#73# - Seventy Three

946 130 3
                                        

49/99 Again, I still like hear her voice say my name, even it's 'Pak' Dominic.

50/99 She just found out that I was her boss's brother.

51/99 She assumes that our conversation just a business.

____

Gabrina turun dari mobil yang ia naiki setelah seorang pria membuka pintu mobil penumpang untuknya - walau ia bisa membuka pintu mobil itu sendiri tetapi apa yang dilakukan pria itu semata-mata untuk mematuhi perintah pemilik rumah yang Gabrina kunjungi saat ini. Ia kemudian mengalungkan tali tasnya di bahu dan berjalan masuk kedalam - ia berusaha terlihat tidak lelah setelah dua hari berturut-turut berada di kantor tanpa pulang ke rumahnya sendiri dan menepati janji untuk sarapan bersama seseorang yang mungkin sekarang sedang menghabiskan waktunya di ruang keluarga.

Abraham Roelof Prasetjana - ayah dari ibunya, tengah mengangkat kepala dan berusaha melihat dengan baik walau ia memakai kacamata karena penglihatannya yang rabun.

"Gabrina, apa itu kamu?"

"Ya, aku disini." Gabrina menjawab sembari berjalan, sementara Abraham kemudian meletakkan majalah perkebunan yang ia baca ke meja yang ada didepannya. Dua belas bulan terakhir Abraham suka dengan kegiatan berkebun dan ia menggunakan waktunya selama sepuluh menit di setiap pagi dengan membaca majalah yang berkaitan dengan bidang yang sedang ia tekuni.

Ia melihat Gabrina dari bawah hingga atas saat wanita itu berdiri didepannya. Pagi ini penampilan Gabrina rapi dengan sebuah blus putih dan rok selutut berwarna hitam tetapi ia bisa melihat kantung mata samar yang ada di wajahnya meski tertutupi oleh riasan sederhana. "Aku senang melihatmu, Gabrina. Apa kamu baru lembur?"

"Well, I'm alive."

Abraham kemudian tertawa kecil dan berdiri, mengajak Gabrina ke taman dimana para asisten rumah telah menyiapkan makanan untuk sarapan mereka. Begitu susah untuk meminta Gabrina datang menemuinya jadi ia sangat bersyukur ketika wanita itu datang di sela-sela kesibukannya.

Abraham Roelof Prasetjana - generasi kedua dari Prasetjana dan pemilik perusahaan konglomerasi multinasional yang memiliki nilai valuasi lebih dari seribu trilliun rupiah dan memiliki kantor pusat di Jakarta telah mundur dari jabatannya sebagai chief executive sejak empat tahun lalu, menyisakan jabatannya sebagai board member dari Atlas International Corporation.

Gabrina berjalan disisi kakeknya, "Sepertinya Anda terlihat baik," katanya dengan datar karena satu-satunya alasan ia berada disini adalah karena seseorang memberitahu bahwa kesehatan Abraham semakin menurun dan berulang kali memanggil namanya.

"Hari ini aku merasa baik karena cucuku mau datang kesini." Abraham menjawabnya dengan tenang dan tidak tersinggung dengan nada datar Gabrina karena ia memaklumi canggungnya interaksi mereka. "Dan aku rasa akan lebih baik jika ia mau menemani pria tua ini berkebun."

"Hanya sarapan."

"Ya, aku tahu kamu sangat sibuk dengan pekerjaan kamu. Sayang sekali karena aku akan kembali sendirian di rumah ini."

Abraham Roelof Prasetjana, menemukan cucunya yang hilang setelah bertahun-tahun mencarinya walau mereka baru bertemu tujuh bulan setelah istrinya meninggal. Ibu panti yang selama ini mengurus Gabrina berhasil mencari tahu tentang garis keluarga Amyla dan memberikan info tersebut kepadanya. Abraham kemudian menemui Gabrina dan memerlukan waktu diantara mereka untuk melakukan serangkaian tes genetika, yang benar-benar membuktikan bahwa Gabrina adalah anak kandung dari Amyla - putrinya.

Keduanya duduk berseberangan di meja bundar berwarna putih dengan pemandangan berbagai tanaman dihadapan mereka. Gabrina menuangkan air putih untuk dirinya sendiri disaat asisten meletakkan susu nabati dihadapan Abraham. "Aku dengar kamu baru saja berlibur?"

Endless LullabyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang