" .. bagus bukan..."
"... mengingatkanku kepada... "
Dua manusia tersebut berhenti. Dari balik kacamata hitamnya, Gabrina melihat Adam bersembunyi dibalik meja dan kursi yang disusun sedemikian rupa untuk menyembunyikan alat-alat yang disiapkan untuk sore ini. Mereka bertiga – berempat, jika Gabrina juga menghitung Adam – sejak kemarin tengah berada di villa pribadi milik keluarga Benedict di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Tiga hari mereka mempersiapkannya segalanya atas permintaan Benedict yang ingin menciptakan momen untuknya dengan Fanny. Kini dua manusia tersebut berhenti, pria itu menunjukkan sebuah dermaga yang sudah dikosongkan. Dari tempatnya berdiri ia bisa mendengar pekikan Fanny setelah Benedict berbisik sesuatu ditelinganya, Fanny berlari kecil seolah tidak sabar sementara Benedict memasukkan sebelah tangannya ke saku dan satu tangannya yang lain memegang tangan Fanny. Langit senja sedang menunjukkan eksitensi, matahari akan terbenam dan tempat terbaik untuk melihatnya adalah dermaga kayu tersebut. Ketika dua manusia itu duduk diujung dermaga dengan kaki menjuntai, Gabrina segera keluar dari gazebo tempatnya mengawasi dan berjalan berlawanan kebawah dermaga.
Tujuh langkah, suara bising dari udara mengagetkannya. Sebuah helikopter terbang merendah ketika mendekati pulau tersebut. Gabrina mengasumsikan dua vila lainnya yang ada di pulau ini juga sedang dikunjungi oleh orang lain. Tidak apa, batinnya berkata demikian sembari melirik helikopter yang masih terbang. Selalu ada hal sial dalam rencana penting.
Pandangan Gabrina kembali teralih ke pasangan didepannya. Lima belas menit lagi tugasnya harus dilakukan sementara matahari didepannya terlihat sangat indah. Gabrina menggigit bibirnya sendiri, ia ingin menikmati momen ini di balkon villa dengan kursi santai sehingga ia bisa menyaksikan keindahan alam tersebut hingga tuntas. Ia melanjutkan langkah, mengurangi kecepatan saat turun ke bawah dermaga dimana ia akan melaksanakan perannya. Lima menit waktu yang ia perlukan untuk sampai ditempatnya, kini ia harus menunggu telepon dari Adam. Matanya mengawasi benda-benda didepannya sementara tangannya memainkan pemantik api. Ia menjatuhkan pantatnya keatas pasir, duduk dengan memeluk lutut setelah mencari tempat paling aman untuk mengawasi pasangan diatasnya dan benda-benda didepannya. Kepalanya miring, menikmati suara angin dan ombak. Ia bermaksud untuk berbalik memeriksa apakah ia bisa melihat Adam dari tempatnya duduk, namun seseorang berjalan dengan tatapan lurus kepadanya.
"Dominic?" Gabrina menyipitkan mata. ia ingin berteriak namun urung saat khawatir suaranya akan mengejutkan orang lain walau ia juga yakin suaranya akan kalah oleh angin dan ombak. Ia menunggu dan melihat bagaimana pria itu berjalan kearahnya. Rambut Dominic tertiup angin juga kemeja putih tiga perempatnya. "Apa yang kamu lakukan disini?"
"It's not a surprise when I tell you." Suara Dominic sangat dirindukan oleh Gabrina. Kemudian yang membuatnya terkejut adalah ketika pria itu tidak ragu mendekatkan bibirnya ke bibir Gabrina, tangannya menangkup pipi wanita tersebut dan menariknya lembut, menciumnya dengan penuh kerinduan. Ada rasa tidak rela ketika ia harus mengakhiri ciuman tersebut. Ketika ia memundurkan wajahnya mata Gabrina membuka. "I'm serious, hanya ada tiga vila di pulau ini. Tunggu–" Gabrina menyadari sesuatu. "Helikopter tadi, itu kamu?"
"Lamaran Benedict bukan satu-satunya kejutan disini. So Miss Prasetjana, how are you doing?" tanpa Gabrina sadari satu dari dua pemantik api yang awalnya ia pegang berpindah ke tangan Dominic. Pipinya memerah, "Kamu kenal Benedict?"
"Kalau aku tidak mengenalnya bagaimana aku bisa disini?" Sebelah alis Dominic terangkat.
"Dominic aku serius."
"I assumed you wait for my presence."
"Tidak di pantai dimana Benedict akan melamar Fanny – bayanganku tidak sejauh itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Endless Lullaby
ChickLitEndless Lullaby | Mint Series #1 © 2020 Grenatalie. Seluruh hak cipta.
