.
"Biar saya pahami dulu ini," Gabrina menunjuk ke slide didepan mereka. "Boleh?"
"Tentu saja, setelah ini saya akan kirim materinya kepada Anda. Saya butuh kepastian dua hari lagi bisa, Mbak Gabrina?" tanya Lena dan ia mendapati wanita didepannya mengangguk.
Seseorang masuk ke ruangan mereka, staf Lena membawa dua kopi dingin untuk mereka berdua. Meeting room yang mereka tempati berada di dua lantai dibawah ruangan Gabrina. Berkapasitas kecil tanpa meja panjang, hanya sofa-sofa dan sebuah meja kopi di tengah. Lena kemudian mencoba mencairkan suasana, "Mbak Gabrina apa tidak berniat untuk melanjutkan series Black Fire tiga tahun lalu?"
Gabrina menoleh dan ia mengangkat sebelah alisnya sebelum menggeleng. Tidak ragu sama sekali.
"Sayang sekali, padahal saya ingat walau topiknya menjadi controversial tetapi banyak juga yang terkesan, all item sold out, bukan?"
"Tidak boleh dan tidak bisa, Bu Lena."
"Kenapa?"
Gabrina menatap Lena setelah ia selesai meminum kopinya, "Tagline seriesnya adalah akhir dari segalanya. Tidak mungkin bukan ada sesuatu setelah penderitaan dan kehancuran?"
"Kenapa ... tidak? Jadi menurut Mbak Gabrina, sama sekali tidak ada?"
"Sesuai takdir, Bu Lena. Yang namanya kehancuran memang seperti itu. I pointed out the destruction."
____
"Astaga!" Gabrina terkejut setengah berteriak ketika ia melihat bayangan pria yang mendekatinya secara tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Endless Lullaby
Literatura KobiecaEndless Lullaby | Mint Series #1 © 2020 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
